Kopi Pagi (Part 1)

Karomah Kiai Kholil Bangkalan

Ulama besar yang digelar oleh para Kiai sebagai “Syaikhuna” yakni guru kami, karena kebanyakan kiai-kiai dan pengasas pondok pesantren di Jawa dan Madura pernah belajar dan nyantri dengan beliau. Pribadi yang dimaksudkan ialah Mbah Kholil. Tentunya dari sosok seorang ulama nesar seperti Mbah Kholil mempunyai karomah.

Istilah karomah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa berarti mulia, Syekh Thahir bin Shaleh Al-Jazairi dalam kitab Jawahirul Kalamiyah mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi.

Adapun karomah Mbah Kholil di antaranya:

a. Tertawa keras di dalam salat

Pada suatu hari, di dalam sholat jemaah yang dipimpin oleh kiai di sebuah pesantren tempat kiai Kholil mencari ilmu, Kiai Kholil muda tertawa cukup keras sehingga teman-temannya takut kalau-kalau kiai akan marah karena sikapnya itu.

Dugaan mereka tidak keliru, setelah selesai salat sang kiai menegur Kiai Kholil muda dengan sikapnya yang tertawa cukup keras waktu salat tersebut yang memang dilarang dalam Islam. Ternyata, Kiai Kholil muda masih terus tertawa meskipun kiai sangat marah terhadapnya.

Akhirnya Kiai Kholil menjawab bahwa ketika sholat berjamaah berlangsung dia melihat sebuah berkat (wadah nasi waktu kenduri) di atas kepala sang kiai. Mendengar jawaban tersebut, sang kiai menjadi sadar dan merasa malu atas salat yang ia pimpin tersebut. Karena sang kyai ingat bahwa selama salat berlangsung, dia memang merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri sehingga mengakibatkan salatnya tidak khusyuk.

b. Debat kepiting dan rajungan

Pada suatu hari, para ulama Mekah berkumpul di Masjidil Haram untuk berdiskusi membahas masalah dan hukum Islam yang sedang terjadi di Makah. Semua persoalan didiskusikan tanpa hambatan dan selalu mendapatkan solusi dan kesepakatan semua ulama tersebut. Akan tetapi pada masalah mengenai halal atau haramnya kepiting dan rajungan terjadi banyak pendapat dan tidak menemukan solusi.

Kiai Kholil pada waktu itu berada di antara peserta diskusi sambil mendengarkan dengan tekun sambil sekali-sekali tersenyum melihat silang pendapat para peserta diskusi. Melihat jalan buntu permasalahan yang ada di hadapnya, Kiai Kholil minta izin untuk menawarkan solusi untuk masalah tersebut. Akhirnya Kiai Kholil dipersilahkan untuk naik ke atas mimbar oleh pimpinan diskusi.

Setelah tiba diatas mimbar, Kiai Kholil berkata, “Saudara sekalian, ketidaksepakatan kita dalam menentukan hukum kepiting dan rajungan ini menurut saya disebabkan karena saudara sekalian belum melihat secara pasti wujud kepiting dan rajungan”. Semua ulama yang hadir dalam diskusi tersebut menyetujui keterangan Kiai Kholil tersebut.

“Saudara sekalian, adapun wujud kepiting seperti ini”, ucap Kiai Kholil sambil memegang kepiting yang masih basah. “Sedangkan yang rajungan seperti ini”, lanjut Kiai Kholil sambil memegang rajungan yang masih basah, seakan baru mengambil dari laut. Semua hadirin merasa terpana dan suasana menjadi gaduh karena keanehan tersebut. Mereka hanya bisa merasa heran dan bingung dari mana sang Kiai Kholil mendapatkan kepiting dan rajungan dengan sekejap saja. Maka setelah kejadian tersebut, masalah halal atau haramnya kepiting dan rajungan telah menemukan solusinya. Sejak kejadian itu, Kiai Kholil menjadi ulama yg disegani di antara ulama Masjidil Haram.

c. Ke makkah naik kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di air)

Pada suatu sore di pinggir pantai daerah Bangkalan, Kiai Kholil hanya ditemani oleh Kiai Syamsul Arifin, salah seorang murid dan sahabatnya. Mereka membicarakan perihal urusan pesantren dan persoalan umat, tak terasa waktu sudah berlangsung lama dan matahari hampir terbenam. “Kita belum salat ashar, Kiai”, kata Kiai Syamsul Arifin.
“Astaghfirullah”, kata Kiai Kholil menyadari kekhilafannya. “Waktu ashar hampir habis, kita tidak mungkin salat secara sempurna, Kiai”, ucap Kiai Syamsul Arifin.

“Kalau begitu, ambil kerocok untuk kita pakai ke Makkah”, kata Kyai Kholil. Setelah mendapatkan kerocok, mereka menumpanginya di atas kerocok tersebut. Beberapa saat ketika Kiai Kholil menatap ke Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya melesat dengan cepat ke arah Makkah. Sesampainya ke Makkah, azan salat ashar baru saja dikumandangkan dan mereka mendapatkan shaf pertama salat ashar berjamaah di Masjidil Haram.

d. Mengubah arah kiblat masjid

Pada suatu hari, Kiai Kholil sedang melihat masjid yang sedang dibangun oleh menantu beliau yaitu Kiai Muntaha. Ketika melihat arah kiblat pada masjid tersebut, Kiai Kholil menegur sang menantu yang alim itu untuk membetulkan arah kiblat masjid yang sedang dibangunnya itu. Sebagai orang yang alim, Kiai Muntaha mempunyai alasan dalam menentukan arah kiblat tersebut, beberapa argumen ditunjukan kepada Kiai Kholil dalam penentuan arah kiblat tersebut.

Melihat menantunya tidak ada tanda-tanda untuk mendengar nasihatnya, Kiai Kholil tersenyum sambil berjalan ke arah tempat pengimaman diikuti sang menantu. Kiai Kholil mengambil sebuah kayu untuk melubangi dinding tembok arah kiblat dan menyuruh Kiai Muntaha untuk melihat lubang pada dinding masjid di tempat pengimaman. Betapa kagetnya Kiai Muntaha setelah melihat lubang itu, sang menantu melihat dalam lubang kecil itu terlihat Ka’bah yang berada di Makkah dengan sangat jelas. Dengan penglihatan itu, Kyai Muntaha heran dan sadar bahwa arah kiblat yang menjadi kiblat bangunan masjidnya salah. Arah kiblat bangunan masjid terlalu miring dan terbukti benar apa yang di koreksi Kiai Kholil.


(Afif Albatawi – BPH Pergunu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!