Categories: LiputanSimponi

Gusdurian Klaten: Mengulik Makna Toleransi

Share

Di sabtu yang begitu terik. Selepas kerja saya sudah menyiapkan diri untuk mengikuti diskusi rutinan Gusdurian Klaten. Temanya menarik, yakni dalam rangka memperingati hari toleransi internasional yang jatuh pada tanggal 16 November. #BedaSetara – Begitulah yang saat itu bersliweran di media sosial menyambut salah satu hari “istimewa” bagi Gusdurian.

Tepat jam 2 siang, saya berangkat dari kos-kosan. Perjalanan kalau dari G-maps sekitar 17 menit. Tapi karena tempatnya sangat ‘malu-malu’, dengan adegan tersesat beberapa kali. Saya sampai tujuan sekitar jam setengah 3 lebih sekian. “Waduh telat nih”, pikirku. Ternyata setelah membuka ruang untuk diskusi baru dihadiri 5 orang Gusdurian – Acara belum dimulai! Beberapa saat kemudian, pemantik kita datang – Pdt. Raditya beserta istrinya. Disusul gus Marzuki (Ketua PC GP Ansor Klaten) yang juga menjadi penggerak bersama mas Ilham di Gusdurian Klaten.

Diskusi sore itu dihadiri 12 orang. Dihidangkan beberapa camilan sebagai teman setia. Tempatnya cukup santai untuk berdiskusi, karena memang tempat tersebut adalah semacam aula Pondok Pesantren. Biasa digunakan untuk rapat dan diskusi. Acara dibuka oleh mas Ilham sebagai koordinator Gusdurian Klaten. Di awali dengan pertanyaan spesial, “Apa yang terbesit dipikiranmu mendengar kata toleransi?”

Karena saya tidak sempat menghafal nama satu persatu anggota beserta jawabannya. Kemudian saya akan ringkas menjadi beberapa poin mengenai makna toleransi dari teman-teman, termasuk saya.

1.Toleransi adalah menghargai perbedaan

2.Toleransi adalah menemukan kesamaan dari sebuah perbedaan

3.Toleransi itu menghargai, bukan ingin dihargai

4.Toleransi adalah kesamaan

Selebihnya hampir mirip dengan beberapa poin di atas. Yang menarik adalah makna toleransi dari pemantik kita sore itu. Bapak Raditya – Bahwa toleransi adalah wujud kepedulian. Selama ini kita terlihat tidak bertoleransi karena kurangnya wujud kepedulian terhadap sesama. Rasa kepedulian itu adalah pedoman utama dalam sikap bertoleransi.

Dari penjelasan panjang lebar beliau, kemudian saya menyimpulkan, “Ah, ternyata saya masih sangat tidak toleran”

Acara selanjutnya adalah bedah film. Pertama adalah pemutaran 6 film pendek, yakni aku ya aku, entah, keyakinanku adalah aku, pagar, palak memalak, dan kembang 6 rupa. Seingat saya, film tersebut mengangkat makna toleransi dari berbagai sisi. Namun lebih kental pada agama. Ada proses mencari keyakinan, agama yang keturunan, agama tercipta dari lingkungan, hingga tantangan yang dihadapi dalam berkeyakinan. Namun ada pula toleransi yang diangkat dari isu sosial, seperti persamaan dalam sebuah kecintaan pada klub bola. Ada juga sistem kasta sosial yang masih terjadi di beberapa latar belakang masyarakat, khususnya sekolah.

Satu persatu anggota dimintai tanggapan atas pemutaran film yang lekas dilaksanakan. Namun saya coba akan menuliskan tanggapan dari bapak Raditya sebagai pemantik sore itu. Bahwasanya dalam setiap perjalanan hidup manusia ada semacam hak dalam berkeyakinan. Namun dalam proses berkeyakinan jangan menutup diri untuk bersikap toleran. Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya dulu begitu damai. Sistem kolonial penjajah yang memaksa kita agar bercerai berai, saling bertikai, saling mengalahkan dan terpecah satu dengan yang lain.

Agama tidak bisa dipisahkan dari budaya. Seperti halnya Walisongo yang begitu arif menyebarkan islam di Indonesia, pun demikian dengan Kristen yang dibawa oleh para pendeta. Karena budaya adalah sebuah media yang sangat ampuh untuk ‘mengagamakan’ masyarakat. Namun fenomena saat ini, banyak terjadi penjajahan budaya. Jawa yang terkenal budaya luhurnya – tata krama – dibuat seperti sikap yang harus dijauhi karena tidak sesuai “tuntunan agama”.

Dalam kaitannya film pagar, bahwa kedisiplinan merupakan sebuah langkah yang diambil manusia dalam membentuk karakter sesorang. Meskipun yang terjadi sekarang “peraturan dibuat untuk dilanggar”. Ada beberapa penerapan kebebasan dalam membentuk karakter seseorang, seperti kasus penyesalan Iwan Fals terhadap putranya – Galang Rambu Anarki. Kemudian kisah Cristine Hakim yang dilawan anak angkatnya karena penerapan kedisiplinan yang berlebihan. Dan kisah lainnya.

Namun yang perlu diingat bahwa kedisiplinan itu penting dalam mencetak kepribadian bahkan keyakinan manusia. Seseorang dimasukkan ke dalam asrama atau pondok pesantren itu ibarat bongkahan batu besar yang disulap menjadi mutiara. Karakter-karakter seperti ini adalah jiwa yang seharusnya dipahamkan kepada semua orang. Prinsip saling menghargai, menerima perbedaan, dan kasih sayang antar sesama.

Terakhir adalah close statment dari teman-teman. Karena saya sempat ijin keluar sebentar, sehingga tidak bisa menyimak sampai selesai seluruh ‘kutipan rohani’ teman-teman. Jadi saya ambil berdasarkan pendapat saya sendiri. Hehehe

“Agama berasal dari bahasa Sansekerta. Artinya tidak merusak. Jika kamu merasa tidak merusak hubungan sosial, pertemanan, bangsa, lingkungan, rumah tangga, bahkan dirimu sendiri. Berarti kamu beragama. Agama selalu mengajarkan kebaikan. Jika ada perilaku yang tidak mencermikan sifat keagamaan, perlu ditanyakan kembali konsep agama yang dibawanya. Manusia selalu dalam proses logika-etika-estetika. Kebenaran adalah bekal yang kamu ekspresikan menjadi kebaikan untuk tujuan keindahan. Akhir kata, mari kita ciptakan keindahan dengan warna-warni perbedaan.”

Salam!

19 November 2018


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments