Categories: opiniSimponi

Islam, Proyek Konstruksi yang Mandeg

Share

Pernahkah terpikirkan oleh kita, kenapa dalam beragama seperti berjalan di tempat? Tidak berkembang dan itu-itu saja? Seperti sebuah konstruksi yang mandeg? Kita pasti setiap tahun menjumpai adanya adu pendapat tentang hal hal berikut : hukum rokok, hukum mengucapkan natal, hukum qunut, hukum tarawih 21 rakaat. Kenapa kita masih ribut urusan ritual seperti itu? Yang masing-masing punya pendapat dan setiap tahun saya mendengar pertanyaan dan jawaban yang sama pula?

Kenapa kita tidak berpikir, “Bagaimana pergi ke bulan?”, atau “Bagaimana alam raya berkembang?”, atau “Bagaimana cara pergi ke satu tempat dalam sekali kedipan?”. Bukankah dengan mengetahui fenomena2 alam dan segala ciptaan-Nya kita lantas semakin mantap beragama? Dengan begitu kita lantas tidak terjebak dalam kegiatan-kegiatan ritualistik tanpa mengetahui esensinya. Mengapa bukan pertanyaan-pertanyaan yang terakhir tersebut yang kita perdebatkan? Apakah tempat ibadah sudah begitu tertutup untuk berpikir? Coba kita renungkan sejenak!

Jika kita menengok ke belakang kita tahu peradaban islam berkembang pesat dalam keilmuan, seni dan teknologi saat itu pada masa dinasti abassiyah yang berpusat di kota baghdad. Khalifah Harun Ar Rasyid begitu getol mengembangkan pendidikan dan perpustakaan sehingga banyak terlahir cendekiawan yang menghasilkan karya-karya luar biasa. Pada masa ini dirumuskan cabang ilmu baru yang masih kita pelajari hingga saat ini: Sebut saja nahwu, shorof, balaghah, mantiq, tafsir, fiqih, filsafat dan seterusnya. Pada masa ini terdapat distorsi pemikiran besar-besaran di kalangan umat islam berkaitan dengan sikap kritis dan rasional setelah Al Ghazali mengkritik dengan keras pemikiran-pemikiran para filsuf yang menurutnya mereka sudah keluar dari agama islam.

Kritik Al Ghazali ini sangat mempengaruhi seluruh umat islam saat itu karena beliau adalah pengajar yang paling terkemuka saat itu sehingga murid-murid beliau sangat banyak. Kritik inilah yang menghasilkan nalar yang cenderung tekstual dan taqlid serta diwariskan turun temurun dalam peradaban islam. Al Dzahabi (seorang ulama yang hidup pada masa dinasti abasiyah, sezaman dengan Imam Malik, Abu Hanifah, dan Sufyan Atssauri) mengatakan secara eksplisit bahwa ilmu adalah apa yang ditransmisikan dari guru ke murid apa adanya. Dengan kata lain ilmu yg dimaksud berlawanan dengan istilah “akal” dalam arti sikap kritis dan rasional. Pada akhir masa ini sekaligus terjadi dekonstruksi sikap ilmiah di kalangan cendekiawan muslim sehingga dinasti-dinasti selanjutnya ilmu sains tidak berkembang bahkan sampai sekarang.

Berangkat dari sini bisa kita pahami kenapa peradaban arab begitu tertinggal jauh dari peradaban barat. Sains dan ilmu pasti yang menjadi metode berpikir barat menemukan masanya ketika ilmu-ilmu tersebut bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan roda kereta uap. Pada akhirnya sikap ilmiah yang berangkat dari rasio dan kritisismelah yang menjadi penentu kemajuan suatu peradaban. Bangsa Arab (atau peradaban Islam secara umum) yang menafikan persoalan rasio harus bercermin kembali agar dapat berkembang seiring tuntutan zaman. Dalil naqli memang lebih dihargai keabsahannya karena lebih dekat kepada Tuhan, tetapi yang tidak kita pahami bahwa dalam proses pembukuan dan penyusunan dalil-dalil tersebut pun tidak lepas dari akal sebagai alat tafsir. Misalnya dalam periwayatan hadits, satu perawi dan perawi lain memiliki standar masing-masing untuk menggolongkan satu hadits memiliki tingkat shohih, hasan, maudu, atau dhoif. Ini yang tidak dipahami sebagian besar umat islam.

Cara pandang tekstualistik dalam budaya Arab Islam memang sudah mendarah daging bahkan sudah menjadi metode berpikir. Anda hanya akan dikatakan benar jika anda merujuk pada perkataan seseorang di zaman dahulu, semakin dekat dengan zaman Rasul semakin dekat pula ia dengan kebenaran. Hal ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan karena metode berpikir seperti ini akan menabrakkan masa lalu dengan masa sekarang.

Masa lalu dan sekarang seperti hadir keduanya di hadapan kita. Padahal boleh jadi keduanya memiliki konteks budaya berbeda. Budaya ini menjadi faktor penting yang menjadi penentu kebenaran atau ketidakbenaran sesuatu. Contohnya di negara Jepang memegang kepala orang lain yang baru dikenal tidak menjadi persoalan. Tapi akan jadi persoalan jika dilakukan di Jawa. Sebaliknya metode berpikir tekstual Arab secara tidak langsung juga mempengaruhi metode berpikir umat Islam karena Islam bersumber dari Arab. Kita jadi berpandangan jika memakai jubah maka akan lebih dinilai orang islami. Padahal di negara Arab perampok pun memakai jubah.

Untuk menjadikan Islam sebagai ajaran universal dan kebenarannya tetap di setiap zaman. Maka persoalan budaya tersebut harus diperhatikan untuk mendekonstruksi pemikiran tekstualistik. Caranya dengan membandingkan dengan budaya dahulu sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh ke depan. Setelah itu baru lah proyek konstruksi nalar bisa dibangun kembali yang tentunya berimbang antara teks, akal, dan pengalaman. Dengan begitu kemajuan islam yang pernah memuncak di masa lalu dapat diulangi sekali lagi.


A. Fatoni – Seni tablig Seniman NU