Categories: opiniSimponi

Hidup Selembar Kertas

Share

Pada umumnya manusia hanya seputar lembaran selembar kertas. Berjuang dan bekerja siang malam untuk memperoleh kekayaan. Mendapatkan lembar demi lembar uang untuk membelikan keinginannya. Sedangkan dalam ilmu ekonomi, keinginan manusia tidak terbatas. Bahkan sudah banyak candaan sarkasme, “Hidup itu tidak melulu kaya. Yang penting cukup. Cukup membeli rumah, cukup membeli mobil, cukup membeli emas, dan lain-lain.”

Bukan hanya tentang uang. Tanda kelahiran seseorang pun juga dibuktikan dengan lembaran kertas (baca: akta kelahiran). Sayangnya setelahnya tidak diterbitkan akta kematian. Sehingga kertas hanya dihargai dalam realita kehadiran manusia itu sendiri. Sedangkan tujuan hidup yang hakiki manusia tidak pernah dianggap. Maksimal hanya sebatas surat lelayu yang sehari berikutnya dibuang ke tong sampah.

Baca Juga : Belajar Hikmah, Sahabat Sejati dan Palsu

Beranjak masa kanak-kanan, manusia kembali disibukan dengan kertas-kertas semacam rapot, ijazah sekolah, piagam penghargaan, dan kebanggaan-kebanggan sesaat lainnya. Menjelang dewasa mulai menidentifikasikan diri dengan surat kependudukan sebagai ikrar menjadi warga negara yang sah dan bisa mempertanggungjawabkan setiap pilihannya.

Masa bekerja manusia mulai mempersiapkan puluhan kertas untuk dijadikan prasyarat utama untuk mendapatkan “rezeki”. Meningkatkan kecerdasan seseorang juga mulai diukur dari banyaknya jumlah kertas yang dibaca. Membahagiakan seseorang juga dinilai dari banyaknya uang yang diberikan kepada sesamanya.

Tanda seseorang sudah menikah (berumah tangga) juga menggunakan kertas. Kemudian mereka membangun rumah juga berkaitan dengan kertas-kertas. Harga seseorang mulai bisa dihitung dari jumlah kertas berharga yang dimilikinya. Manusia menggantungkan diri pada sebuah kertas.

Fase Kehidupan Manusia

Saat anak-anak, mereka mempunyai banyak waktu dan kekuatan. Tapi tidak punya uang. Saat sudah dewasa, mereka memiliki banyak kekuatan dan uang meski harus mengorbankan waktu. Sedangkan ketika sudah menua, mereka memiliki uang dan waktu tapi tidak ada kekuatan. Fase tersebut jarang diperhatikan manusia dalam proses perjalanan hidupnya.

Namun yang membedakan di antara mereka adalah tentang kelapangan hati melihat jeratan duniawi. Tidak menghamba pada kertas-kertas. Ikhlas melakukan segala sesuatu demi agama. Sehingga tidak terlalu dipusingkan dengan segala permasalahan yang melibatkan tentang kertas.

Jika manusia sudah mereplikakan diri pada sebuah kertas. Hendaklah mereka bersiap terbakar, terbuang, dan hilang. Kerta-kertas tersebut diciptakan untuk memudahkan manusia sampai mereka lalai tentang tujuan dari penciptaan kertas itu sendiri. Pada akhirnya kertas menjadi simbol kemusyrikan manusia. Beribadah demi kertas. Bekerja demi kertas. Pintar, kaya, berharga, dinilai dari lembaran kertas. Tuhan mulai dinomorduakan.

Saat manusia mulai menyadari fase hidupnya yang tidak bisa lepas dari kertas, mereka akan mulai mencatat hal-hal yang dianggap penting dan disimpan. Memilah kertas mana yang seharusnya diperjuangkan dan kertas mana yang harus dibuang. Sehingga manusia bukan menjadi robot yang memang dipekerjakan untuk mencetak kertas layaknya pabrik percetakan.

Mendidikan sejak dini anak dengan mengajari membaca mushaf Alquran. Setelah dewasa mualai menulis sebuah karya untuk kebermanfaatan manusia yang lain. Saat tua mulai mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah dan mensedekahkan kertas untuk fakir miskin atau yang lainnya.

Baca Juga : Aksara Agama

Hidup Selembar Kertas

Pada akhirnya manusia juga akan kembali dilibatkan pada kertas-kertas pertanggungjawaban dengan malaikat di alam kubur atau akhirat. Membuka kembali lebaran catatan amal baik dan buruk, sampai surat keputusan manusia dinyatakan menghuni surga atau neraka.

Kelahiran manusia adalah selembar kertas kosong. Mereka mulai menulis lembaran-lembaran perjalanan hidupnya menjadi sebuah buku tebal. Ada yang menulisnya rapi dengan kutipan-kutipan hikmah. Ada yang menulis berantakan tak berpola. Ada yang berkisah layaknya sebuah naskah fiksi. Ada juga yang malah menggambar dengan disisipi kalimat puitis dengan diksi yang menarik.

Buku itulah yang akan mengukir fase perjalanan hidup manusia. Sekerasnya manusia melepaskan diri dari kertas-kertas duniawi, catatan maya “buku manusia” itu akan selalu mengenang meski mereka tidak sadar telah menulis panjang selama hidup di dunia. Kemudian mereka hanya akan membaca ulang setelah tidak lagi bisa menulis dengan tinta ucapan, perbuatan, dan pilihan hidup.


Joko yuliyanto – Seni tablig Seniman NU