Hari Santri Nasional 2019: Nilai Seorang Santri

“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, adalah santri.”

Gus Mus

Pertama, kami mewakili komunitas Seniman NU mengucapkan, Selamat Hari Santri (22 Oktober 2019). Mengingat santri sering diidentikan dengan organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama. Munculnya kader muda, ulama, dan cendikiawan yang mayoritas berasal dari pendidikan pondok pesantren. Per tahun 2018, jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai 27.218 dengan jumlah santri lebih dari 3.6 juta. Selain dalam lingkup pondok pesantren, santri juga biasa melekat bagi mereka yang menempuh pendidikan di madrasah diniyah (Madin Ula, Madin Wustha, dan Madin Ulya).

Dalam filsafat Jawa disebutkan bahwa: urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat). Dari 27.000 desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian, peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, bahkan sektor paling vital, yakni menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI.

Mengenang kembali perjuangan para santri pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, serta jasa lain dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya, akhirnya tercetuslah peringatan Hari Santri Nasional yang mulai diresmikan oleh presiden Joko Widodo 4 tahun yang lalu. Berbagai acara pun diselenggarakan oleh pemerintah atau organisasi atau ponpes masing-masing daerah.

Kegiatan yang biasa dilakukan seperti, Apel kebangsaan, Pengajian Akbar, Pertunjukan Seni, hingga berbagai kompetisi antar santri atau ponpes. Identitas santri semakin mencolok di era generasi milenial. Selain semangat dalam memunculkan sikap dan wawasan dalam beragama, santri juga mulai aktif melakukan terobosan untuk tetap eksis di dunia nyata maupun maya. Organisasi atau komunitas yang merasa “satu baju” dengan perjuangan para santri juga ikut memunculkan jiwa dan ruh santri ke dalam masyarakat.

Baca Juga: Tradisi Roan Membangun Karakter Santri

Filosofi Santri

Santri – adaptasi dari “shastri”, dalam bahasa Sansekerta adalah orang yang mempelajari Shastra (Kitab Suci) di pe-shastri-an atau Pesantren adalah gabungan dari huruf Arab Sin, Nun, Ta’, Ra’ dan Ya’. Apakah makna-makna di balik huruf – huruf tersebut?

Sin artinya Salik ilal-Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat). Santri meyakini bahwa sejarah manusia bukan di bumi, kerajaan manusia bukan di dunia, tapi di akhirat. Sehingga, apapun yang ditempuh dan diperjuangkan santri, semata demi kebahagian dan kejayaan di akhirat kelak.

Santri lebih memilih jalan sunyi dari pada publisitas. Maka, filosofi pertama dari kaum sarungan adalah jelas orientasi hidupnya, tidak zigzag dan miring. Bukankah penyakit dan petaka manusia modern adalah menjalani hidup yang tak jelas tujuan dan orientasinya?

Nun maknanya Na-ib ‘anil-Masyayikh (penerus para guru). Filosofi yang kedua adalah kaderisasi yang dilakukan oleh para Kiai agar santri mereka kelak menjadi penerus estafet perjuangan para guru dan leluhur. Tidak ada yang mengungguli pada santri dalam mengagungkan dan memuliakan guru. Bahkan, sayyidina Ali bin Abi Thalib ra berujar, “aku adalah budak bagi guru yang mengajarkan ilmu, meski satu huruf.”

Inilah mengapa ikatan emosional para santri dengan Kiai dan guru-guru mereka sangat mengakar dan mengkristal hingga jasad berkalang tanah. Biasanya, santri belum boleh pulang dari Pesantren sebelum mumpuni ilmu, etos, dan karakternya agar kelak bisa menggantikan sang Kiai.

