Kenapa Lambang Bintang NU Berjumlah 9?

Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia dan bahkan sudah dikenal di berbagai negara belahan dunia. Nahdlatul Ulama sendiri berhaluan Ahlussunnah wal jamaah yang menetapkan suatu hukum pada 4 pedoman yaitu Alquran, hadis, ijma’ dan qiyas. Apa yang bisa membuat NU bisa diterima di berbagai dunia? Hal apa yang menarik pada NU?

NU sendiri memiliki sikap tawasut yang artinya toleran terhadap umat yang lain, serta mempuyai sikap tasamuh (moderat) dan tidak ekstrem atau radikal, sikap inilah yang bisa membuat NU diterima di berbagai kalangan dunia. NU di Indonesia sudah menjadi bagian terpenting yaitu sebagi benteng NKRI, karena prinsip NU tetap menjadikan Indonesia sebagai Darussalam yang berasazkan pada Pancasila dan bhineka tunggal ika. NU menjadi salah satu Organisasi yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui Resolusi Jihad pada tanggal 22 oktober 1945 yang di pimpin langsung oleh Hadratussyaikh Kh. Hasyim asy’ari, dan sampai saat ini tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Ada banyak cara agar bisa menjadi warga NU seutuhnya, yaitu melalui cara identifikasi amaliyah sebagai Ahlussunnah wal jamaah ala NU harus ditanamkan di masyarakat dan juga menjadi salah satu jamiyah NU dengan menggunakan database jamiyah NU agar tidak mudah dicuri oleh orang lain. Hal ini disampaikan oleh Gus Nurudin Amin S.Ag, dari Jepara pada acara Dialog budaya dengan tema “Refleksi juang NU dari masa ke masa” di SMK Al-Falah Moga kec. Moga, Kab. Pemalang, Jawa Tengah (12/06/2019). Demikian juga Yang di sampaikan oleh Rais Aam PBNU, KH. Miftakhul Akhyar “Jadilah warga nahdliyin yang bukan disebut jamaah NU tapi juga sebagai jamiyah yang mengerti aturan, AD-ART dan tata tertib sehingga ia mampu membedakan mana kelompok-kelompok murni sehingga tidak ikut ikutan kesana kemari dan akhirnya menjadi terpecah pecah.”

Baca Juga: Barakallahu fi Umrik Nahdlatul Ulama

Orang yang mengikuti jamiyah NU ia akan mengerti sejarah NU sampai ke akar-akarnya. Mereka juga tahu sikap-sikap sebagai warga NU, amaliyah NU, dan juga tokoh-tokoh NU. Dibanding dengan orang yang hanya disebut jamaah NU, dan kebanyakan dari jamah NU mudah sekali dipengaruhi, terhasut dengan isu isu yang ingin memecah belah NU.

Mungkin tidak asing lagi bagi kita sabagai warga NU dengan lambang bintang pada logo NU yang berjumlah 9. Biasanya kita mengartikanya satu persatu dari lambang tersebut, yaitu satu bintang besar dilambangkan sebagi Nabi Muhammad SAW, 4 bintang di atas melambangkan 4 khulafaur-rosyidin dan 4 bintang di bawah melambangkan 4 madzhab. Namun siapa sangka bahwa angka 9 memiliki keunikan tersendiri? Tanpa kita ketahui bahwa angka 9 adalah angka yang paling kuat dan angka yang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan angka-angka yang lain. Anda bisa membuktikannya dengan seperti 9×1=9, 9×2=18 angka 18 terdiri dari angka 1 dan 8 , jika keduanya dijumlahkan menjadi 9, 9×3=27, angka 2 dan 7 ketika di jumlahkan menjadi 9 dan seterunya anda bisa mencoba sendiri. Dibandingkan dengan angka lain seperti angka 8 anda bisa mengeceknya sendiri dengan cara seperti tadi.

Bagaimana hasilnya? Angka 9 ini juga bisa dilambangkan sebagi Walisongo, karena walisongo menjadi tokoh-tokoh yang turut memberikan andil besar dalam menyebarkan Islam ahlussunah wal jamaah di Indonesia. Penyebaran Islam ala walisongo ini tidak pernah meninggalkan ciri khas budaya Indonesia sendiri terutama di daerah Jawa. Seperti penggunaan kata langgar sebagai pengganti kata masjid, kalimosodo sebagi kalimat syahadat, sembahyang pengganti salat, dan lain-lain. Hal ini bertujuan agar Islam di Indonesia mudah diterima oleh masyarakat Indonesia di berbagai kalangan. Dan angka 9 ini juga bisa dilambangkan sebagai tokoh pengurus besar NU yaitu, KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Jombang, KH. Bisri Sansoeri (1886-1962) Jombang, KH. Ridwan Abdullah (1884-1962) Semarang, KH. Asnawai (1861-1959) Kudus, KH. Ma’sum (1870-1972) Lasem, KH. Nawawi Pasuruan, KH. Nahrowi Malang, dan KH. Alwi Abdul Aziz Surabaya.


Nur Azizah – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!