Hamparan Ladang Kebaikan di Sekitar yang Tidak Boleh Dilewatkan

Indonesia sedang dirundung pilu, berbagai macam bencana alam melanda negeri berbudaya. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir di tahun 2018 ini, negeri yang makmur dihampiri duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Bencana alam yang silih berganti bersilaturrahmi di negeri ini, negeri yang dipuji-puji banyak orang di luar negeri, datang dengan membawa cobaan dan teguran yang memoles banyak luka bagi mereka yang dihampiri bencana, juga menjadi luka bagi kita semua.

Banjir bandang yang tak juga kunjung surut menimpa daerah di Indonesia, gunung meletus, gempa di Lombok, Palu, dan Sigi, serta Tsunami di Donggala, kini sudah disaksikan ratusan juta pasang mata.

Kemana lagi-kah memohon pertolongan dan perlindungan? Kepada Tuhan jawabnya.

Dengan bencana alam yang melanda di negeri Indonesia tercinta, ini karena ulah kita juga, yang tidak peka dalam menjaga kebajikan untuk tetap tercipta di sekitar kita. Meski begitu, terdapat banyak hikmah-hikmah yang bisa diambil untuk menjadi pelajaran dalam satu kesimpulan. “Janganlah saling berselisih dan berperang hanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan kebeneran yang akan menjadi miliknya, hingga lupa kepada apa yang di sekitar. Tetapi marilah saling bahu-membahu dan bergotong-royong dengan kebersamaan dalam rasa cinta dan perdamaian”.

Bencana alam yang belum juga kunjung berhenti, adalah sebuah pesan dari Tuhan yang tersirat di dalamnya bahwa ini adalah teguran untuk kita. Lekas hentikan perdebatan dan perselisihan yang memperlihatkan betapa bodohnya anak bangsa, hingga menyebabkan perpecahan di dalam kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, serta bermasyarakat, untuk melanjutkan perjuangan demi terciptanya kerukunan dan ketentraman bagi semua. Lupakanlah politik bangsa dengan cara bercengkerama. Siapkan kopi dalam satu meja, berbicaralah dengan hangat dari Nurani yang menggambarkan ketulusan hati dan jiwa.

Mungkin saja Tuhan sedang Geram, dengan kelakuan anak bangsa, atas aksi kita dengan senang memporak-porandakan negeri tercinta. Selalu lirih dalam perselisihan agama, politik, serta merta saling tuduh untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan melakukan pembenaran terhadap diri sendiri. Sudah saatnya kini menjadi dewasa, dengan salin mengerti seperti dalam berumah tangga. Saling bahu-membahu dalam pekerjaan, saling bergotong-royong dalam kehidupan bersama. Bukan saling mencederai ‘hak’ dan saling mencemburui, Bak sengkuni dalam prahara rumah tangga, yang dibumbui perselingkuhan hingga menyebabkan tragedi. Akan tetapi Marilah saling Asah, saling Asih, dan saling Asuh. Untuk bersama-sama saling menopang untuk kepentingan bersama.

Tuhan akan senang jika anak negeri selalu dalam tingkah pola yang baik, berbagi kebaikan kepada sesama antar masyarakat. Niscaya Tuhan pun akan menjauhkan bala-Nya dari bumi Pertiwi ini, serta menjaganya dengan penuh keamanan dan kenyamanan-Nya untuk kita. Derita duka melanda Indonesia, bukanlah tanpa sebab. Perebutan kebenaran dengan agama menjadi penyebab hingga telah memporak-porandakan tanah air kita.

Jangalah keras hati atas apa yang telah terjadi. Agama bukanlah alat untuk memonopoli, akan tetapi agama adalah cara mencapai kedamaian sejati.

Baca Juga: Komunitas SNU Sambangi Lazisnu Serahkan Donasi untuk Korban Gempa Palu 

“Perhatikan lah apa yang ada di langit dan di bumi, dan tidak berguna keterangan-keterangan dan ancaman bagi orang-orang tidak beriman.” (QS. Yunus : 101)

Perhatikanlah lingkungan disekitar, hamparan kebaikan yang di sediakan Tuhan untuk kita rawat dan dijaga, sudah menjadi sepatutnya bagi anak bangsa ‘bersyukur’. Menjauhkan perselisihan karena kepentingan pribadi, dan ciptakan saja kebaikan di sekitar lingkungan kita. Agar Tuhan pun akan senang dan memberikan kasih dan sayang-Nya kepada bangsa, sehingga Indonesia aman sentosa.

Berbagi kebaikan kepada yang membutuhkan pertolongan lebih utama ketimbang memperebutkan sebuah jabatan dan kekuasaan. Kepada tetangga, anak kecil, hewan dan tumbuh-tumbuhan, akan menjdai sebuah solusi dalam prahara bernegara. Masihkah kita ingat dengan ‘rumput yang bergoyang’, mereka saja ingat kepada Tuhan kenapa kita tidak?

Kehancuran tercipta karena lisan tak terjaga. Berikan kebahagiaan kepada mereka, agar mengalirkan senyuman untuk bangsa. Tak perlu sungkan, malu, ataupun takut merasa hina. Ini adalah pekerjaan orang mulia dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang mulia. Jika mendiskriminasikannya justeru merupakan sebuah pekerjaan orang-orang hina dan Tuhan pun akan menghinakan.

“Allah (akan) selalu menolong hamba-Nya, selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Imam Bukhori & Muslim)

Ciptakan keamanan negeri dengan saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan, maka Tuhan pun akan selalu menolong negeri ini. Lakukan kebaikan dengan dimulai dari hal-hal yang terkecil, yang dapat menjauhkan diri kita dari perbuatan buruk yang besar. Agar negeri ini akan senantiasa aman, terjaga dari bermacam bala bencana yang akan terus melanda negeri kita. Mari ciptakan senyuman bersama, dengan menorehkan perbuatan mulia dengan tanpa merasa hina, hingga Tuhan pun berada di sisi kita.


Kholili Ibrohim – Seniman NU Regional Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!