Imam Bukhari: Amirul Mukminin fil Hadits #2

Ujian yang dialami Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari dimulai ketika ia singgah ke Naisabur dan mendapatkan kedengkian dari penduduknya. Salah seorang ulama Naisabur, Imam Muhammad bin Yahya al-Dzuhli, memiliki perbedaan pendapat dalam permasalahan akidah dengan Imam al-Bukhari. Ditambah, ia tidak terlalu menyukai kedatangannya ke Naisabur sehingga terjadilah fitnah atasnya. Kisah cobaan dan bala yang menimpa Imam al-Bukhari ini disarikan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ‘ yang merupakan buah karya dari sejarawan besar, Imam al-Dzahabi.

Al-Hakim mengatakan, bahwa pada awalnya Muhammad bin Yahya al-Dzuhli menyuruh murid-muridnya untuk berguru kepada al-Bukhari ketika ia berkunjung ke Naisabur. Akan tetapi, setelah majlis al-Dzuhli berkurang pengikutnya hari ke hari, benih-benih hasad dan dengki mulai tumbuh dalam hatinya.

Baca Juga : KH. Bishri Syansuri, Dedikasi Untuk Negeri

Abu Ahmad bin Adi menambahkan, bahwa sebagian masyâyîkh Naisabur iri dan dengki dengan kemasyhuran al-Bukhari, sehingga mereka menyuruh orang-orang untuk menanyakan kepada al-Bukhari tentang lafal Alquran, apakah makhluk atau tidak? Akhirnya, di majelisnya, al- Bukhari ditanya oleh seseorang mengenai hal itu, tetapi ia tidak menjawabnya, sehingga si penanya mengulanginya tiga kali. Al-Bukhari akhirnya menjawab bahwa Alquran kalâmullâh dan bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk, dan pertanyaan menguji seperti ini adalah bid’ah. Demi mendengar jawaban ini, ributlah orang-orang di majelisnya lalu mereka pun mulai meninggalkannya.

Mengenai sebab lain kedengkian Syekh al-Dzuhli kepada Imam al-Bukhari adalah seperti yang diriwayatkan Abu Hamid al-A’masyi. Ketika itu orang-orang sedang melayat jenazah Abu Utsman bin Said bin Marwan, al-Dzuhli bertanya kepada al-Bukhari mengenai seluk beluk ilmu hadis dari nama-nama periwayat, gelar-gelar mereka, dan aib atau cela dari setiap hadis. Al-Bukhari menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan. Satu bulan kemudian terdengar al-Dzuhli melarang murid-muridnya untuk duduk di majelis al-Bukhari karena ia berkata tentang lafal Alquran. Tak lama setelahnya Bukhari meninggalkan Naisabur dan pergi ke Bukhara.

Lebih jelas mengenai pendapat Syekh al-Dzuhli tentang lafal Alquran dan Imam al-Bukhari adalah seperti yang diriwayatkan Abu Hamid bin al-Syarqi. Al-Dzuhli berkata bahwa Alquran adalah kalâmullâh dan bukan makhluk dari seluruh sisi- sisinya, maka barang siapa yang mendakwa bahwa Alquran adalah makhluk maka ia telah kafir; dan barangsiapa yang berdiam tidak membenarkan dan menyalahkan maka ia telah menyamai kafir; dan barangsiapa yang mengatakan lafal Alquran makhluk, maka ia adalah pembuat bid’ah tidak kita ajak bicara dan duduk; dan barangsiapa yang pergi ke majelis Muhamamad bin Ismail al-Bukhari, maka orang tersebut akan kita ragukan agamanya karena mazhabnya sama dengan al- Bukhari. Selain itu, sebagaimana diriwayatkan al-Hakim bahwa al-Dzuhli mengatakan pendapat al-Bukhari mengenai lafal Alquran adalah lebih keji dari Kaum Jahmiyyah.

