Kenduri dalam Kacamata Syariat

Kenduri adalah sebuah tradisi dalam masyarakat jawa yang juga biasa disebut genduren. Acara ini diadakan ketika ada orang meninggal, syukuran, slametan, pernikahan, dan lain sebagainya.

Sang pemilik hajat biasanya akan meminta warga untuk datang dengan mendatangi rumah mereka satu per satu. “Kang, maaf nanti bakda Isya tolong datang kenduri di tempat saya nggih. Ini ada syukuran anak saya”, ujar salah seorang warga.

Baca Juga :

Kenduri Peringatan Maulid Nabi

Warga yang diundang biasanya adalah satu RT. Setelah berkumpul, dibuka oleh MC lalu disampaikan ada hajat apa, zikir bersama, dan akhirnya ditutup dengan doa oleh salah seorang kiai. Setelah selesai berdoa, warga diminta untuk membawa pulang nasi berkat yang sudah disediakan.

Indah bukan ? Menyambung silaturahmi ada, zikir ada, doa ada, bahkan sedekah pun ada. Lantas, apa yang dipermasalahkan ? Tapi kan tidak ada di jaman nabi. Lah iya, genduren itu bahasa Jawa, bahkan sampai sekarang pun di Arab juga ndak ada. Tapi, silaturahminya kan ada, zikirnya kan ada.

Bukankah substansinya ada semua di zaman nabi? Apakah hanya namanya saja yang dipermasalahkan? Ya udah wis ganti nama, jangan genduren, tapi sedekahan aja biar lebih Arab. Cuma masalah nama kok diributkan.

Penulis, ini judulnya dalam kacamata syariat kok isinya cuma pendapat penulis saja, mana dalilnya ? Ndak percaya saya jika ndak ada dalilnya.

Ya, jujur penulis memang jarang menggunakan judul-judul seperti ini, bukan karena anti dalil, tapi karena penulis sudah terlanjur yakin tanpa ragu apa yang penulis lakukan sudah berdalil. Namun, itu semua mulai berubah sejak virus bidah menyerang.

Apa dalil tradisi membagikan makanan adalah tradisi Islam?

عن عبدالله بن عمرو أنّ رجلا سأل انّبيّ : أيّ الإسلام خير قال : تطعم الطعام، وتقرأ السّلام على من عرفت ومن لم تعرف. (رواه البخاري)

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi SAW “Islam apakah yang paling baik?” Nabi menjawab: “Kamu memberikan makanan dan menyampaikan salam kepada orang yang kamu kenal maupun tidak”, (HR Bukhari).

عن عبدالله بن رباح قال : وفدنا إلى معاوية بن أبي سفيان وفينا أبو هريرة. فكان كلّ رجل منّا يصنع طعاما يوما لأصحابه، فكانت نوبتى. فقلت: يا أبا هريرة اليوم نوبتى. فجاءواإلى المنزل ولم يدرك طعامنا. فقلت: يا أبا هريرة، لو حدّثتنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم حتّى يدرك طعامنا. فقال : كنّا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الفتح.(رواه مسلم)

“Abdullah bin Rabah berkata: “Kami bertamu ke Muawiyah bin Abi Sufyan. Di antara kami ada Abu Hurairah. Masing-masing kami membuat makanan sehari untuk lara sahabat. Maka giliran saya, saya berkata:” Wahyu Abu Hurairah, hari ini giliran saya”. Mereka datang ke tempat kami namun makanan belum ada. Maka saya berkata: “Wahai Abu Hurairah, sudilah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah saw sampai ada makanan untuk kami.” Lalu Abu Hurairah berkisah tentang penaklukan kota Makkah. (HR Muslim)

Tapi kan ini hadits yang berlaku umum?

Lho bukannya dalil yang kullu bid’atin dlolalah juga umum?
Hadits ini pun di riwayatkan Bukhari dan Muslim. Namun, kenapa yang dipakai hanya dalil itu saja?

Semoga setelah tahu dalil nya tidak ada lagi yang menurut bid’ah dan sesat. Namun, jikalau masih ada yang bersikukuh dalam menuduh menuduh padahal sudah jelas dan nyata landasannya, ya sudah terserah, saya sudahi sajalah. Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya. Yang sebenarnya dikau cari itu kebenaran atau kemenangan?

(Dalil diambil dari buku Khazanah Aswaja oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!