Ta’ maksudnya adalah Tarik ‘anil-Ma’ashi (meninggalkan maksiat). Dengan demikan, filosofi yang ketiga kaum santri adalah selalu bertobat melakukan penyucian rohani dengan cara menjalani hidup sederhana dan menjauhi dosa-dosa. Dosa-dosa apa sajakah yang dijauhi oleh santri? (1) Dosa intelektual, yakni kebodohan dan atau memperjualbelikan ilmu dan agama; (2) Dosa sosial, dalam arti tidak peduli dan peka pada lingkungan, baik dengan cara mendidik dan terlibat dalam perjuangan masyarakat kecil.

Maksiat jenis ini sangat dijauhi oleh santri karena santri memang rakyat, jadi, istilah “merakyat” seharusnya diperuntukkan bagi pejabat yang lupa darat; dan (3) Dosa spiritual, dosa karena tidak menjalani hidup asketik (zuhud), sederhana dan bersahaja, menjauhi gemerlap, pukau, pesona dan tipu daya, terutama ancaman dari dunia politik yang kerap membuat sebagian oknum Kiai dan santri tergiur.

Ra’ akronim dari Raghib ilal-Khayr (selalu menghasrati kebaikan). Filosofi yang keempat ini kian mempertegas posisi santri sebagai pribadi yang lebih menomorsatukan kebaikan dari pada keburukan, kesenjangan, perselisihan dan negativitas. Menyampaikan kebenaran itu penting, tapi jangan abaikan aspek dan cara-cara yang baik dan santun.

Lazimnya, orang bukan tidak menerima kebenaran, tatapi lebih karena kebenaran itu dibungkus dengan tidak baik. Jelas bahwa santri dan Pesantren sangat memuliakan dan memanusiakan manusia, mengapa? Karena yang baik dalam pandangan manusia, Tuhan pun melihatnya demikian.

Ya’ adalah singkatan dari Yarjus-Salamah (optimis terhadap keselamatan). Filosofi kelima dari santri adalah selalu optimis menjalani hidup dan mengharap keselamatan di dunia pun lebih-lebih kelak di akhirat. Santri tak sekadar optimis dalam pikiran, tetapi optimisme yang dibarengi dengan tindakan nyata.

Apa sebab? Teramat banyak kegagalan umat manusia karena bertindak tanpa berpikir dan atau sebaliknya berpikir tanpa bertindak. Nah, mengapa penting menjadi orang yang selamat? Saya kira tak perlu dipaparkan lagi betapa ilmu, jabatan, harta-benda dan popularitas justru mencelakakan manusia. Dan, kabar baiknya, Pesantren telah mewanti-wanti para santri untuk mewaspadai hal ini.

Lima falsafah santri yang mencerminkan diri sebagai pribadi yang memiliki kejelasan oerientasi hidup, menjadi penerus para guru, meninggalkan maksiat, cenderung menghasrati kebaikan, dan senantiasa optimis akan keselamatan dunia-akhirat adalah pedoman hidup kaum sarungan yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Baca Juga: Memaknai Hari Santri

Oleh karena itu, meski Anda tidak pernah belajar secara resmi di Pesantren, jika Anda memiliki kelima prinsip tersebut dan sungguh-sungguh Anda yakini-hayati untuk kemudian diterapkan dalam keseharian, maka Anda adalah santri.

Apapun itu, pesantren adalah matahari dalam sistem tata surya kehidupan dan keindonesiaan. Bahwa dalam jagad galaksi kehidupan yang lebih luas ini masih terdapat banyak sekali matahari-matahari yang lain, hal itu tidak membuat matahari bernama Pesantren menjadi redup dan padam.

Gus, Santri itu apa?

“Santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan); yang mencintai tanah airnya (tempat dia dilahirkan, menghirup udaranya, dan bersujud di atasnya), dan menghargai tradisi-budayanya; yang menghormati guru dan orang tua hingga tiada; yang menyayangi sesama hamba Allah; yang mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar (minal mahdi ilãl lahdi); yang menganggap agama sebagai anugerah dan sebagai wasilah mendapat ridha tuhannya. Santri ialah hamba yang bersyukur.” Pesan Gus Mus kepada kami.

Referensi : Timesindonesia


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!