Categories: opiniSimponi

Islam Katanya

Share

Bukankah kemarin kalian bilang ingin bersatu? Tapi kenapa sesama kami, kalian adu? Ah, palingan aku lagi yang akan dituduh. Memecah belah, munafik lah, liberal lah, serba salah! Dulu, Indonesia ada Muhammadiyah dan NU. Kalian bikin kelompok baru dengan ikrar umat harus bersatu. Kalian tidak tahu atau sengaja ingin menipu? Islam Katanya….

Kalian gembar-gemborkan meniru kanjeng nabi. Sedangkan tiap ada perbedaan kalian gemar mencaci maki. Memaksa yang lain menyamakan persepsi. Kalian yang egois ingin menang sendiri. Nabi mengajarkan toleransi. Aku berusaha mengikuti. Kalian malah tuduh aku ingkar janji.

Kita cinta Islam kan? Ingin bersatu kan? Ingin damai kan?

Baca Juga : Agama Kemanusiaan

Berapa kali kalian tuduh aku anti Islam. Sedang aku sedari kecil diajari halal haram, menghormati sesama dan semesta alam. Kemudian kalian sangka aku dajjal, suka membual. Sedangkan kalian sendiri merasa sebagai sumber amal. Saling bebal.

Aku berkampanye indahnya perbedaan, kalian malah tuduh aku pencitraan. Saat kiai-ku berpesan, kalian cemooh seperti setan. Islam itu diajarkan menghargai, menghormati, mengasihi. Kita Islam kan?

Saat aku mengagumi gagasan Islam Nusantara. Ajaran yang diajarkan para alim ulama. Lagi-lagi kalian hina. Seolah ketidaksukaan harus dibalas dengan cacian dan maikan. Nabi mana yang kita tiru? Tuhan mana yang setuju begitu? Ah…. Untung aku sempat belajar tarekat. Jadi kalau ada yang menghujat. Memang itu sarana menguji manusia untuk tetap taat.

Kita cinta Islam kan? Ingin bersatu kan? Ingin damai kan?

Kukira semua sepakat yang demikian. Anti pertikaian dan peperangan. Menerima setiap perbedaan. Karena kita sama-sama mencintai Tuhan. Menyuruh manusia menjadi penjaga semesta. Meski Iblis murka karena manusia hanya bisa merusaknya. “Tidak, tidak Tuhan, kami akan bertanggungjawab menciptakan kedamaian di semesta raya”.

Istikamah di jalan lurus itu susah. Kadang sedikit lelah. Daripada di media kita marah-marah, mendingan kita belajar untuk saling merasa diri salah. Jika dirasa cukup mendengar ceramah. Siaplah melangkah. Aku yakin kita sama-sama bercita-cita tentang Islam yang indah. Jika ada berbeda sudut pandang mari kita bermusyawarah.

Kata Sabrang MDP, “Kebenaranmu saat ini adalah kesalahan yang belum kamu pahami”. Sedangkan kita hobi menafsiri. Setelah itu meyakini. Lebih parahnya suka menghakimi – menghukumi. Suatu saat kalau sudah sadar. Minta maaf itu rasanya sukar. Beralibi panjang lebar. Membunuh diri tanpa berkabar.

Semua saling menasehati. Sama-sama susah menerima informasi. A ya A, B ya B, menolak ilmu C, apalagi pengetahuan D. “Nek ora iki ora!”. Islam kita kok jadi kaku? Atau aku yang belum tahu bahwa sejatinya Islam itu kaku?

Masak mengaku Islam tidak bisa membedakan mana kritik mana maki?

Nabi Muhammad itu lemah lembut, suka bercanda, bijaksana. Kalau kita sepakat sama-sama kembali ke sunah, minimal kajian kita sama tentang sebuah sejarah. Memahami kisah-kisah. Nabi kita tidak keras kepala kan? Kita tidak diajari untuk saling curiga dan membenci kan? Nabiku juga nabi kalian kan?

“Diam adalah emas”. Muhasabah agar hidup berkualitas. Menyadari batas. Jangan asal libas. Sedangkan yang kalian libas itu benda keras. Sama-sama rusak. Islam menjadi agama sesak. Akhirnya sadar kalau kita sama-sama tergeletak.

Baca Juga : Agama Sesak

Belajarlah mencintai. Belajarlah menghargai. Belajarlah memahami. Katanya Islam?

Kalau kalian merasa ada yang salah dalam pemahamanku, ajaklah ngopi.
Jika ada ilmu yang sama-sama belum tahu, jangan sungkan untuk mengaji.
Kalau kalian merasa aku sedang tersesat, ajaklah aku diskusi.
Jika ternyata kita sama-sama tersesat, tersenyumlah saling menghargai.

Ingin sekali aku memeluk kalian. Daripada saling hujat saat chattingan. Ingin sekali aku bercanda bersama kalian. Meskipun ribuan caci kalian akan berikan. Ingin sekali aku menggandeng kalian. Berjalan menuju angan-angan. Islam, katanya….

Pemahamanku tentu beda dengan pemahaman kalian. Tingkat keyakinanku tentu beda dengan tingkat keyakinan kalian. Hubungan bertahun saja kadang suka terjadi perbedaan – perselisihan. Tapi kata mereka, itu adalah bumbu keromantisan agar tidak terjadi kebosanan.

Maaf terlalu banyak berkeluh kesah. Mungkin aku merasa begitu gerah. Sesekali resah. Islamku kok jadi Islam marah? Mari sedikit kita merebah. Berangan tentang Islam yang ramah dan rahmah.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU