Imam Al Ghazali: Ihya Ulumudin #2

Melanjutkan kisah dari biografi Imam Al Ghazali sebagai salah seorang ulama yang begitu dikagumi kalangan ahli tasawuf muslim di dunia. Di akhir perjalanan Imam Al Ghazali, beliau kembali mengajar di daerah asalnya, Thusia. Mendirikan madrasah dan pondok bagi para sufi di samping rumahnya. Kehidupannya dihabiskan hanya untuk beribadah, salat, silaturahmi dengan para sufi (ahli tasawuf), mambaca Alquran, begitu seterusnya sampai akhir hayatnya. Imam Al Ghazali meninggal hari senin tanggal 14 jumadil akhir 505 H (1111 Masehi) di Thusia dalam keadaan khusnul khatimah.

Jenazah beliau dimakamkan di Ath-Thabiran. Sebelum meninggal dunia beliau berpesan, “kuletakkan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku di lipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa mendatang”

Baca Juga : Imam Bukhari, Amirul Mukminin Fil Hadits

Bak dayung bersambut, nama Al Ghazali begitu mahsyur sampai sekarang. Bukan hanya keberkahan bagi kaum muslim yang memiliki sosok Al Ghazali sebagai pemikir ulung, namun karya Al Ghazali juga sangat diminati oleh non-muslim yang begitu tergelitik dengan pemikiran-pemikiran besar Al Ghazali. Di Barat ada dua kitab yang begitu terkenal di kalangan filsuf, yakni kitab Maqashidul-Falasifah (maksudnya ahli-ahli filsafat), yang kedua adalah kitab Tahatiful Falasifah (Kesesatan ahli-ahli fildafat).

Dua kitab tersebut adalah rangkaian sebagai penggambaran dan kritikan tajam Al Ghazali terhadap gaya pemikiran filsafat sebelumnya. Gagasan ini yang sempat mengegerakan dunia filsafat ketika itu. Semangat dan sesuatu yang baru ditawarkan Al Ghazali yang tidak pernah lekang oleh waktu untuk dikaji.

Al Ghazali mengikuti aliran filsafat Madzab Bissiyat – madzab perasaan. Menurut beliau, perasaan boleh keliru, tapi akal manusia juga tidak terpelihara dari kekeliruan dan kesesatan. Tidak ada kebenaran yang bisa sendirinya didapat, semau-maunya. Akhirnya ada variabel aksioma yang penengah antara akal dan perasaan yang datangnya hidayah dari Allah. Demikain yang menuntun kerendahan hati Imam Ghazali dengan mengutipkan Allahu ‘alam – Allah yang Maha Tahu di setiap akhir pernyataannya.

Beberapa ulama yang menentang pemikiran dari Imam Ghazali yakni, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim, dan lain-lain.

Di bagian barat, Al Ghazali mendapat perhatian khusus sebagai salah satu dari empat orang muslim yang berpengaruh sepanjang masa. Yakni Nabi Muhammad Saw, Imam Al Bukhari (ulama hadis terbesar), Imam Al Asy’ari (Ulama tauhid termasyhur), dan terakhir adalah Imam Al Ghazali (pengarang Ihya’ Ulumudin).

Ilmu tasawuf itu perlu untuk memupuk perasaan halus pada diri manusia atau ‘athifah. Syariat digunakan untuk mengatur kehidupan sehari-hari berdasarkan sunah Rasul, tetapi kadang menjadi kaku dan kehilangan intisari karena hanya tunduk pada apa yang tertulis (tekstual), sehingga ada batasan manusia dalam berfikir, berimajinasi, dan merasa. Syariat tanpa hakikat, bagaikan bangkai tak bernyawa. Sebaliknya, hakikat tanpa syariat, bagaikan nyawa tak bertubuh.

Ihya Ulumudin menggabungkan keduanya menjadi sebuah ilmu yang utuh bagi kehidupan manusia. Di dalam kitab tersebut terdapat ilmu dan hikmah-hikmah yang tinggi. Kadang disebut juga dengan filsafat atau ilmu kalam. Apabila ilmu telah dihidupkan kembali, syariat mesti berjodoh dengan hakikat, amal saleh harus disenyawai dengan iman. Di samping riadlah jasmani, juga harus ada riadlah an-nafs atau qalb. Maka akan ditemukan Haqiqat Al Hajjah (hidup yang sejati).

Baca Juga : Meneladani Sang Guru Bangsa Gusdur

Ajaran filsafat etika atau akhlak Al Ghazali sampai sekarang masih menjadi bahan yang kaya untuk dipelajari dan renungkan. Para orientalis barat berpendapat bahwa keraguan Descartes didapat dari keraguan Al Ghazali. Karena keraguan adalah tangga menuju keyakinan. Kupasan Al Ghazali tidak akan ada habis-habisnya untuk menjadi bahan kajian ilmu tasawuf, akidah, filsafat, akhlak.

Di dalam perkembangannya, ajaran ilmu tasawuf dari Imam Al Ghazali sangat berpengaruh di Indonesia. Sejak kerajaan Samudera Pasai yang dibawa dengan Madzab Syafi’i. Imam Ghazali adalah ulama “muta-akhirin” pada masa itu. Di ujung abad 18, Syekh Abdus Samad Al Falambani mengambil intisari dari kitab Ihya dan menyalinnya dalam bahasa Indonesia (melayu lama). kemudian tersebar ke ulama-ulama Aceh. Dan di Jawa yang diliterasikan lewat Arab Pegon.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!