Categories: LiputanSimponi

Kembali dari Hijrah

Share

Namaku adalah Noor. Aku adalah salah seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Yogyakarta jurusan kesehatan. Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren. Mulai dari TK hingga SD aku sering mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren, termasuk kakak dan adikku. Ayahku dulu adalah salah seorang pengurus masjid yang sebenarnya cukup terkenal di daerah Yogyakarta.

Hari-hari berlalu hingga akhirnya membawaku menuju jenjang SMP dan akhirnya meneruskan pendidikan di salah satu SMA yang cukup favorit di kota Yogyakarta. Mulai sejak SMP aku sudah sangat jarang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren karena memang begitu banyaknya kegiatan di sekolah. Meskipun aku berada di daerah pondok, namun entah saat itu tak ada ketertarikan untuk belajar agama secara mendetail. Ya mungkin karena masih anak-anak sehingga belum memikirkan sesuatu secara detail. Di mana ada kesenangan bersama teman, maka di sanalah aku akan tinggal. Apalagi kegiatan pondok memang cukup menyenangkan, meskipun tidak begitu paham untuk apa, yang penting bahagia karena berjumpa teman sebaya.

Perjalananku yang sesungguhnya di mulai ketika memasuki masa SMA, khususnya dalam mencari jati diri. Di sini aku mulai mempunyai teman dari berbagai daerah di luar Jogja dan tentunya dengan beragam sifat dan kebudayaan. Awalnya aku masih sama seperti saat SMP. Namun, karena banyak temanku yang bergabung dengan kerohanian Islam, aku mulai sering bercengkrama dan berdiskusi masalah agama. Pikiranku mulai tergerak untuk membandingkan ilmu agama yang telah aku peroleh dari masa kecil dengan apa yang aku rasakan saat SMA ini.

“Kenapa dulu aku melakukan ini ? Mana dalilnya? (baca: Tradisi-tradisi NU)”. Kembali lagi kepada masalah klasik. Aku mulai malu jika mengakui ada keluargaku yang masih melaksanakan semua tradisi tersebut. Selain dibilang kuno, aku juga takut bila nanti ditanya mana dalilnya dan aku tak bisa menjawab. “Bukankah hal ini tak ada pada jaman Nabi?” Aduh, mati aku. Mau menjawab iya, otomatis aku akan meninggalkannya dan berbeda pandangan dengan keluargaku. Namun jika aku jawab tidak, aku tidak bisa membuktikannya. Apalagi jikalau yang mengajukan pertanyaan tersebut adalah mentorku yang saat itu memang ku anggap memiliki ilmu yang lebih luas dibandingkan diriku ini.

Semakin lama aku semakin tidak sreg dengan kegiatan yang ada di pondok karena memang aku lebih banyak menghabiskan waktu di SMA dan kos-kosan. Mengingat jarak rumahku yang cukup jauh, maka sangat jarang aku pulang ke rumah apalagi mengikuti kegiatan pondok seperti masa kecilku. Lengkap sudah kegiatan agamaku di SMA ini, mulai dari belajar ilmu agama dari mentor, masuk grup whatsapp dengan broadcast seabreg dipenuhi dalil-dalil yang entah itu benar atau tidak, yang penting Arab, hingga menjadi mentor yang mengajarkan apa yang dulu sudah diajarkan. Tak pernah lagi berkomunikasi dengan orang tua perihal agama karena memang pemikiranku yang mulai berbeda namun tak berani aku sampaikan kepada keduanya.

Aneh memang, agama yang mempunyai inti ajaran tentang ketenteraman dan kenyamanan, semakin ku pelajari malah semakin membuatku resah dan gelisah. Seakan yang awalnya mempunyai 1 pertanyaan malah di akhiri dengan 10 kebingungan. “Tapi tak apalah, inilah jalan hijrahku”, gumamku dalam hati.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba saatnya aku memulai kehidupan sebagai seorang mahasiswi. Setahun berlalu masih seperti biasa, kuliah, belajar, pulang, sesekali ke SMA untuk mentoring dan seterusnya. Namun, tahun ini begitu berbeda untukku. Dua minggu setelah Idul Fitri, kampusku sedang mengadakan ujian. Tidak seperti biasanya, ayah menyuruhku untuk mengikuti kegiatan P3SN (Penataran, penghayatan, dan pengamalan sunah Nabi) yang diselenggarakan oleh pondok. Padahal biasanya ayah paham bahwa aku sedang ujian dan selalu mensterilkan dari berbagai macam kegiatan. Aku tidak menolak permintaan ayah. Pagi berangkat, ujian, pulang, dan lanjut kegiatan pondok.

Entah kenapa, meskipun aku tak disuguhi dalil dan aku harus meninggalkan ujianku, aku merasa sangat nyaman di lingkungan seperti ini. Tidak melulu dalil ini itu tapi langsung pada pengamalan dan penghayatan. Tak perlu fafifu dalil sana-sini, salah sana salah sini, yang ada hanya bagaimana caramu melembutkan jiwamu yang keras, mendekatkan diri pada Allah, dan nikmatnya sebuah kebersamaan. Sensasi yang luar biasa nyaman dan lama tak aku rasakan sejak aku memasuki SMP. Acara P3SN dilanjutkan dengan rangkaian acara haul Al Maghfurullah H.S. K.H. Nahrawi Annaqsyabandy Qs.

Selain itu, aku pun diberi kesempatan untuk mengikuti acara Mujahadah. Dalam acara ini, aku merasa seakan terlahir kembali. Inikah yang disebut nikmatnya hidayah? Tak pernah aku rasakan kenikmatan batin yang seperti ini sebelumnya. Bukan sekedar menyatakan diri hijrah karena mengikuti teman dan kawan.

Sekarang aku mulai berpikir, apa sebenarnya hijrah itu? Hijrah yang dimaksud dan sangat nge-trend di kalangan civitas akademi namun justru sangat norak dan tak digandrungi oleh mereka yang berada di pondok-pondok pesantren Indonesia.

Jikalau yang dimaksud hijrah adalah keterpaksaan, pengekangan, bahkan gemar menyalahkan yang berbeda pemikiran, maka aku lebih memilih kembali dari hijrahku. Aku tak ingin berhijrah lagi, aku ingin kembali. Kembali ke tempat di mana aku mengawali semuanya dan tak ingin pergi lagi.

Semakin ke sini aku pun semakin sadar akan sebuah kebenaran, bahwa semua akan NU pada waktunya. Mereka yang sudah sejak lahir ber-NU, lalu terpesona dengan yang lain dan akhirnya mencoba keluar, ia akan kembali. Mereka yang awalnya sama sekali tak kenal NU, ia akan mulai bersilaturahmi dan terpesona kepada NU, bahkan mereka yang memusuhi NU justru kan mendekat, merekat, dan akan melekat dengan NU suatu saat nanti. Bukan karena takut akan NU, justru semua karena trenyuh dengan kebaikan dan kelembutannya tak lupa dengan barokah dari doa-doa para Wali dan Ulama ulama Ahlu sunnah wal jamaah. Dan karenanya pula, Aku NU Padamu.

*Cerita diambil dari kisah nyata


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU