Kaderisasi tanpa Familisasi?

Memasuki tahun-tahun politik warga Indonesia cukup antusias untuk ikut serta dalam acara yang katanya adalah pesta demokrasi di tahun mendatang. Mungkin pemilu selalu dianggap hal yang tidak begitu menarik karena stigma bahwa “pesta” adalah kata yang cenderung mengarah pada kegiatan hura-hura tak bermakna. Stigma ini sudah berkembang pesat di amsyarakat khususnya daerah desa, apakah mereka salah.

Tentu saja tidak, jangan pernah melihat satu peristiwa dengan hanya 1 sudut pandang saja atau anda hanya akan menjadi orang yang kaku. Bila ada akibat pasti ada sebab yang melatarbelakanginya, kenapa masyarakat desa cenderung tidak se-antusias mereka yang ada di kota ?

Bisa yang pertama adalah karena biasanya yang mendapatkan “cipratan” baik dana, fasilitas, sarana dan prasarana, serta semua bukti dari janji manis sang paslon hanya khusus bagi mereka yang ada di kota, bisa di kata habis manis sepah dibuang. Mereka awalnya hanya mengumbar janji-janji manis yang kadarnya bisa menyebabkan diabetes dalam dunia medis kepada masyarakat desa yang masih sangat polos. Awalnya antusias mungkin karena siapa yang akan menolak sesuatu yang manis apalagi hal itu keluar dari mulut seorang yang bisa dikata berpendidikan. Namun, masyarakat juga tidak bodoh, mereka mulai paham bahwa semua itu hanya kata tanpa makna, makna ada tapi hanya kedok untuk sekedar berkuasa. Tidak usah menyangkut politik, bahkan dollar naik pun masyarakat sudah seakan tak peduli karena hal tersebut tidak akan mempengaruhi harga bubur, mi ayam, sayur-mayur yang notabene adalah barang yang sangat-sangat penting bagi mereka, namun tidak begitu berarti bagi negara.

Apalagi masalah politik, paling-paling jawaban mereka akan selalu sama, “halah mas, kita tidak pernah kecipratan kok, ya milih ya sudah siapapun yang jadi sama aja. Toh mereka juga ga ngasih makan ke kita kok.” Baiklah, fakta memang terkadang menyakitkan.

Prolog yang saya berikan memang sedikit tidak menyambung dengan judul jika dilihat sekilas, namun kembali lagi hal tersebut adalah fakta yang sudah tidak bisa kita tutupi lagi keberadaannya. Baiklah akan coba saya sambungkan, ketika di satu sisi ada masyarakat kita yang memiliki pemikiran seperti itu, ada juga di sisi lain masyarakat yang memiliki pemikiran bahkan selalu menggaungkan tentang kaderisasi. Apapun yang keluar dari orasi dan pidatonya adalah kaderisasi, kepemimpinan, dan semua yang berbau tentang bagaimana agar bisa memanajemen orang lain, lingkungan, serta memecahkan masalah. Memang manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi minimal adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Namun, saking seringnya berbicara tentang bagaimana bersikap menjadi seorang pemimpin seolah melupakan pendidikan kepada orang-orang bagaimana cara menempatkan diri untuk menjadi orang yang dipimpin.

Lah, apakah ini penting? Ya tentu, misal saja ada 2 pasangan calon. Dengan otomatis ketika salah satu menang, akan ada sepasang yang kalah bukan? Secara tidak langsung, mereka akan menjadi bagian dari orang yang dipimpin, bagaimana jika mereka terlalu percaya diri dan siap untuk memimpin namun harus menerima kenyataan dialah yang dipimpin? Wah bisa gawat ini jika tidak pernah diajarkan sebelumnya, bisa-bisa selama masa jabatan pasangan yang jadi tadi, isinya hanya menjelekkan kinerja dan hanya selalu nyinyir dengan alasan yang cenderung dibuat-buat seakan tanpa menggunakan akal sehat. Mempelajari ilmu memimpin penting, namun tak kalah penting untuk belajar juga ilmu untuk bisa toleran dan menghargai serta menghormati orang lain karena sejatinya kedua pasangan calon

memiliki pokok visi yang sama, yakni kesejahteraan rakyat atau masyarakat yang dipimpinnya.

Selain dari ilmu memimpin-dipimpin, ilmu kekeluargaan juga tak kalah penting. Kita tidak bisa menafikkan bahwa di dalam sebuah demokrasi maupun pemerintahan tidak semua orang ingin menjadi aktif dan berperan di dalamnya, banyak dari mereka yang memilih untuk sekedar menjadi penikmat maupun pelaksana saja. Meskipun itu adalah pilihan mereka, namun kita tidak menafikkan bahwa itu memang diperlukan, ketika semua ingin memerintah, lalu siapa yang menjadi rakyat ? Hanya saja dalam dunia pemerintahan mini (read: sekolah, kampus, dll) kadang orang-orang seperti ini jarang mendapatkan perhatian karena bisa saja kadang dianggap sebagai orang yang apatis, namun sejujurnya tanpa mereka pemimpin bukanlah apa-apa. Rakyat kecil justru adalah pemegang kekuasaan tertinggi yang sudah menanam saham penuh pada negara ini dan mengamanahkannya pada orang yang dianggap mampu meskipun mereka tidak mengenalnya bahkan sama sekali.

Bukankah setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya? Semoga para “rakyat besar” tidak melupakan kaidah ini. Dengan demikian dapat kita katakan sebelum memulai apa yang disebut kaderisasi, bukankah lebih baiknya kita adakan familisasi? Ya, kita sambung tali persaudaraan dengan tulus, kita lebih dekat dengan mereka yang pasif di dalam sebuah pemerintahan karena bukankah mereka yang pasif pasti jauh lebih banyak daripada yang aktif? Era ini kita selalu mengatakan hal tentang kemanusiaan, namun kita lupa untuk membangun rasa kekeluargaan. Bukankah kemanusiaan adalah prinsip cinta tertinggi kepada sesama makhluk? Bagaimana mungkin anda bisa membicarakan tentang kemanusiaan jika anda sendiri tidak memiliki rasa kekeluargaan? Kita di sini semua satu keluarga sebangsa dan senegara. Jika kau bukan saudaraku se-iman, kau adalah saudaraku se-tanah air, jikalau itupun juga bukan kau adalah saudaraku dalam kemanusiaan. Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan perihal kepemimpinan hingga melupakan sifat paling fundamental yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia, yakni prinsip cinta.

Apa yang menjadi dasaran takdir manusia? Cinta atau benci? Jawabannya Insyaallah pada tulisan selanjutnya mengingat ini sudah terlalu panjang hehe. Kesimpulannya adalah mari sama-sama belajar hal paling mendasar dari sifat manusia, prinsip cinta dan kasih, agar ketika suatu saat nanti kita terpilih atau mendapatkan amanah dari Tuhan untuk menjadi seorang pemimpin, kita akan menjadi seorang pemimpin yang melaksanakan amanah dengan cinta, bukan dengan nafsu angkara yang gila akan harta benda dunia serta kementerengan sebuah jabatan belaka. Kita bisa mengayomi semua elemen masyarakat dan memberikan yang terbaik dengan dasar cinta dan kasih sesama manusia, bahkan seluruh alam semesta.


Yogi Tri Sumarno- Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!