Harkopnas Bareng Cak Nun

Muhammad Ainun Najib atau yang biasa disapa Cak Nun kembali hadir di bumi intan pari: Karanganyar. Setelah sebelumnya pada tanggal 3 Februari 2019 yang lalu sempat menghadiri peringatan harlah ke-93 NU yang diselenggarakan PCNU Karanganyar. Malam tadi (22/7) Sinau Bareng Cak Nun dan Gamelan Kiai Kanjeng hadir di tengah masyarakat untuk memperingati Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) di alun-alun Kabupaten Karanganyar.

Acara dimulai sekitar pukul 8 malam dengan pembawa acara yang menjelaskan rangkaian acara harkopnas dari pagi. Kemudian saat kru Gamelan Kiai Kanjeng memasuki panggung langsung membawakan beberapa lantunan selawat untuk menghibur jamaah yang memadati area lapangan alun-alun Karanganyar. Ketika Cak Nun datang jamaah segera disuruh berdiri untuk membuka acara dengan berselawat Shohibu Baity. Hadirin begitu khusuk menyanyikan selawat tersebut dari anak remaja hingga kakek-nenek dalam kerumunan jamaah lainnya.

Selesai berselawat, semua diminta duduk kembali yang kemudian dipancing Cak Nun dengan beberapa sentilan makna koperasi. Tujuan dan hakikat masyarakat agar senantiasa menjaga mawah koperasi sebagai pondasi perekonomian Indonesia. Untuk menambah meriah suasana, Cak Nun sengaja membarikan “iming-iming” untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan seputar koperasi dan agama.

Beberapa jamaah begitu antusias yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat dan ormas. Terlihat di sudut lapangan ada yang membentangkan bendera mafia sholawat, ada juga bendera Indonesia dan NU, ada juga NU backpacker, Pagar Nusa dan lainnya. Bahkan ada salah satu penjawab yang mengaku berangkat dari Ponorogo hanya untuk sinau bareng Cak Nun.

Baca Juga: Nahdliyin Tertampar Cak Nun

Pesan Cak Nun
Ada banyak hal yang coba Cak Nun pancing logika berfikir jamaah. Seperti menanyakan perbedaan sungai dan kereta. Banyak argumen yang berwarna dari jamaah maiyah. Namun kemudian Cak Nun menerangkan bahwa sejatinya kalau sungai mengalir dengan sendirinya sedangkan kalau kereta api mesti berjalan mematuhi perintah ataupun aturan. Ini merupakan sindiran untuk para jamaah atau masyarakat agar tidak mbuntut saja kepada imam atau pemimpin. Karena kita taat kepada prinsip atau aturan, bukan “lokomotif”. Jika ada imam yang salah, maka kita boleh mengkritik dan mengingatkan, tapi jangan menyalahkan.

Dalam prinsip berkoperasi, “kita harus maju bersama, tapi tidak harus grek, seperti berjalan harus maju dengan satu kaki dahulu tidak harus dua kaki maju bersama” pesan Cak Nun untuk jamaah. Bukan hanya tentang koperasi dan kebersamaan, Cak Nun juga mengajak jamaah untuk untuk menjadi manusia yang sabar karena Allah sangat dekat hatinya kepada orang-orang muhsinin dan Allah sangat suka kepada orang yang bisa menahan marah dan bisa memaafkan sesama.

Sebagai “pangasuh”, tak lupa Cak Nun juga menentramkan hati semua jamaah yang hadir. Kesuksesan tidak hanya diukur dari materi. Bahwa kita bisa tidur nyenyak juga bagian dari kesuksesan. Pesan lainnya bahwa cemburu dan iri itu tidak masalah, asalkan pada tempatnya dan tidak terlalu lama. Semua orang yang hidup itu pasti mengalami kesalahan, namun demikian kita harus mulai membenahi sedikit demi sedikit.

Baca Juga: Siapa Sih Budayawan Itu?

Permainan Kekompakan

Masih dalam balutan konsep koperasi, Mas Doni dan Mas Jajit juga turut memeriahkan acara dengan permainan kekompakan dari seluruh jamaah. Memecah menjadi 2 sampai 3 kelompok untuk menyanyikan selawat badar dan lir-ilir secara bersamaan. Kemesraan pun semakin menghangatkan suasana malam itu dengan diiringi gelak tawa antar jamaah yang terkadang salah mengikuti petunjuk.

Itu adalah panggung bagi semuanya. Tidak ada gender, usia, pendidikan, profesi, dan lain sebagainya. Semua sama di hadapan Allah, sama dalam lingkar maiyah. Kegembiraan satu sama lain untuk sejenak melupakan segala bentuk problematika kehidupan. Membaur dalam suguhan canda tawa yang sesekali disentil pesan-pesan moral untuk menjadi manusia yang merdeka atau berdikari.

Seperti di Sinau Bareng lainnya, Mas Jajit juga membawakan permainan lepetan yang memberi pesan kekompakan, kebersamaan, dan persatuan. Membawa kembali nostalgia jaman dulu tentang betapa bahagianya permainan tradisi atau daerah yang sarat pesan moral bagi anak-anak. Acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng diakhiri sekitar jam 1 dini hari. Kemudian diiringi dengan lantunan selawat dan jamaah bersalaman dengan para pengisi acara.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!