Categories: opiniSimponi

Kenapa Aku Cinta NU?!

Share

Tulisan ini (aku cinta NU) mencuat atas dasar pertanyaan dan prasangka kawan-kawanku yang “islami”. Menasehatiku dan mengajari beberapa kutipan hadis. Setelah saya menjelaskan beberapa hal terkait agama, dahinya mengkerut dan wajahnya sedikit menunduk. Mungkin dalam hati mereka, “Agama itu luas ya”. Dan dalam hati saya berkata, “Sangat amat luas”. Akhirnya kami bisa mendiskusikan banyak hal dengan secangkir kopi dan beberapa sebat rokok mild.

Kenapa aku cinta NU? Dulu, aku sangat rapat menyembunyikan identitas sebagai Nahdliyin. Apalagi masa sekolah, yang dari guru bisa menggiring opini muridnya. Sedangkan teman sebaya menjadi ahli agama lantaran mendengar suara racau radio seberang. Mereka mendakwah setiap saat. Aku takut, sangat ketakutan. Apalagi jika nanti ditanya seputar dalil agama dan seluk beluk NU. Kalau boleh mengibaratkan, sewaktu sekolah NU itu semacam papan yang siap dihujam oleh beberapa anak panah. Mungkin kisah ini bakal bertolak belakang jika saya tinggal di kawasan pesisir atau Jawa Timur atau minimal di daerah tersebut tersebar beberapa pondok pesantren. Nah, tempatku begitu gersang rumput dan pohon-pohon rindang nan hijau.

Namun sekarang, dengan senyum ramah, aku siap untuk berjuang membela NU. Emang sudah bisa ndalil? Sudah baca beberapa buku/ kitab. Kalau lupa atau belum dipelajari kan tinggal buka website yang hijau-hijau. Beres sudah semua masalah. Masak? Yaelah, NU itu kalau membuat amalan atau amaliyah sudah jelas dasarnya. Ulama tulen, tanpa sedikit pun niat ingin populer atau dapat bayaran yang melimpah. Para ulama NU itu, yang penting ibadah. Disuruh membahas fikih yang penting ada kopi sama rokok ya langsung jadi.

Buktinya, sekarang beberapa tuduhan soal iktilafiyah sudah perlahan hening. Mau diserang dengan jurus abal-abal tetap saja kokoh (read: bukan kokoh Felix). Setelahnya? Mereka merumuskan masalah, tentang taktik dan teknik menghancurkan NU. Kok selalu NU? Yaiyalah… NU itu yang paling getol menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Sedangkan yang lain ingin mengubah menjadi khilafah. Lhah khilafah itu kan baik? Namanya aja islami banget?!

Dulu kalau diruntut semasa kecil, lingkunganku itu bernuansa Muhammadiyah. Apalagi sejak radio mulai menyerang, para ahli surga sudah getol memerangi NU. Nah, jiwa ke-NU-anku lahir sejak ada ulama dari tanah wali (Demak), menetap dan mengajarkan agama di lingkunganku. Ya, kalau orang Bani Israil (keras kepala), mungkin kiai-ku itu dianggap sebagai penjajah. Datang ke suatu tempat dan mengubah akidah seseorang.

Kalau orang yang berfikiran waras, tentu akan sebaliknya. Karena yang diajarkan itu selaras dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Mulai dair kenduri/ bancakan, ziarah kubur, tirakatan, dan banyak aktifitas lain. Itulah menarik dan uniknya NU. Berdakwah tapi tetap membuat nyaman hati semua kalangan.

Itu kan syirik? Musyrik? Bidah?

Dulu awalnya sih, agak kurang yakin dengan NU setelah berbagai tuduhan. Tapi kemudian saya belajar, “Masak iya, ulama-ulama NU dakwah mengajarkan kesesatan?”. Mulailah saya giat mempelajari seluk beluk semua aliran. Dari MTA, LDII, Muhammadiyah, dan NU. Sudah dewasa mulai lebih luas lagi mulai dari Nahdlatul Waton, Persis, HTI, Wahabbi dan lain-lain. Belajar sejarah islam dan konsep setiap aliran yang ditawarkan. Hasilnya? SAYA SEMAKIN YAKIN SAMA NU.

Lha kok? Prinsipnya satu, Semakin banyak ilmu, maka kamu akan semakin toleran. Kalau dilihat dari isu dan kondisi setiap agama, NU selalu nampak begitu toleran. Makanya kalau ada oknum NU yang tidak toleran juga agak kurang sreg di hatiku. Tapi bukan berarti mereka juga salah, toh setiap kejadian pasti ada kausalitas yang mengiringi.

Silahkan direnungkan kembali, ketika para ulama NU sering mengislamkan orang kafir, kenapa yang lain malah mengkafirkan orang Islam. Ketika NU semangat memperjuangkan persatuan bangsa, kenapa malah mendukung oknum yang ingin memecah belah umat berbangsa. Ketika NU menghormati prinsip dan pendapat orang lain, kenapa oknum lain malah membenci dan mencaci ulama NU.

Salam cinta dari pemuja rahasiamu, Nahdlatul Ulama…


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU