Categories: kolase

Kembang Sunyi

Share

Namines merenung. Bersama – kembang sunyi. Kelabu mengiring jiwanya yang abu-abu. Ketika manusia mulai sadar ketakutan akan mati, berarti mereka sudah siap untuk berani kepada hidup.

Tuhan-tuhan itu mulai menguasai dirinya. Tuhan yang tidak benar-benar tuhan dan dirinya yang tidak benar-benar dirinya. Semua serba semu. Kehendak yang mulai menggerus segala hati dan pikiran. Tuhan menjelma menjadi bayang-bayang. Semalam. Gelap mulai membungkus terang.

“Kopi….”, tawar seorang wanita berpasar cantik dan lembut.

Bagaimana bisa merasakan pait kopi ketika gula masih begitu lekat menyebarkan virus dan candunya. Wajar manusia selalu gelisah ketika sunyi mulai mengembang. Berkecamuk kumpulan masalah, kenangan penyesalan, dan jutaan harapan yang menggantung di mega-mega.

“Iya, kita selalu merasa kehilangan, sedangkan kita tidak pernah mendapatkan”

“Ilusi?”

Dalam kesunyian di antara pekat malam, kembang masih menari dan berayun dalam alunan semilir angin. Memantul sedikit semerbak harum dari sinar rembulan. Berpesan, betapa kiasnya hidup yang sepertinya indah, namun sepi. Bulan yang tidak pernah diucap terimakasih oleh semesta meskipun mengorbankan seluruh tubuhnya dari panas sinar mentari. Hanya-demi menerangi nurani manusia yang terlampau mengeras hati.

Sunyi ini kembali terkembang. Menjelma menjadi bising kendaraan bermotor, mendesis suara jangkrik, meremang bersama lampu merkuri. Sunyi akan selalu menggantung, mununggu suasana ramai punuh intrik dari manusia-manusia pemuja kehendak. Dianggapnya dunia yang penuh segalanya, sampai sepanjang hari pikiran selalu ramai dan hati selalu sesak dengan capaian, harapan, dan pengakuan untuk menjadi yang terbaik di antara yang lain.

“sifat Tuhan?”

Manusia sudah mulai lupa, bahwasanya dia sedang tidak beriman. Bagaimana sempat kita merencanakan, sedangkan semua sudah tertulis indah sejak sedia kala. Ah, terjebak pada nafsu-nafsu samar. Manusia harus kembali menepi, sunyi. Menghujat diri sampai bekas kehadirannya tidak sampai mendompleng nama Tuhan sang jagat sejati.

Sunyi memberi banyak pilihan. Mengikhlaskan segala bentuk penyesalan. Menyederhanakan konsep pengharapan. Manusia hidup untuk mati, dan mati untuk hidup. Dalam sunyi raga menjadi mati tapi nurani begitu hidup. Dimanapun tempat, tatkala manusia bisa menghakekati sunyi, kemudian mengembangkan dalam diksi-diksi puisi. Malaikat akan bercerita tentang menipunya lakon dalam kisah kehidupan manusia.

Larut, sampai buta manusia mengagungkan pemikirannya. Keyakinan seolah hanya milik seorang, sedangkan semua orang mempunyai keyakinan – kepercayaan. Mereka yang tidak sempat menikmati sunyi akhirnya cenderung memaksakan keyakinannya. Entah bagaimana Tuhan tersenyum melihat hamba-hamba yang diperbudak nafsu untuk berkuasa kepada lainnya.

Baca Juga: Menghujani Batu

“Oh, Tuhan yang Maha Walas Asih…. Jika sunyi bisa mengobati, hilangkan ramai yang membuat kami menjadi pesakitan”

“Nikmati segala bentuk adegan dalam hidupmu. Tuhan sudah mengatur alur sebelum kamu tahu arti sunyi. Monolog saat sendiri, dialog saat berdua, dan berkonflik saat melibatkan banyak manusia.”

Sunyi kesekian, menyadarkan kembali bahwa hidup tiada akan pernah abadi. Tapi satu yang akan tetap terkenang. Belas kasih kepada sesama. Kebaktian dan karya berlandaskan sikap penuh cinta yang menjadi buah tangan untuk cerita manusia baik di surga.

“Kita lupa membahas kopi”

“Bagaimana kamu bisa menghargai kopi, ketika sunyi begitu mendamaikan jiwamu. Bergelutlah dengan keadaanmu saat ini, bergumullah dengan Kekasihmu. Kelak, kamu akan mengerti kehadiran kopi untuk menemanimu berinspirasi dan berintuisi. Kepada mati.”

Namines, melangkah pelan ke kebun. Memetik satu kembang. Berwarna kuning, tidak cerah karena diselimuti suasana petang. Diletakkan setangkai kembang di sela kuping gadis itu.

“Andai setiap pagi, siang, sore, dan malam yang kutemui manusia seperti dirimu. Alangkah suburnya dunia ini. Anggun dan murah senyum”

“Bukankah sudah demikian?”

“Tidak. Entah. Aku merasa semua orang sudah kehilangan rasa mencintai. Satu persatu yang ditampakkan hanya raut kebencian. Tidak memandang status dan identitas, semua lihai menghujat. Duniaku selalu terasa panas meski matahari sedang tertidur.”

“Maka jadilah yang mendinginkan. Menebarkan senyum. Karena masa sekarang sudah banyak kehilangan cinta. Hanya untuk seorang, sedangkan Tuhan mengajarkan cinta untuk ke semua alam. Jika ada perasaan benci dalam dirimu, menepilah dalam sunyi. Jika muncul perasaan cinta dalam dirimu, sebarkan kepada semua orang agar mereka paham bahwa cinta akan selalu menyatukan kepada sang Illahi”

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan” )


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU