Categories: opiniSimponi

Kita yang Belum Siap Menerima Perbedaan

Share

Saya seneng sekali ketika Mbah Nun memberikan analogi tentang sebuah kebijaksanaan. Bagaimana kita bisa meminimalisir melihat perbedaan dan memaksimalkan melihat persamaan. Tidak lagi melihat pohon cemara, pohon jati, rumput, beringin. Tapi dengan indah disebutnya tumbuhan atau pepohonan.

Ilmu akan selalu mengalami perkembangan. Mencari identitas pembenaran masing-masing. Melihat secara mikro dan saling tuduh untuk mencari kemenangan individu atau kelompok. Bahkan bagi pejuang perbedaan sekalipun.

Memang… Kita belum siap menerima perbedaan. Saya menggunakan diksi “kita”, agar bisa lebih muhasabah diri – termasuk saya sendiri. Ketika dalam beberapa kesempatan saya selalu mempresentasikan agama cinta, sedangkan kita yang teramat sulit untuk menumbuhkan jiwa itu terhadap sesama. Bagaimana bisa mencintai, jika perbedaan saja tidak bisa kita maklumi? Katanya pejuang toleransi?!

Jika kita mengulik beberapa fenomena gejala keagamaan akhir ini, betapa mirisnya melihat pertikaian antar sesama. Seperti kasus acara Ustaz Abdul Somad di Komisi Pemberantasan Korupsi. Memang secara administrasi salah, karena diadakan oleh beberapa karyawan tanpa sepengetahuan direksi (empunya KPK). Namun menjadi runyam saat ada pernyataan bahwa KPK butuh penceramah yang inklusif. Yang menjadi PR adalah bagaimana mengidentifikasi penceramah inklusif dan eksklusif? Bisa menjamin bahwa setiap yang ulama ataupun mungkin kita sendiri lakukan tidak dilandasi sikap fanatisme dan keyakinan akan eksklusifitas diri atau kelompok?

Sedangkan sebaiknya adalah bagaimana kita bisa menerima setiap metode dakwah yang disampaikan oleh siapapun, itu yang namanya toleransi – sikap menerima perbedaan. Bukan malah membenci dan “mempersekusi” segala bentuk dakwah yang berbeda dengan kita. Toh, kita juga marah kan misal ada yang membenci, memfitnah, dan membubarkan pengajian yang sealiran dengan kita. Kembali diingatkan tentang konsep muhasabah.

Baca Juga: Tentang Kasus UAS

Paling hangat dan menjadi viral dalam akun-akun dan grup agama adalah tentang pernyataan Ustaz Abdul Somad yang mengharamkan catur. Memang…. kita yang belum siap menerima perbedaan.

“Menurut Imam an-Nawawi dari kalangan mazhab Syafi’i: Main catur itu makruh. (Tapi jika melalaikan shalat, jadi haram). Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad: haram. Imam Malik: catur lebih jelek dari dadu, karena lebih melalaikan. (Sumber: Syarh Shahih Muslim: juz.15, hal.15)” tulis UAS dalam akun Instagram @ustadzabdulsomad_official’s

Padahal perbedaan pendapat di antara alim ulama itu lumrah, dan ini yang sering dipelajari di pondok pesantren. Demikian yang menjadikan unggul para santri karena mampu menguasai berbagai aspek madzab berdasarkan matan, sanad, dan lain sebagainya.

Tapi memang karakter kita yang lebih bangga untuk mempermalukan dan menghinakan sesama, maka hal tersebut lekas viral dan menjadi lelucon. Penggemar UAS pun membentuk barisan untuk melempar wacana dan argumentasi dari berbagai referensi kitab hadis. Seperti halnya juga ketika ada ulama yang melekat kenahdliyinannya, sebut saja KH. Aqil Siradj yang jika ada ketidaksesuaian sebuah pendapat, lantas mereka yang tidak setuju segera memviralkan dan mencari celah untuk “dikebiri” kapasitas keulamaannya. Hal serupa juga dilakukan dengan saling perang argumen untuk membela tokoh yang sesuai dengan pemahamannya. Memang…. kita yang susah menerima perbedaan.

Sebenarnya kasus hukum catur itu sangat sepele. Maksudnya, kalau memang meyakini haram ya silahkan ditinggalkan, kalau memang menganggap catur adalah permainan kegemaran para sahabat yang digunakan untuk mengatur strategi peperangan, ya silahkan. Bukan malah menjadi sebuah senjata untuk memuaskan nafsu untuk mempermalukan ulama yang berbeda paham dengan kita.

Katanya aswaja itu sangat luwes melihat perbedaan pendapat di kalangan empat madzab – tidak kaku pada satu madzab, Imam Syafi’i misalnya. Lha padahal banyak umat nahdliyin yang tidak sepakat sama penggunaan cadar, sedangkan bagi Imam Syafi’i itu wajib lho. Terus diluweskan oleh Imam Maliki yang memakruhkan pemakaian burqa’.

Jadi sudahkah siap kita menerima perbedaan pendapat? Tanpa mengolok-olok kepada mereka yang kita anggap berbeda pandangan. Misalpun tidak sepakat dengan tulisan ini, saatnya kembali diingatkan :

Memang, kita yang belum siap menerima perbedaan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU