Habib Anis bin Alwi al-Habsyi

Habib Anis adalah ulama masyhur yang dihormati di Indonesia. Beliau lahir di kota Garut Jawa Barat (5 Mei 1928) dan meninggal di kota Solo Jawa Tengah (6 November 2006). Beliau merupakan putra dari pasangan Habib Alwi dan Syarifah Khadijah. Saat Habib Anis berusia 9 tahun, mereka pindah ke kota Solo dan menetap di daerah Pasar Kliwon.

Makam beliau berada di komplek masjid Riyadh. Masjid Riyadh didirikan oleh ayahanda Habib Anis, yakni Habib Alwi yang dinamai sama dengan yang didirikan oleh ayahnya, Habib Ali al-Habsyi di Hadhramaut. Ada tiga makam yang berjajar, yakni Habib Alwi (tengah), Habib Ahmad (kanan), dan Habib Anis (kiri). Habib Ahmad sendiri aalah kakak dari Habib Anis al-Habsyi. Lokasi makam (masjid Riyadh) berada di timur Alkid (Alun-Alun Kidul) Surakarta. Sekitar 100 meter ke selatan dari Masjid Asseghaf, Pasar Kliwon, Surakarta.

Peziarah biasanya banyak berdatangan saat ada acara rutin Maulid Simthudduror di masjid Riyadh, yakni setiap kamis malam. Peziarah berasal dari berbagai daerah. Masjid Riyadh juga dikenal sebagai tempat haul akbar Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, pengarang kitab selawat Simthudduror.

Baca Juga : KH. Mas Mansyur

Kisah Habib Anis al-Habsyi
Sejak kecil Habib Anis al-Habsyi belajar agama dari ayahnya, kemudian juga belajar di Madrasah Ar-Rabithah. Di usia yang ke-22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa biti Thaha Assegaf. Selang beberapa bulan, ayah (Habib Alwi) beliau meninggal dunia di Palembang, sehingga Habib Anis menggantikan peran ayahnya sebagai ulama. Di usianya yang masih sangat muda beliau mengemban peran sebagai ulama yang menyandang nasab kakeknya, Habib Ali al-Habsyi. Habib Anis dikenal dengan keramahan dan kemurahan senyumnya, sehingga beliau dijuluki, The Smilling Habib.

Selain rutinan maulid Simthudduror, Habib Anis juga mengadakan kegiatan rutin majelisnya seperti, khataman Ar-Ramadhan di bulan Ramadhan dan juga khataman Bukhari pada bulan Sya’ban. Sedangkan kegiatan sehari-hari, beliau mengajar di Zawiyah. Selain itu beliau juga berdagang batik di kios pasar Klewer yang kemudian dijaga dan diurusi oleh adik beliau, habib Ali. Dalam komunikasi sehari-hari, beliau menggunakan bahasa krama kepada orang Jawa, pun dengan bahasa Sunda yang halus kepada orang Sunda, dan menggunakan bahasa Arab Hadrami kepada sesama habaib.

Beliau dikenal sangat memuliakan tamu, siapa pun. Tidak membedakan antara tamu satu dengan yang lain. Baginya, tamu adalah semangat dalam hidupnya untuk tetap istikamah berdakwah. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang pemurah dan suka memberi rezeki kepada sesama, bahkan kepada non-muslim sekali pun. Jika ada tetangga yang meninggal dunia, beliau selalu menyempatkan untuk ikut melayat.

Setiap habaib atau ulama yang pernah berjumpa dengan beliau mempunyai kisah masing-masing dalam mengagungkan keulamaan Habib Anis al-Habsyi. Bahkan ketika meninggalnya beliau banyak menyisakan tangis akan kepergian ulama yang begitu besar yang pernah menghiasai kehidupan, khususnya di kota Solo. Ulama-ulama besar pun pernah diajarnya mengaji, seperti habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dan Habib Novel bin Muhammad Alydrus, murid senior sekaligus cucu menantu Habib Anis. Habib Novel pernah mengatakan bahwa maqam tinggi yang dimiliki habib Anis didapatkan bukan karena berandai-andai atau duduk–duduk saja. Semua itu beliau peroleh setelah bertahun-tahun menanamkan cinta kepada Allah Swt, para shalihin dan kepada kaum muslimin umumnya.

“Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang”.

Artinya kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih Allah menanamkan kepada makhluk-makhluk rasa kasih sayang kepadanya, cinta kepadanya, sebagaimana disabdakan RasuluLlah SAW dalam hadits yang diriwayatkan imam Bukhari, “Jika Allah mencintai hambanya maka Allah akan memanggil Jibril, menyampaikan bahwa Allah mencintai si Fulan. Mulai saat itu Jibril akan mencintai Fulan, sampai kapan pun. Jibril kemudian memanggil ahli langit untuk menyaksikan bahwa Allah mencintai Fulan. Maka ia memerintahkan mereka semua untuk mencintai Fulan. Dengan begitu para penghuni langit mencintai Fulan. Setelah itu Allah letakkan di atas bumi ini rasa cinta untuk menerima orang yang dicintai Allah tersebut, dapat dekat dengan orang itu.”

Baca Juga : Mbah Minggir Benowo

Ada empat hal yang selalu disampaikan oleh Habib Anis kepada jamaah yang hadir di majelis beliau, “Pertama, Kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jamaah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu. Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad SAW”

* Jika ingin berziarah ke Makam mbah Kiai Minhajdul Abidin bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau sub Solo Raya


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!