Categories: LiputanSimponi

Haul Gus Dur ke-9

Share

Solo, 23 Februari 2019. Sudah sembilan tahun kita ditinggalkan sang guru bangsa Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid. Tepatnya pada tanggal 30 Desember 2019 yang lalu. Setelah melakukan rangkaian acara haul di beberapa daerah, kota Solo menjadi puncak dari peringatan haul Gus Dur yang ke sembilan.

Berlokasi di stadion R. Maladai Sriwedari, haul tahun ini dihadiri beberapa tokoh nasional seperti, ibunda Presiden Joko Widodo Sujiatmi Notomiharjo, Yenny Wahid, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Mochamad Effendi. Selain itu juga diisi ulama seperti Mahfud Md, Gus Mus, Gus Karim, dan lain sebagainya.

Acara dimulai dengan diskusi kebangsaan dan rangkaian kirab pluralisme dari Stadion Manahan menuju Stadion R. Maladi Sriwedari. Bukan hanya nahdliyin beserta atribut banom, namun juga berbagai umat dari lintas agama turut memeriahkan acara kirab yang sudah dimulai sejak jam 4 sore. Sekitar puluhan ribu peserta ikut melakukan kirab meskipun diguyur hujan deras di kota Solo. Hal tersebut yang menjadikan Yenni Wahid (Putri Gus Dur) menangis terharu melihat totalitas dan antusias peserta kirab untuk menyukseskan acara tersebut. “Hidup ini adalah cinta dan ibadah. Melalui haul malam ini, mari menebarkan cinta sesama manusia, kepada bangsa dan dunia” – Yenni Wahid

Setelah maghrib, jamaah semakin membludak. Meskipun tanah lapang stadion terlihat becek, namun jamaah tetap khusyuk mendengarkan tausiyah para tokoh di atas panggung. “Bapak (KH Maimun Zubair) berpesan agar saya bisa menemui Gus Dur setelah menikah. Namun kesempatan itu tidak pernah terjadi karena beliau sudah dipanggil Allah. Makanya dalam setiap haul Gus Dur saya tidak pernah absen. Ini sebagai ganti karena saya tidak sempat mengunjungi beliau”, ujar Taj Yasin (wakil gubernur Jawa Tengah). Menurut panitia, perkirakan sekitar 100 ribu lebih peserta memadati stadion dan yang menyakiskan di luar stadion.

Puncak Haul Gus Dur di Solo

Sekitar jam 8 malam, acara puncak haul di mulai dengan sambutan-sambutan dari tokoh-tokoh nasional. Kemudian juga disertai dengan bernyanyi lagu Indonesia Raya, Yalal Wathon, hingga Indonesia Pusaka. Para tokoh tersebut satu persatu menceritakan kenangan, pengaruh, dan keistimewaan Gus Dur lainnya. Diiringi dengan background panggung yang berisi qoute-qoute terkenal dari presiden ke-4 Republik Indonesia ini.

Sebelum mauidhah hasanah dari KH. Musthofa Bisri, Prof. Mahfud MD memulai mengenang Gus Dur dari sudut pandang demokrasi. Beliau bercerita bahwa sejak kuliah, Gus Dur sudah aktif menulis di berbagai media nasional. Sehingga mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini menyebut bahwa Gus Dur mempunyai banyak indetitas yang melekat dalam dirinya. Mulai dari ulama, negarawan, politisi, cendikiawan, budayawan, hingga bapak pluralisme.

Namun Mahfud MD, mengatakan bahwa yang lebih besar dari itu, Gus Dur adalah bapak demokrasi Indoesia. Menurut Gus Dur cara yang paling baik mengatur kemajemukan agar Indonesia kuat membangun negara demokrasi dan integrasi yang kokoh bersatu, yakni melalui mekanisme demokrasi. Sebab, di dalam demokrasi semua diuntungkan dan diberi kesempatan. Pengabdian Gus Dur kepada bangsa dilakukan dengan cara yang demokratis. Gus Dur tidak ingin ada kekerasan di dalam politik.

Menurut Mahfud MD, untuk membangun Indonesia yang demokratis harus dilakukan dengan 3 prinsip, yaitu kebebasan, kedudukan yang sama di hadapan hukum, dan jaminan kebersatuan. Gus Dur berpesan bahwa menghindari kerusakan itu lebih didahulukan daripada mencari atau merengkuh sesuatu yang lebih baik.

Baca Juga: Harkopnas Bareng Cak Nun

Gus Mus dalam Cinta

Acara puncak pada malam itu adalah tausiyah dari KH. Musthofa Bisri. Kiai yang juga merupakan pengasuh pondok pesantren Roudlotut Tholibin, Leteh, Rembang ini menjadi daya tarik jamaah dari berbagai daerah. Selain karena kedekatan beliau dengan sosok Gus Dur, Gus Mus juga saat ini menjadi ulama sepuh yang begitu dihormati oleh ulama-ulama di seluruh nusantara.

Awal-awal berceramah, Gus Mus sedikit mebercandai seperti tausyiah-tausiyah di berbagai daerah. “Gus Dur itu selalu menolak kalau diberi julukan wali. Kadang dia mengaku sendiri kalau dia itu wali, tapi wali murid.” Selain itu Gus Mus juga bercerita kalau Gus Dur itu orang yang tidak pernah takut melarat atau susah, dia hanya takut pada Allah. Bahkan saat dirinya disuruh lengser dari kursi presiden, dia yang langsung turun saja, Gitu aja kok repot!

“Beliau orang yang besar karena dekat dengan yang Mahabesar. Gus Dur ini orang yang dicintai banyak orang karena dia juga mencintai orang. Gus Dur itu habib yang sesungguhnya. Habib itu dalam bahasa Arab orang yang mencintai dan orang yang dicintai,” ucap Gus Mus

Gus Mus juga mengamini pesan Gus Dur bahwa jangan sampai kekuasaan mengorbankan bangsa itu sendiri. Itu yang membedakan negarawan dengan politisi-politisi biasa. Bahkan saat lengser sebagai presiden, Gus Dur tidak menunjukan kesedihan dan meminta pendukungnya tetap tenang dan menjaga persatuan.

Selain itu Gus Mus juga berpesan kepada seluruh jamaah untuk tidak begitu mengagungkan pemilu yang terjadi lima tahun sekali dalam bernegara. ”Karena takut kalah terus mengancam Gusti Allah. Pemilu jangan ajak-ajak Gusti Allah, Allahuakbar kok dinggo tukaran (dipakai bertengkar),” ujar Gus Mus yang diikuti gelak tawa para jamaah yang hadir di stadion R. Maladi Sriwedari.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU