Categories: opiniSimponi

Tentang Kasus UAS

Share

Agaknya menarik untuk ikut membahas kasus dari Ustaz Abdul Shomad. Ulama yang sampai sejauh ini masih menjadi pencariaan tertinggi di media daring. Tak bisa dielak akhirnya lini masa dipenuhi dengan berbagai postingan dan komentar, baik pro maupun kontra. Lalu bagaimana kita menanggapi?

Pertanyaannya bukanlah kita, karena setiap orang pasti punya pandangan masing-masing. Dan itu adalah kebebasan, layaknya kita menggembar-gemborkan tentang toleransi. Kemudian ini hanya menjadi sebuah tulisan atau prespektif dari sudut pandang saya sendiri.

Sebagai seorang nahdliyin yang tidak se-nahdliyin mereka yang begitu antusias memenjarakan kasus tentang penghinaan salib, saya coba membuat pandangan yang berbeda. Semoga pun tulisan ini ada yang menyanggah sebagai wawasan keilmuan dari banyak sudut pandang.

Baca Juga: Pendengar yang Baik

Karena saya tidak begitu paham mengenai tafsir seperti kasus yang saat ini ramai, jadi saya hanya akan menjelaskan beberapa nilai yang seharusnya terkandung di jiwa para nahdliyin. Paling utama adalah sikap toleransi. Menghargai, menerima, dan peduli kepada kaum marginal, minoritas, beda aliran, beda keyakinan, dan beda pandangan “politis”.

Makanya melihat kasus UAS, saya begitu hati-hati dalam menuliskan sesuatu di kolam media sosial. Sudah sangat paham bagaiamana kebencian itu begitu cepatnya ingin diekspresikan sebagai wujud unggul dan berkuasa. Sehingga makna toleransi dan menerima perbedaan hanya menjadi angin lalu.

Subjektivitas konsep diri sendiri ini yang kadang kita tidak mengetahui atau melupakannya. Seolah kita begitu lemah untuk dikuasi nafsu. Melihat tokoh yang berbeda pandangan dengan kita, lantas menjadi senjata untuk turut memeriahkan kasus yang menimpanya. Perang untuk lebih unggul terus dimainkan. Klaim menjadi individu atau kelompok paling sempurna dengan terus mencari celah lawannya.

Seharusnya itu yang dilakukan oleh kelompok yang membenci NU, tapi sekarang kejadiannya bertolak belakang. Bomerang. Saya takut pernyataan bahwa NU itu intoleransi dan radikal benar adanya. Tidak, NU tidak demikian. Nahdliyin tetap senantiasa menjaga toleransi dan menjaga persatuan.

Persatuan? Bicara tentang persatuan berarti kita harus mempunyai jiwa ikhlas dan nrimo. Merasa rendah diri untuk kembali mengingat cita bangsa dalam ekasila – Gotongroyong! Ketika kita begitu kencang memekikan NKRI Harga Mati, seharusnya juga meliputi tentang bagaimana kita bisa menjaga persatuan. Bukan malah antusias memecah untuk memeriahkan sebuah pertikaian dan sikap saling ejek dan menyerang. Itu bukan jiwa nahdliyin!

“Ini membela kaum Nasrani!”. Tidak! Menurutku kita hanya begitu menggebu menyalurkan nafsu karena faktor belum adanya pandangan netral terhadap sosok Ustaz Abdul Shomad. Menetralkan itu berarti menjernihkan pikiran dan jiwa tanpa dibarengi dengan pernyataan atau sikap yang kebetulan berbeda dengan kita.

“Itu penghinaan terhadap agama lain”. Saya pun meyakini bahwa setiap agama akan mengklaim dirinya itu benar. Penyampaianpun beragam tiap ustaz untuk menumbuhkan keimanan jamaahnya. Belum lagi kita bahas tentang kafir dan non-muslim. Karena kita bicara konteks. Sayangnya kita terlalu mudah dikuasai oleh sesuatu yang berbau verbal dan dikonsumsi oleh media sosial.

Bahkan saking penasarannya, saya turut kepo akun-akun tokoh Nasrani yang saya anggap bijak. Mereka tidak mempermasalahkan! Ya, karena mereka juga akan melakukan hal sama di hadapan jamaahnya, hanya mungkin dengan diksi yang berbeda. Sekali lagi, toleransi itu sikap saling menghargai, bukan memerangi.

Kita sudah pandai mencaci dan menyimpulkan tentang kesalahan seseorang jauh sebelum kita menelaah kejadian sebenarnya. Entah siapa yang memvideo, bagaimana video bisa tersebar, apakah sudah dapat ijin dari UAS, bahkan ada yang katanya memotong video untuk kepentingan tertentu.

Kebetulan saya bukan orang yang terlalu fanatik mengidolai seseorang. Makanya setiap kajian, saya selalu memfilter sesuai kebijaksanaan yang bisa saya lakukan. Pun sebaliknya, saya bukan orang yang ketika sakit hati bakal membenci seumur hidup orang atau kelompok yang menurut saya berbeda pandangan dalam melihat sesuatu. Demikian yang membuat saya belajar untuk terlepas sikap iri kepada kekayaan, popularitas, dan sifat keduniaan lainnya.

Awal muncul di media sosial, saya sangat tertarik dengan dakwah UAS. Meskipun cara penyampaian bukan ala pesantren, namun dengan penjelasan instan bisa memberikan keterbukaan pemikiran tentang sebuah perbedaan madzab kepada pengikutnya. Itu pula yang dipegang oleh kalangan NU. Bahwa kebenaran itu banyak, terserah kita yang memilihnya. Aswaja tulen. Begitu yang disampaikan beberapa tokoh NU, termasuk ketika sowan ke Habib Luthfi bin Yahya dan Almarhum Yai Maimun Zubair.

Kemudian ketika kasus salib ini muncul, banyak nahdliyin yang “senang” dan semakin memeriahkan media sosial dengan berbagai sikap yang menurutnya wujud toleransi. Seolah saya melihat toleransi yang berat sebelah. Kita malah senang ketika ada ustaz yang begitu banyak diikuti oleh kawanan hijrah dan menyebarkan “akidah aswaja” dipenjarakan, entah karena apa. Selain sikap skeptis karena berbeda pandangan.

Saya khawatir dan takut jika kasus ini memanas. Bagaimana ribuan penggemar UAS siap untuk “tempur” yang kemudian dikompori oleh golongan lain. Anehnya kita (nahdliyin), malah senang dan siap membusungkan dada melawan mereka. Kita lupa bagaimana konsep agama yang diajarkan para sesepuh NU. Fanatik pada identitas tapi kita tidak mendalami identitas masing-masing.

Baca Juga: Belajar Mencintai Ustaz Medsos

Ketika takut amaliyah NU dibidah dan dimusyrikan. Ada tokoh yang mencoba membantu menjelaskan berdasarakan prinsip keawajaan, kemudian kita niat jebloskan ke penjara. Apakah yang berhak menyampaikan akidah keaswajaan hanya mereka yang teridentifikasi dalam struktural NU?!

Kadang kita hanya gagah mengenakan pakaian NU, sedangkan kita lupa sisi kemanusiaan, kebijaksanaan, dan toleransi dalam diri pakaian itu. NU bukanlah organisasi kaleng-kaleng yang gampang diadu domba, bukan pula ormas yang senang memancing perdebatan dan peperangan. NU adalah rumah, bukan hanya kaum marginal, tetapi semua golongan dan aliran di dunia.

Meskipun NU difitnah, dihina, dikhianati, tapi karena NU adalah rumah, dia akan tetap mengayomi. Siapapun itu!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU