Categories: kolase

Isra dan Asri

Share

Kampung Rambutan. 27 Rejeb tahun 1876 H lahir anak kembar bernama Isra Najasa dan Asri Najasa dari pasangan suami istri yang perekonomiannya termasuk keluarga menengah ke bawah. Pasangan suami istri ini bernama Siti Sholehah dan Abdul Najasa. Lahirnya kedua bayi ini bertepatan dengan musim paceklik yang cukup panjang yang dialami oleh warga Kampung Rambutan. Biaya kelahiran dua anak ini cukup besar dan keadaan perekonomian Siti dan Abdul mengalami penurunan yang drastis akibat paceklik. Akhirnya keluarga ini meminta pinjaman kepada majikannya yang bernama Karso.

Karso adalah salah satu orang terkaya di Kampung Rambutan, memiliki sawah puluhan hektar, ternak ratusan ekor dan tambak yang luas. Namun, Karso termasuk orang kaya yang pelit, tidak peduli dengan sesama. Sering kali bercekcok dengan orang lain karena urusan sepele. Walaupun demikian Abdul adalah salah satu buruh yang setia bekerja di tempat Karso sebagai buruh yang mengurusi berbagai hal, baik urusan sawah, ternak dan lainnya.

Sifat seenaknya sendiri, tidak peduli dengan orang lain yang dimiliki Karso tidak berlaku pada Abdul. Abdul adalah satu-satunya buruh yang paling disukai oleh Karso. Karena kerjanya tekun, ulet, dan bertanggungjawab atas apa yang dikerjakan. Karena kerja Abdul yang baik, Karso bersedia memberikan pinjaman kepada Abdul untuk biaya untuk anaknya. Penghasilan  ekonomi Karso pada musim ini mengalami penurunan dan berdampak pada Abdul, upahnya juga mengalami penurunan sehingga hutang yang dipinjam dari majikannya molor dalam melunasinya. Karso memaklumi hal itu karena di masa ini adalah musim paceklik. Dalam waktu satu tahun akhirnya Abdul dapat melunasi hutangnya, perekonomian Karso dan warga Kampung Rambutan pada umumnya mengalami peningkatan.

Selain sebagai buruh, Abdul juga kerja serabutan, berbagai kerjaan dilakukan demi membiayai istri dan kedua anaknya. waktu demi waktu dilalui Abdul, akhirnya dapat membeli satu pasang kambing yang dibuatkan kandang di samping dapur. Walaupun kesibukan Abdul tambah karena harus merawat kambing, pekerjaan menjadi buruh di tempat Karso tidak dilalaikannya.

Baca Juga: Utang Mbak Dar

Istri Abdul sebelum mempunyai Isra dan Asri adalah seorang pekerja serabutan, ketika musim tanam ikut tandur, ketika musim panen ikut kerja memanen. Ketika memiliki anak, Siti tidak dapat bekerja karena harus merawat anaknya dan hanya bisa membantu mencarikan makan kambing yang dimiliki.

Abdul dan Siti adalah seorang muslim yang taat beribadah. Kesibukan mencari rezeki setiap hari tidak menjadikan dirinya dan keluarga melupakan kewajibannya sebagai muslim. Walaupun keluarganya tergolong miskin, Abdul dan Siti tidak pernah meninggalkan salat jamaah dan salat sunah setiap harinya.

Anak kembar Isra dan Asri sudah menginjak usia dewasa. Keluarga Abdul merawat dan mendidik kedua anaknya dengan baik ketika masih kecil. Menginjak usia dewasa Isra dan Asri mendapatkan didikan yang berbeda. Isra mendapatkan didikan di pesantren, mendapatkan ajaran-ajaran. Sedangkan Asri dididik dengan pendidikan formal.

Isra adalah anak yang rajin mengaji, mempelajari berbagai ilmu yang terkait dengan agama. Sedangkan Asri adalah anak yang pandai dalam ilmu umum, selalu mendapatkan juara di sekolahnya. Ketika sudah tamat sekolah SMA, Asri mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di perguruan ternama di pusat kota yang jauh dari kampung halaman. Akhirnya Asri sukses di perantauan dan dinikahi orang yang mapan. Berlainan dengan Isra, nasibnya tidak seberuntung Asri. Ia belum menikah, pekerjaanya mengajar agama kepada anak-anak di masjid dan merawat orang tua.

Asri sudah mempunyai tiga anak. Pulang kampung menjenguk orang tuanya setiap idul fitri. Setiap pulang Asri membawa oleh-oleh baju dan jajanan untuk orang tuanya. Asri juga sudah mempunyai mobil mewah.

Seiring berjalannya waktu perilaku orang tua Isra dan Asri berubah. Abdul dan Siti Sholehah suka dengan harta benda dan membangga-banggakan Asri yang sudah sukses, menjadi orang kaya. Usia mereka sudah menginjak usia senja dan sering sakit. Isra sebagai anak yang tinggal serumah dengan mereka dan merawat setiap hari orang tuanya tidak merasa berkecil hati atas sifat orang tuanya yang selalu membanggakan Asri. Sifat mereka tidak mengurangi pengabdian Isra untuk selalu menuruti orang tua.

Setiap ketemu tetangga, ada perkumpulan Siti selalu membicarakan anaknya “Alhamdulillah anakku Asri wes dadi wong, ora koyok sitok e ngoja-ngaji ngoja-ngaji gak gablek duet”. Begitupun dengan Abdul tidak jauh beda dengan istrinya. Tetapi di sisi lain setiap harinya Abdul dan Siti selalu membutuhkan Isra untuk membelikan obat, untuk mengurusi rumah, dll. Sedangkan Asri hanya membantu orang tuanya setahun sekali ketika pulang pada idul fitri.

Cerita ini memberikan pelajaran bagi kita, kadang kala orang-orang dekat di sekitar kita sering kita abaikan padahal peran dan kontribusinya sangat besar. Sedangkan yang jauh selalu kita unggulkan-unggulkan karena jiwa materialisme sudah meradang dalam diri kita, padahal jika ada musibah menimpa diri kita yang paling cepat dan sigap membantu adalah orang yang dekat dengan kita


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Tags: cerpen