Itu Jalan Buntu!!

Teman-temanku yang “berpenampilan baik” itu mengajakku ke sebuah tempat. Katanya sih penuh dengan orang-orang saleh, danau jernih, tumbuhan rindang, ratusan wanita cantik, dan beberapa istana yang tidak semua bakal bisa berkunjung ke sana. Seolah hanya kami yang mengetahui tempat tersebut dengan jalan yang akan dituntunkan oleh temanku.

Persiapan dimulai dengan banyak peraturan. Mulai tuntuan untuk berpenampilan seperti temanku. Dilarang ini dan itu. Sampai berbicara dan berperilaku pun harus sama dengan temanku. Sampai pada saatnya kami mulai melakukan perjalanan. Katanya akan menempuh waktu berhari-hari. Jadi aku harus menyiapkan mental dan bekal untuk mendukung akomodasi perjalanan tersebut.

Meskipun kami hanya berlima, aku tetap percaya dengan perjalanan tersebut akan berakhir dengan bahagia. Namun sesekali aku menanyakan, “kenapa banyak yang tidak berminat dengan perjalanan kita? Bukankah tempat tersebut begitu diidamkan?”

“Karena mereka semua orang bodoh dan belum diberikan petunjuk oleh Tuhan. Sedangkan kita adalah orang-orang terpilih untuk menempuh jalan sunyi ini”, Jelas salah seorang temanku.

Aku memutuskan perjalanan ini. Sedangkan orang tua dan keluargaku tidak aku kabari. Bagaimana aku bisa berbahagia, sedangkan orang yang selama ini membuatku bahagia malah kutinggal di rumah. Ketika ego mulai berkecamuk, aku memutuskan untuk mengakhiri perjalanan dan kembali pulang. Namun salah satu teman menahanku dan memberikan beberapa pernyataan yang membuatku semakin bimbang. Petuah-petuah yang secara tidak sadar menghipnotis untuk kembali melakukan perjalanan.

Sampai pada suatu tempat. Kami duduk di sebuah gubuk dusun terpencil. Kami kesulitan untuk menyeberangi sungai. Jembatan yang kami tuju sudah rusak parah. Sedangkan di seberang sungai, kami melihat banyak orang sudah tertawa dan berbagi kebahagiaan. Mataku terbelalak ketika melihat bapak dan ibuku ternyata juga di sana. Seketika itu aku memukuli diriku sendiri. Penyesalan selalu datang terlambat. Sedangkan aku selalu terburu-buru mengambil keputusan. Gegabah dan tidak penuh pertimbangan. Termasuk memilih jalan yang katanya adalah jalan menuju kebahagiaan

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!