Islam Bukan Arab, Bro!

Suatu ketika, ada pesan singkat masuk ke WhatsApp saya. Awalnya, saya pikir dari sang “bidadari surga”. Nyatanya, dari seorang kawan lama yang sempat hilang tak tentu rimbanya. Dalam pesannya itu kira-kira ia bilang gini, “Bro, pinjemin buku-buku Islam yang kamu punya itu, biar ngarab (baca: arab) banget”. Saya yang membacanya, sontak tak tahan terkagum-kagum, sambil salto kalau bisa. Batin saya, “Iki bocah guyone saru“.

Saya pun membalasnya, “Boleh bro, tapi saranku nih ya, kalau mau ngarab tuh gampang, tinggal pakai celana cingkrang, pakai surban, gamis, beli wak doyok buat numbuhin jenggot, dan ngomong pakai bahasa Arab sepatah dua patah kata. Paling mahal ngemodal 50 ribu lah, nggak usah capek-capek baca buku-buku Islam, Bro.”

Kawan saya yang pintar itu langsung muter otak sampai gliyengan. Sebab, beberapa menit kemudian, ia membalas chat saya dengan dalil-dalil sahih lengkap dengan penjelasannya yang njelimet. Sampai akhirnya terjadilah debat kusir sampai kepalaku mumet tak karuan.

Persoalan Islam itu Arab atau bukan, sebetulnya sudah sering dibahas. Bahkan oleh kiai-kiai ngetop seperti Mbah Gus Mus dan Habib Quraish Shihab yang kultumnya itu bisa dipantengin di kanal-kanal YouTube, atau melalui artikel-artikel para intelektual yang berseliweran di media daring dan cetak.

Memang, ada yang bilang Islam itu Arab karena muncul di sana. Jadi Islam sama Arab itu identik, tidak bisa dipisahin. Ada juga yang bilang kalau Islam itu bukan Arab. Dalam arti, tidak selalu identik dengan Arab. Karena orang Arab belum tentu lebih Islami dari orang Gunung Kidul atau Gombong. Orang yang pakai gamis belum tentu lebih Islami dari orang yang pakai kaos oblong. Nah, biasanya yang ngomong gitu pasti dituduh liberal, antek-antek zionis, sekular, dan sebagainya.

Tak apa, jika saya harus dituduh liberal, antek zionis, sekuler, marxis tulen, dsb. karena harus sepakat dengan pendapat yang terakhir itu. Ya, meski yang dimaksud liberal atau apalah itu tak pernah jelas. Apakah yang dibilang liberal ini cenderung individualistik, materialistik, yang selalu mengagungkan akal (yang angkuh) dan menomor duakan agama? Hanya Ustaz Felix Siauw yang tahu.

Bagi saya sederhana saja, Islam itu bukan Arab titik, meski muncul di Arab. Makanya Islam pakai bahasa Arab yo wes wajar. Kalau turunya di Suriname, bahasanya juga bahasa Suriname kan? Masa pakai bahasa Jowo, ya nggak masuk akal toh.

Biasanya yang gitu tuh, hanya sibuk pada kulit islamnya saja, tidak sampai ke siki atau esensi. Orang yang hanya puas dengan kulit biasanya merasa puas dengan berpenampilan ngarab. Maka sudah lumrah kalau mereka yang merasa paling ngarab itu gampang “ngafir-ngafirin” orang lain. Sedangkan kalau sudah sampai pada siki atau esensi, mungkin nggak bakalan seperti itu.

Saya jadi ingat perkataan Gus Dur, “Islam tidak datang untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi “ana”, sampean jadi “antum”, sedulur jadi “akhi”. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajaran Islamnya, tapi bukan budaya Arabnya.”

Saya kasih contoh deh. Jika ada orang Arab yang bilang pada bidadari surganya, “Ana uhibbuki ya zawajati”, lalu ada orang Inggris yang bilang pada bidadari surganya juga, “I love you my wife”. Hayo, mana di antara keduanya yang lebih Islami?

Kalau Anda pilih yang orang Arab, aku kira sesat pikir Anda, mengutip Bang Rhoma, sudah terlalu. Saya saranin deh agar Anda segera pergi ke klinik terdekat, periksain otak Anda, barangkali aja ada gejala keram urat saraf. Atau Anda bisa pergi ke toko buku terdekat. Terus cari rak buku filsafat yang biasanya ada di pojokan. Nah, kalau sudah ketemu, cari buku yang judulnya “pengantar logika”, lalu pergi ke kasir atau kalau tidak punya uang, ya menangis.

Seperti kata Mbah Gus Mus, “Meniru Nabi Muhammad Saw. tidaklah dengan cara memakai jubah, surban, dan berjenggot. Orang-orang Arab yang memusuhi Nabi dulu juga memakai surban dan jubah, contohnya Abu Jahal. Jika pakai jubah tapi wajahnya selalu marah, maka itu bukan pengikut Nabi Muhammad, tapi mengikuti Abu Jahal”.

Lagian kalau Islam itu Arab, Islam bakal kesulitan untuk menyebarkan ajarannya yang mulia ke pelosok-pelosok desa yang orang-orangnya punya tradisi atau budaya berbeda. Mungkin, tak bakal sampai ke Spanyol, Jepang, dan bahkan Gunung Kidul. Jika Islam itu Arab, maka ia tidak bisa jadi universal, agama rahmatan lil alamin, karena sifatnya yang eksklusif, tertutup, yang hanya bisa dipahami oleh orang Arab saja. Makanya Islam itu rahmat bagi seluruh alam, sebab Islam itu terbuka, tidak hanya untuk orang Arab saja. Namun, untuk semua mahluk, dari manusia sampai dedemit. (Ada loh dedemit yang Islam).

Sekarang terserah Anda, mau memandang Islam itu gimana. Kalau saya sih jelas bahwa “Islam bukan Arab, Bro!”.


Dedi Sahara – Seni tablig Seniman NU

Satu tanggapan untuk “Islam Bukan Arab, Bro!

  • 14/01/2019 pada 22:20
    Permalink

    Keren, bener banget ini… Aku tau penulisnya hihihi tulisannya emg bagus2 😍

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!