Kangen Indonesia

Di Timeline tiba-tiba muncul sebuah postingan tentang keceriaan dalam permainan anak-anak era 90-an, termasuk saya. Sebuah kenangan yang kadang ingin kembali terlempar pada dimensi waktu yang lalu. Petak umpet, egrang, engklek, jamuran, cublak-cublak suweng, lompat tali, layangan, gasing, bentengan, congklak, dan permainan indah lainnya.

Masa itu tidak ada anak yang duduk di pojokan tembok bermain game atau menonton youtube. Semua tertawa, berangkulan, dan saling mengingatkan. Sore bermain ke sungai atau pematang sawah. Berburu dengan ketapel dan mandi di empang tetangga. Saya yakin kita sama-sama kangen, bagi yang pernah mendapatkan kesan kedamaian dan kebahagiaan saat itu.

Waktu terus berjalan, sampai seusia sekarang. Merantau mencari pengalaman. Ketika kembali ke kampung halaman, kenangan masa lalu sudah hilang terkikis oleh budaya media sosial. Anak-anak sekolah dasar sudah mahir menggunakan handphone untuk selfie dan membuka segala fasilitas di dalamnya. Bahkan ada dari mereka yang tidak mengetahui nama tetangganya karena hari-hari dihabiskan dengan menonton youtube dan bermain games.

Indonesia memang terlalu kaya untuk banyak hal yang bisa dirindukan. Permainan, makanan, pakaian, budaya, kesenian, dan segala bentuk keharmonisan serta sifat tepo sliro-nya. Demikian banyak negera menjuluki sebagai negara paling ramah sedunia. Tidak seperti negara lain yang acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, Indonesia ada prinsip dalam eka-sila, yakni Gotong Royong!

Namun kesadaran akan kerinduan Indonesia perlahan mulai pudar. Selain penjajahan melalui teknologi, juga karena pola pikir serta paradigma yang secara tidak sadar digiring untuk melupakan jati diri Indonesia. Bahkan anak remaja sudah mahir memaki-maki dengan julukan negara thaghut, kafir, dan lain sebagainya. Mereka yang entah mendapat diksi tak beretika dari belahan bumi mana. Menyesakkan dada kami para perindu kenangan bersama Indonesia yang penuh dengan toleransi dan hidup saling asah, saling asih, dan saling asuh.

Melupakan bagi orang yang tidak mempunyai rasa kangen tidaklah masalah. Menjadi gregetan kalau mereka malah menyalahkan segala aktivitas yang dulu sangat amat kami cintai. Andai saja kalian singgah sejenak di kampung dan sudi merasakan betapa bahagianya menjadi bagian dari Indonesia.

Progresif! Hidup harus selalu maju ke depan. Siap dengan tantangan segala zaman. Peka terhadap perubahan kebiasaan. Satu yang perlu kita semua tahu, Indonesia tetap akan selalu berdikari dengan segala kenangan dan keramahannya. Negara yang mempunyai jati diri. Saling menghargai dan cinta kepada tanah airnya.

Jangan menghipnotis kami untuk perlahan memisahkan agama dengan negara. Terkesan agama adalah sebuah senjata untuk memusnahkan segala jati diri bangsa, pun sebaliknya. Sejak dulu kami sudah beragama, di Indonesia – bumi pertiwi. Belajar iqra’, mengikuti pengajian dari desa satu ke desa yang lain, mengikuti lomba khutbah, tidur di langgar, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Dosakah Menjadi Indonesia?

Silahkan anggap kami (lebih tua dari kalian) yang hanya belajar dari kiai kampung dan kitab-kitab klasik tidak “secerdas” kalian yang setiap saat mendengarkan ceramah di youtube. Menganggap kami kuno dan tidak paham agama yang benar. Sehingga berhak kalian salahkan dan coba benarkan.

Jikapun Allah menghendaki kami salah dan kalian benar. Maka niat kami hanya ingin menjaga identitas Indonesia. Tidak menjadi simbol terorisme atau radikalisme. Bangga dengan budaya dan adat masing-masing daerah. Selalu bersyukur karena kayanya sumber daya, adat, suku, bahasa, dan lain-lain.

Saya kangen Indonesia yang dulu tidak pernah saling hujat di media sosial (karena belum zaman media sosial). Saya kangen Indonesia yang dulu tidak ada dema-demo mengatasnamakan bela agama. Saya kangen Indonesia yang dulu, yang setiap pagi melihat petani menanam padi di sawah, anak-anak pergi ke sekolah, selepas maghrib bercengkrama bersama keluarga.

Kangen saya mungkin beda dengan kangen kalian. Karena tidak ada parameter tingkat kangen seseorang. Tapi sebelum jauh menghina budaya Indonesia, luangkan waktu sejenak,

Kenapa sebegitu tega kita membenci Indonesia? Masih kurangkah segala hal yang sudah diberikan Indonesia untuk kita?

Jangan terlalu menodai agama untuk dijadikan alat membenci Indonesia. Agama terlalu suci. Bagi saya Indonesia tidak pernah melapaskan diri dari unsur jiwa beragama. Bukankah pokok pancasila juga masih “Ketuhanan Yang Maha Esa”?! Jika jiwamu sudah melayang untuk mencintai selain Indonesia, silahkan! Asal jangan kemudian kalian mencaci maki Indonesia.

Tahukan kalian?! Dikhianati dan diselingkuhi itu menyakitkan, apalagi yang selingkuh malah menyalahkan orang yang diselingkuhi.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!