Categories: opiniSimponi

Jangan Takut Corona

Share

“Jangan takut Corona.” begitulah kira-kira inti dari nasihat kawan saya yang aktif broadcast dan posting di media sosial. Sekilas tampak menarik, apalagi dibumbui dengan tausiyah Islami sebagai bentuk iman seorang hamba kepada Tuhannya.

Setuju juga sih, kan menang Allah itu lebih kuasa daripada Corona. Mati itu karena Allah, bukan karena Corona. Separah apapun penderita infeksi Corona, kalau belum jatahnya mati, ya tetap akan hidup. Sebaliknya, misal jatahnya sudah mati, baru dipantau soal Corona pun bisa juga langsung meninggal. Jadi jangan takut corona.

Tapi karena keimanan saya tidak setinggi kawan saya tersebut, makanya saya lebih baik menaati aturan dari pemerintah daerah untuk tidak mengadakan atau menghadiri acara yang melibatkan banyak orang. Kebetulan saya masih takut kalau tiba-tiba di kebun ketemu Garaga (baca: king kobra), padahal seharusnya Allah jauh lebih kuasa daripada hanya seekor ular bukan?!

Ah, dasar aku! Manusia yang kurang beriman.”

Entah kenapa masih ada perasaan was-was kalau dihadapkan sama virus Covid-19 ini. Padahal golongan darah saya juga O dan suka konsumsi rempah-rempah. Setelah saya renungi, selain iman saya yang masih amat rendah, mungkin juga karena saya tidak tegaan.

Maksudnya, misalkan saya dinyatakan positif kena Corona. Terus kemudian saya nekat pergi salat jamaah di masjid. Kan saya bisa menulari yang lain. Padahal motivasi saya agar mesjid tidak sepi. Saya meyakini Allah akan menyembuhkan hamba-Nya dari segala macam penyakit, termasuk Corona. Tapi kan saya turut andil “menyiksa” jamaah yang lain. Mereka yang sebelumnya sehat walafiyat jadi tertular virus Corona.

Hanya karena saya (saking alimnya) tidak mau meninggalkan salat jamaah, saya tidak sempatkan berpikir jauh. Bagaimana kondisi yang saya tulari virus Corona. Apakah dia seorang tulang punggung keluarga, apakah dia masih anak-anak yang imunitasnya masih rendah, apakah dia orang yang sedang hamil. Lebih fatal apabila mereka ada yang meninggal dunia, sedangkan saya malah sembuh dari Corona.

Niatnya sih mati syahid sendiri, tapi kan secara tidak langsung juga mengajak banyak orang untuk ikut mati yang sebenarnya mereka masih ingin hidup. Semoga Allah melindungi kami semua dari sikap-sikap egois tanpa mementingkan keselamatan yang lainnya.

Kalau niatnya ingin terlihat beda sih tidak apa-apa. Sikap membangkang dengan idealis yang kuat itu memang terlihat keren. Apalagi gairah muda yang selalu ingin tampil terlihat agamis dibanding yang lain. Tapi ini kan menyangkut nyawa banyak orang, bukan hanya diri sendiri.

Misalpun khawatir masjid sepi, Insyaallah banyak tentara Allah kok yang bersedia mengisi shaf dan salat di Masjid. Kita seyogyanya ibadah sendiri dulu di rumah, semoga pandemi Corona segera berakhir. Kita bisa kembali memenuhi musala, langgar, dan masjid daerah masing-masing.

Baca Juga: Masjid Shutdown, Akal Sehat Jangan di Lock Down

Himbauan untuk tidak keluar rumah dan mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang itu kan tujuannya untuk memutus rantai penyebaran virus Corona. Lha masak ribuan orang patuh dan bersepakat untuk bersama melawan Corona, kemudian ada 10 orang yang membangkang dan tetap mengadakan acara-acara majelis atau pengajian. Hasilnya? 14 hari usaha pemerintah dan sebagian besar masyarakat itu sia-sia. Karena rantai virus Corona tetap akan berjalan.

Gara-gara 10 orang tadi, anak-anak yang sudah menunggu 14 hari tidak sekolah terpaksa menunda lagi untuk kembali belajar formal. Masyarakat semakin tersiksa di rumah karena Corona tak juga berlalu. Hanya karena 10 orang yang sok idealis, sok paling beriman, dan sok menjadi pahlawan Allah, semua menjadi korban.

Kejadian ini bukan untuk main-main menujukan eksistensi diri. Ini melibatkan banyak elemen masyarakat. Roda perekonomian yang macet, kebudayaan yang terbengkalai, dan pendidikan yang tertunda. Pengendara ojek tidak maksimal bekerja, pabrik yang menampung banyak karyawan mengalami kerugian, dan warung makan menjadi sepi. Kalau hanya menunggu 14 hari kemudian putus penyebaran virus corona itu kan mending. Tapi kalau ulah segelintir masyarakat yang membangkang untuk terus melawan himbauan pemerintah daerah atau pusat itu kan yang jadi masalah. Karena nila setitik, jadi rusak susu sebelanga.

Di beberapa negara muslim juga sudah menerapkan kebijakan untuk tidak melakukan ibadah atau kegiatan yang melibatkan banyak orang. Misalkan Kuwait, Arab Saudi, Iran, Tajikistan, dan lain-lain. Jika masih tidak terima karena dihimbau untuk ibadah di rumah, kemudian terpaksa tidak bisa pergi ke masjid. Berikut saya kutipkan beberapa dalil mengenai wabah penyakit yang memaksa untuk tidak bisa berpergian ke masjid.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. al-Bukhari)

قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

“Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. al-Bukhari)

وَقَدْ نَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَن الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمَجْذُومَ وَالْأَبْرَصَ يُمْنَعَانِ مِنْ الْمَسْجِدِ وَمِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ، وَمِنْ اخْتِلَاطِهِمَا بِالنَّاسِ

“Qadli Iyadh menukil dari para ulama bahwasanya orang yang terkena penyakit judzam (kusta) dan barash (sopak) dilarang mendatangi masjid, shalat Jumat dan dari bercampur baur dengan masyarakat.” (al-Khatib asy-Syirbini,Mughni al-Muhtaj, I: 360).

سَبَبَ الْمَنْعِ فِي نَحْوِ الْمَجْذُومِ، خَشْيَةَ ضَرَرِهِ، وَحِينَئِذٍ فَيَكُونُ الْمَنْعُ وَاجِبًا فِيهِ

“Sebab pelarangan bagi penderita penyakit semisal kusta adalah khawatir bahaya darinya. Karena itu, maka pelarangan ini menjadi hal wajib dalam konteks kusta tersebut”. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, I: 212).

Saya kan tidak sedang sakit?

Sebagai orator “jangan takut corona” mungkin imunitas kita kuat. Tapi tidak bagi orang lain, terutama mereka yang berusia tua dan memiliki penyakit. Yang kelihatannya sehat bugar, bisa saja kita yang malah menyebarkan Virus Corona.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU