Jalmo Tan Keno Kiniro #1

Jalmo tan keno kiniro merupakan salah satu falsafah jawa yang perlu di mengerti oleh siapapun. Falsafah ini memiliki arti bahwa kehidupan manusia itu tidak bisa dikira-kira. Dulu kehidupannya pas-pasan, sekarang kehidupannya kaya raya. Dulu kaya, sekarang menjadi orang yang kurang mampu. Kehidupan manusia ke depannya tidak bisa dikira-kira semua tergantung kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha.

Falsafah jalmo tan keno kiniro dapat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kehidupan ini mengalami perubahan, perputaran atau perkembangan. Hendaknya setiap manusia menyadari akan hal itu. Tidak elok bagi kita menghakimi kehidupan manusia karena semua bisa berubah kapanpun atas izin Tuhan.

Seperti halnya cerita kehidupan Prasanta. Ketika kecil dia adalah seorang anak yang penakut terhadap orang lain. Sorang anak yang kuper (kurang pergaulan), banyak orang yang suka mem-bully tentang dirinya. Tidak mau sekolah. Bahkan ketika di antar ke sokolah, ia ikut pulang ketika yang mengantarkan pulang. Maunya Prasanta ketika sekolah harus ditunggu oleh orang tuanya (ibu atau bapak) dari masuk sampai jam pulang. Itu pun yang menunggu harus di dalam kelas mendampingi dirinya.

Menunggu di dalam kelas dilakukan orang tuanya selama 5 tahun. Orang tuanya rela meninggalkan pekerjaan demi pendidikan anaknya. Dengan sabar orang tuanya menunggu dari pagi hingga siang setiapa hari. Orang tuanya sadar akan hal pendidikan, mereka beranggapan bahwa pendidikan merupakan cara untuk mencerdaskan anaknya. Ia berharap semoga anaknya menjadi orang yang sukses dikemudian hari.

Atas perilaku Prasanta yang ingin selalu di tunggu ibunya di sekolahan mengakibatkan ia di-bully teman-temannya, banyak yang melihat Prasanta. Tidak jarang dia menangis di sekolah maupun di rumah. Ketika di kampung pun banyak masyarakat yang mengejek dirinya, bahkan sampai dibikin menangis.

Baca Juga: Benteng Keimanan Kaum Pedesaan

Setelah selesai jenjang pendidikan sekolah dasar, anak ini melanjutkan ke sokalah menengah. Di SMP Prasanta sudah tidak ditunggu oleh ibunya. Ia sudah mengalami peningkatan mental. Ia mempunyai banyak teman,  mulai membuka pergaulan dengan para temannya. Dari sisi pendidikan pun, tidak kalah dengan teman sekelasnya. Prasanta ketika kelas 8 pernah menjadi juara 3 di kelasnya. Ketika lulus dari SMP Prasanta memperoleh nilai yang cukup baik di banding teman-temannya.

Setelah lulus dari SMP ia melanjutkan sekolah di SMA kota. Sebelumnya ia sekolah daerah kabupaten tidak jauh dari rumahnya. Di SMA ia mengenal banyak teman dari berbagai latar belakang. Namun ketika SMA ia sempat minder dari teman-temannya karena temannya berasal dari sekolah-sekolah yang lebih unggul.

Ketika duduk di jenjang SMA ia pulang pergi naik motor seadanya, tidak ngekos atau tinggal di asrama. Awal-awal masuk SMA ia diantar oleh bapaknya, kadang kakaknya karena belum memiliki SIM. Keluarganya tergolong tertib dengan aturan. Ketika usianya sudah mencukupi untuk membuat SIM dan sudah memiliki SIM, Prasanta diperbolehkan mengendarai motor untuk sekolah.

Setelah lulus SMA Prasanta melanjutkan ke jenjang berikutnya. Saat memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ia mengalami kebimbangan untuk menentukan pergirian mana yang ingin dipilih dan jurusan apa yang akan dipilih. Setiap ada saran dari teman-temannya dicoba. Semua saran dari teman-temannya gagal. Akhirnya Prasanta mencoba memilih jurusan yang benar-benar dia inginkan, berhasil lolos ke perguruan tinggi.

Di perguruan tinggi ia mengenal berbagai hal. Wawasannya semakin luas. Pengetahuannya semakin tambah. Jiwa akan haus ilmu semakin meningkat dalam diri Prasanta hingga ia melanjutkan studinya ke jenjang S2 di perguruan tinggi yang sama. Ia berharap dapat melanjutkan studinya sampai S3.

Cerita mengenai Prasanta ini merupakan sebuah cerminan dari falsafah Jawa jalmo tan keno kiniro bahwa kehidupan manusia sulit diperkirakan. Kehidupan Prasanta yang dulunya seperti itu bukan berarti ia akan terus seperti itu, ternyata ia dapat menjadi orang yang sukses. Janganlah mencela, mem-bully, memvonis kehidupan orang lain. Selain itu cerita Prasanta dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk meningkatkan kualitas hidup.


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!