Categories: opiniSimponi

Otewe Takwa

Share

ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين
الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلوة ومما رزقنهم ينفقون

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Al Baqarah Ayat 2 dan 3. Untukmu para mujahid Islam kaffah dan murni 24 karat, dari saya muslim besi yang penuh karat. Tentunya, saya tidak meragukan kapasitas ketakwaan kalian jika sudah pandai berdalil dan kilat menghukumi sesuatu, apalagi yang berkaitan agama. Sedangkan saya akui kalau diri ini masih sejenis makhluk Islam yang otewe takwa. Kok masih otewe takwa?

Dalam surat Albaqarah ayat 2, salah satu dari banyak ciri orang bertakwa adalah mempercayai sesuatu yang gaib. Kalau berbicara gaib, biasanya langsung ditafsiri, “oh semacam jin, setan, malaikat to mas?”

Iya. Itu salah satunya. Tapi kalau kita tarik pada situasi yang lebih sederhana, sebenarnya perkara gaib ini sering kita temui. Misal tadi dibilang ada malaikat. Kalau benar-benar percaya malaikat, tentu tidak ada lagi perilaku atau perbuatan yang mengindikasikan kekufuran atau kemaksiatan di dunia ini. Semua pasti berperilaku baik, karena takut dicatat amal perbuatannya oleh malaikat. Apalagi kalau sampai level keyakinan tentang surga-neraka. Tidak mungkin ada waktu luang untuk tidak beribadah.

Baca Juga : SNU Peduli Gempa dan Tsunami

Kok mulu-mulu tentang surga-neraka. Manusia itu yang sudah berjuta kali mendengar dan membaca tentang pahala dan dosa, masih saja tidak percaya. Itu sesuatu yang gaib, yang mestinya kita jumpai setiap saat. Karena saya masih otewe takwa, jadi saya lebih memilih uang 100 ribu untuk kebutuhan sehari-hari, daripada saya sumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah atau sedekah fakir miskin (yang katanya) diganjar dengan pahala berlipat-lipat. Sekali lagi, ini saya manusia yang masih otewe takwa.

Beda sama orang jaman dahulu, para sahabat yang menyedekahkan seluruh hartanya untuk membantu perjuangan kanjeng Nabi. Ulama yang lebih memlih hidup sederhana dan memberikan semua hartanya kepada kaum dhuafa. Nah, saya?! Man-eman! Pahala itu hanya ilusi bagi orang-orang otewe takwa seperti saya. Jangankan menyedekahkan seluruh harta, infak dua ribu perak di masjid aja masih ragu-ragu.

Mending dapat telur hari ini daripada dapat ayam tapi harus menunggu besok. Begitu kira-kira analoginya. Kalau dapat telur sudah pasti. Digenggam dan siap dikonsumsi. Kalau ayam, masih harus nunggu besok, itu pun belum pasti dapat (batinnya). Sedangkan kalau orang yang sudah finish di garis ketakwaan, tentu tidak ada prasangka demikian. Karena semua yang dijanjikan sama Allah, sudah pasti benarnya. Masak iya, Allah berbohong? Kalau sudah bertakwa, tidak mungkin ada niatan bahwa semua yang dimiliki adalah jerih payahnya. “Semua sudah ada yang ngatur”, kata simbah di ujung jalan.

Jadi orang bertakwa tidak mungkin beralasan atau berbohong jika ada anak yatim atau orang fakir miskin meminta sumbangan kepadanya. Jangankan sejuta, semua hartanya pasti mereka kasih. Apalah harta bagi mereka yang sudah bertakwa, semua ini hanya titipan. Demikian itu yang sedang ingin saya raih. Ketakwaan. Percaya sama hal-hal gaib. Termasuk pahala dan dosa. Semua yang kita berikan, pasti akan dikembalikan lebih oleh Allah. Sudah berapa persen ketakwaan kalian sob?

Akhir kalimat, semoga kita dijadikan orang-orang yang bertakwa di jalan Allah.

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَ‌ٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. ( Ali-Imran: 186)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: hijrahtakwa