Indonesia dan Politik Sara

Kemelut perpolitikan indonesia saat ini sedang mencapai puncaknya setelah lama tanpa suara sejak masa reformasi. Suasana yang begitu tidak sehat seperti sekarang ini terakhir kali menurut catatan saya saat rezim orde baru berkuasa. Saat itu untuk memuluskan jalan politik serta menjamin kelanggengan kekuasaannya, rezim orba memulai siasat politik saranya. Konon siasat itu pula yang berhasil menumbangkan rezim orde lama dan mengganti pucuk kekuasaan ke tangan soeharto dengan isu isu berbau sara tentang Partai Komunis Indonesia yg saat itu masih legal. Pada masa orba sering sekali terdengar desas desus dengan sinis menunjuk etnis tionghoa yang dianggap bangsa asing, bukan keturunan orang indonesia asli. Stigma tersebut lantas merambah ke hal-hal yang bersifat personal misalnya ada anggapan bahwa orang Tionghoa itu kikir, pelit, dan serakah. Hal ini yg semakin membuat etnis tionghoa di indonesia semakin teralineasi. Ditambah lagi kebijakan orba yang tidak mengakui agama nenek moyang mereka (konghuchu) serta penghapusan sejarah peran etnis tionghoa dalam merebut kemerdekaan indonesia. Situasi yang demikian pelik kemudian pada puncaknya menciptakan gelombang amarah masyarakat indonesia yang telah lama mengalami ketidakadilan dan tindakan sewenang wenang dari rezim orba sehingga dimulailah masa reformasi.

Setelah presiden ke-3, BJ. Habibie lengser dari kursi kepresidenannya saat itu masih pula terdengar suara suara yang bernada sara di tengah tengah masyarakat indonesia. Hal ini bila dibiarkan maka akan berpotensi besar terjadi perpecahan bangsa karena stigma yang dibuat secara politis oleh rezim orba telah mendarah daging dan diwariskan ke generasi selanjutnya sehingga perbedaan menjadi semakin tajam. Permasalahan ini lantas menjadi perhatian utama Gus Dur sebagai presiden selanjutnya untuk meredam konflik antar golongan yang terjadi di masyarakat. Oleh sebab itu kebijakan Gus Dur kebanyakan berhubungan tentang kesamaan derajat, keadilan hukum, dan kasih sayang universal. Kebijakan kebijakan gus dur tersebut terbukti sukses meredam konflik kesukuan yg pernah memanas. Bahkan sejak saat itu mulai banyak diadakan diskusi dan dialog antar agama. Sesuatu yg sangat mustahil terjadi di jaman orde baru yang begitu mensuperiorkan suku jawa dan agama islam atas suku dan agama lain.

Saat ini, ternyata warisan primordial dari orde baru tersebut belum juga hilang sepenuhnya. Sisa-sisa sentimen antar golongan khususnya kepada etnis tionghoa malah diangkat kembali ke publik saat pilgub DKI beberapa waktu lalu. Suasana semakin runyam saat diperkeruh oleh golongan mayoritas radikal yang ditunggangi oleh kepentingan politik transnasional yang menyerukan negara agama. Apalagi kebanyakan penyeru gerakan radikal tersebut adalah bukan keturunan pribumi (read : etnis arab). Metode gerakan fundamentalis yang menurut orang indonesia pribumi sangat tidak bermoral (menebar berita palsu, menindas kaum lemah dan mengumbar ujaran kebencian) tersebut lantas ikut menciptakan kubu baru yang melawan tindakan sewenang wenang golongan mayoritas yang intoleran. Cara perlawanan kubu baru ini bermacam macam, mulai dengan mengkritik pemikiran mereka yang tidak logis sampai dengan membuat lelucon sarkastik tentang dalil dalil agama yang menurut mereka bertentangan dengan keadaan aktual saat ini. Peperangan dan tindakan saling mencela antar kubu ini justru dipermudah oleh media yang sedang pesat pesatnya berkembang saat ini. Hal itu semakin mengkerucutkan konflik yang terjadi karena medan perang yang dipakai bukan lagi di tanah akan tetapi sudah melalui media udara dengan kecepatan pengiriman amunisi sepersekian milidetik saja dari tempat paling jauh sekalipun. Setiap orang bebas bersuara dan menyampaikan pandangan masing masing. Sayangnya tingkat kecanggihan teknologi yang dicapai tidak dibarengi dengan kesiapan mental sehingga kebanyakan orang indonesia yang notabenenya masih awam dengan media bernama internet tersebut akan mudah disesatkan melalui berita berita palsu yang bertebaran di dalamnya. Dengan begitu si pemilik kepentingan akan mudah saja mempengaruhi pemikiran orang banyak tanpa pula repot repot berteriak teriak di jalanan.

Dari sini kita sebagai anak bangsa yang tidak menghendaki perpecahan dalam tubuh NKRI ini seharusnya bertindak sewajarnya saja jangan sampai memperuncing konflik yang sedang terjadi. Jangan sampai menjudge orang lain yang berbeda dengan kita tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Terlebih jika masih kurang bisa membedakan mana berita yang asli dan mana berita yang palsu. Dan yang paling parah jika diri ini masih banyak kesalahan tapi sudah berani menyalahkan orang lain, maka cepat cepat beristighfarlah sebelum terlambat, sahabat.


Achmad Fatoni – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!