Idul Adha sebagai Titik Perenungan: Persatuan

Hari ini tepat pada 10 Agustus 2019, sekitar 7,3 miliar penduduk muslim di bumi merayakan Idul Adha. Tabuhan bedug ditambah suara takbir, “allahu akbar allahu akbar menggema ke seantero pelosok bumi. Tua dan muda bersatu dalam satu teriakan yang sama, yakni takbir. Indah dan harmonis.

Di padang Arafah, jutaan ummat muslim juga bersatu dengan pakaian yang sama, yakni kain ihram, dari tua sampai yang muda, pria dan wanita, semua sama di mata Allah, putih bersih bersahaja. Sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, semua jamaah haji sudah harus berdiam diri di padang Arafah, wukuf sebagai proses mengenali “siapa saya?!” dan “kepada siapa saya harus menyembah?!”. Semua terdiam.

Sedangkan di Indonesia, khususnya di Jawa, Idul Adha dimeriahkan dengan pawai kostum, dari remaja sampai dewasa, semua menggunakan busana Jawa. Sampai-sampai mobil pick-up atau truk sekalipun juga dibusanakan. Semua berkeliling kampung dan menyusuri jalan raya dengan satu teriakan yang sama, takbir!

Baik di padang Arafah dengan kostum yang sama, juga di Indonesia khususnya di Jawa dengan kostum yang sama, hal ini memperlihatkan adanya aktualisasi nilai-nilai persatuan yang sangat nyata. Mungkin inilah maksud Allah mempersembahkan pada hamba-Nya melalui perayaan Idul Adha, bahwa persatuan ini sangatlah penting, wallahua’lam.

Namun, terkadang manusia sering lupa bahwa persatuan ini sangatlah penting. Penyebabnya ialah karena manusia belum sadar dengan dirinya sendiri bahwa manusia hadir dalam situasi yang sangat majemuk. Padahal, kemajemukan ini diciptakan Tuhan agar manusia selalu sadar dengan dirinya sendiri.

Baca Juga: Pedoman Hidup Umat Muslim

Snijders, dalam bukunya Manusia Paradoks mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat unik. Atas dasar keunikan inilah maka kemajemukan mutlak terjadi. Oleh sebab itu, sadar dengan diri yang unik akan mengantarkan manusia pada anggapan bahwa kemajemukan adalah buah dari keberadaan dirinya sendiri, sehingga persatuan menjadi poin penting.

Dalam situasi yang sangat majemuk ini, maka kita sangat membutuhkan implementasi nilai-nilai kosmopolit, mungkin bisa dianggap sebagai tiang dari persatuan. Artinya, di samping sadar dengan keunikan diri sendiri, juga diperlukan nilai-nilai kosmopolit sehingga persatuan dapat terjadi. Menurut waliyullah Gus Dur bahwa nilai-nilai kosmopolit bertumpu pada lima sumber utama, yakni keselamatan fisik, keselamatan keyakinan agama, kesalamatan keluarga dan keturunan, keselamatan harta benda dan profesi, serta keselamatan hak milik.

Hal yang paling utama dari nilai-nilai kosmopolit ini ialah pada kata “keselamatan”. Bahwa Islam juga mengajarkan konsep keselamatan, sebagaimana yang di serukan Rasulullah saat melakukan haji wada’ di hari raya idul adha kala itu. Rasulullah menyerukan:

Wahai sekalian manusia. Dengarkan kata-kata ini dan perhatikan! Setiap muslim adalah saudara buat muslim yang lain, dan kaum muslim semua bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.

Melalui pesannya itu, Nabi mengingatkan kepada umatnya untuk saling memelihara persaudaraan. Melalui persaudaraan akan bertambah rasa cinta manusia satu sama lain. Dalam Islam, rasa cinta demikian tidak hanya terhenti pada batas-batas tanah air tertentu. Karena itu, manusia dari segenap penjuru dunia diminta untuk berkumpul di satu irama yang sama, tanpa adanya diskriminasi. Dan, tempat berkumpul terbaik untuk itu ialah di tempat memancarnya cinta ini, yakni di Baitullah. Dan itulah ibadah haji.

Jika kita perhatikan seruan Rasulullah itu, sebagaimana juga selaras dengan maksud waliyullah Gus Dur, maka sebetulnya umat muslim sudah memiliki sederet perkakas untuk membangun rumah persatuan. Oleh sebab itu, perayaan idul adha ini pun juga sebagai titik perenungan bahwa umat muslim harus menyadari keunikan diri sendiri melalui keberadaan perkakas kosmopolit ini, dan kapan digunakan perkakas ini adalah soal waktu saja. Semoga di hari Idul Adha ini kita semua kembali pada hal-hal yang dimaksud Allah dan Rasul-Nya, bahwa persatuan ini sangatlah penting. Wallahua’lam…


Muh Kashai Ramdhani Pelupessy – S2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!