Agama Kemanusiaan

Betapa sensitifnya kalau kita bicara agama kepada yang berbeda keyakinan dengan kita. Apalagi menyangkut hal-hal yang seharusnya tidak diketahui oleh pemeluk agama lain. Jangankan yang berbeda agama, sesama muslim saja mungkin kita teramat malu/ sungkan untuk mendebatkan soal keyakinan. Lantas sebegitukah sensitif agama dipeluk oleh umatnya?

Ketika ada kekerasan atas nama agama. Cacian, umpatan, kebencian, hingga pembunuhan atas dalih jihad – meneriakan kebesaran Tuhan. Siapa sebenarnya yang salah? Agamanya atau Manusianya?

Tulisan ini semoga bisa menjadi perenungan, bukan hanya sesama saudara muslim, tapi juga non-muslim di seluruh dunia. Bahwasanya, sisi kemanusian itu lebih penting dari agama: Humanity above Religion! Sebelum memprasangkai saya tentang liberalisme, komunisme, atau yang lain, eloknya kita bisa sempatkan untuk membaca tulisan KH. Abdurrahman Wahid di Libforall foundation yang berjudul “God Need No Defense“.

Baca Juga : Toleransi Kok Gitu?

Dalam konsep kehidupan, tanpa agama sekalipun, manusia tetap akan berfikir dan merasakan kalau mencuri, membunuh, dan menyakiti orang lain itu perbuatan buruk. Sehingga manusia secara nurani bisa membedakan mana yang haq dan yang bathil. Agama hanya sebuah identitas bagi pemeluknya untuk melakukan sesuatu yang dianggap baik oleh ajarannya. Menjadikan agama di atas segalanya, berarti melakukan segala bentuk ketidakmanusiaan kepada sesama. Terjadilah perilaku intoleran, radikalisme, hingga terorisme atas nama agama.

Apakah agama mengajarkan yang demikian?
Tuhan menciptakan dan menakdirkan perjalanan kehidupan manusia dengan welas asih. Nabi Muhammad pun mengajarkan perilaku yang mencerminkan manusia penuh kasih sayang. Kisah nabi sebelumnya juga demikian, menyuruh menerbarkan cinta kasih kepada sesama. Lalu cerminan apa dan siapa tentang pembunuhan dan kekerasan terhadap sesama?

Doktrin serta pemahaman agama yang kurang lengkap, membuat pemeluk agama tidak bisa melihat keluwesan agama itu sendiri. Agama bukan sebuah objek yang mencekam dan menakutkan bagi pemeluknya. Manusia yang memeluk agama, seharusnya menjadikan mereka lebih tenang, damai, dan bahagia – bukan sebaliknya. Kelengkapan pemahaman tentang sebuah agama, akan menjadikan manusia bisa berlaku toleran.

Saya pun tertarik dengan penggagas “Humanity above Religion” yang sedang viral, yakni Tretan Muslim. “Baru belajar agama satu menit di Instagram tapi sudah merasa memahami agama”. Sebuah sindirian bagi kita yang hanya menghibahkan diri untuk belajar agama via media sosial. Sedangkan ribuan kitab dan ulama tersebar di sekitar kita.

Agama identitas menjadikan manusia begitu kaku menilai sebuah agama. Misalkan kasus perang di Palestine, Rohingya, Uighur, dan lain sebagainya. Para pelaku agama tersebut berlomba menjadi manusia eksistensial dalam sebuah kelompoknya. Memekikan suara-suara jihad sebagai bentuk perlawanan memerangi agama lain. Paradigma bahwa kami benar dan kalian salah. Sedangkan semua pemeluk agama juga meyakini demikian. Sehingga minoritas menjadi sasaran kekerasan oleh oknum yang merasa agamanya berkuasa dan paling kuat.

Tuhan menyuruh hamba-Nya untuk menyampaikan kebenaran, soal bagaimana orang lain menyikapi kebenaran yang disampaikan itu diterima atau tidak adalah hak mutlak dari Tuhan itu sendiri. Agama tidak mengajarkan pemaksaan kepada manusia lain. Semua punya hak, tergantung bagaimana manusia menggunakan hak dalam beragama tersebut. Manusia tidak mengetahui takdir manusia lainnya, apakah suatu saat menjadi kafir, muslim, penjahat, ulama, dan lain sebagainya. Pemeluk agama seharusnya menawarkan sisi keindahan dari agama itu sendiri. Keindahan yang bisa dinikmati dan menarik untuk diikuti – bukan sebaliknya.

Baca Juga : Tanpa Pluralisme Tidak Akan Ada Indonesia

Humanity above Religion adalah sebuah prinsip bagi setiap orang yang sedang dalam perjalanan untuk mempelajari agama supaya tidak terjebak di jalan yang sesat. Karena setiap agama yang ada di Indonesia sangat memegang nilai-nilai kemanusiaan perbedaannya hanya pada cara mewujudkan kemanusiaan tersebut.

Seperti dalam kajian-kajian para alim ulama, “Jika tidak bisa menghargai mereka karena berbeda keyakinan, hargailah mereka sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan”. Menekankan bahwa kita itu sama di hadapan Tuhan. Tidak perlu merasa paling benar dan saleh. Manusia hanya diberikan rambu tentang perilaku baik dan buruk. Kebaikan ucapan dan perilaku seharusnya bisa difilter oleh masing-masing manusia. Ternyata ada yang lebih tinggi dari agama, yaitu kemanusian. Agama seharusnya mengajarkan bagaimana kita bisa memanusiakan manusia.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!