Baca Juga : Abu Hasan Al Asy’ari, Guru Ahlussunah Wal Jamaah

Lalu bagaimana dengan jawaban Imam al-Bukhari terhadap tuduhan-tuduhan Syekh al-Dzuhli? Dari al-Hakim, Muhammad bin Syadzil bertanya ke al-Bukhari tentang yang sebenarnya terjadi antara ia dengan al-Dzuhli. Al-Bukhari menjawab bahwa al-Dzuhli terkena iri hati dan dengki akan ilmu, padahal ilmu adalah rezeki yang diberikan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ibn Syadzil bertanya lagi mengenai lafal Alquran adalah makhluk. Al-Bukhari menjawab, bahwa masalah ini adalah masalah yang sangat buruk, sehingga Imam Ahmad bin Hanbal mendapatkan ujian dan cobaan karena permasalahan ini. Oleh karena itu, al-Bukhari mencoba untuk tidak pernah membuka masalah ini.

Meski al- Bukhari mencoba untuk tidak menjawab permasalahan lafal Alquran ini, tetapi kemudian ia mengutarakan sebuah dalil yang berbunyi bahwa seluruh perbuatan manusia adalah makhluk. Dalil inilah yang dipahami oleh al-Dzuhli bahwa al-Bukhari berpendapat secara terang-terangan mengenai lafal Alquran, padahal al-Bukhari tidak pernah mengatakannya secara langsung.

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Kita berlindung dengan Allah dari mengkafirkan seorang muslim yang bertauhid dengan sebab ucapannya yang multi tafsir, sedangkan ia tidak beritikad secara batil dari ucapannya bahkan mengagungkan Tuhan darinya.”

Muhammad bin Abi Hatim berkata, seseorang berkata kepada Muhammad bin Ismail al-Bukhari, “Wahai Abu Abdullah! Seseorang telah mengkafirkanmu”, ia menjawab: Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang berkata kepada saudaranya: Wahai kafir! Maka kekafiran itu akan kembali kepada salah satunya.”

Para sahabat Imam al-Bukhari banyak yang bertanya kepadanya tentang fitnah ini, ia menjawab dengan dua buah ayat Alquran, “Sesungguhnya tipu daya setan sangatlah lemah” (QS. al-Nisa:76) dan “Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri” (Fathir: 43). Lalu, seseorang bertanya kepadanya, mengapa al-Bukhari tidak mendoakan bala atas mereka, orang-orang yang menzalimi dan memfitnahnya? Al-Buhari menjawab bahwa Nabi SAW bersabda: “Bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di telagaku.”

Akan tetapi, terdapat riwayat yang sedikit agak berbeda dari Abu Said Hatim bin Ahmad al-Kindi dari Imam Muslim berkata: Ketika al-Bukhari datang ke Naisabur, penduduknya berbondong-bondong mengunjunginya sampai rumah persinggahannya penuh dengan manusia. Muhammad bin Yahya al -Dzuhli berkata kepada kita, “Barangsiapa yang ingin mengunjungi al-Bukhari maka besok kunjungilah”, kemudian ia dan para ulama mengunjunginya. Setelahnya, al-Dzuhli berkata, “Jangan kalian tanyakan ke al-Bukhari tentang ilmu kalam, karena nanti jika ada perbedaan maka akan terjadi perselisihan antara kita dengannya.”

Tetapi, pada hari kedua atau ketiga, seseorang menanyainya tentang lafal Alquran, kemudian dijawabnya, “Segala perbuatan kita adalah makhluk dan lafal-lafal yang terucapkan mulut kita adalah dari perbuatan-perbuatan kita. Lalu, terjadilah perselisihan antara orang-orang di sekelilingnya. Sebagian mereka ada yang menganggap ia mengatakan lafal Alquran adalah makhluk dan yang lain menganggapnya tidak mengatakannya secara langsung.

حركاتهموأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحفالمسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Akhirnya Imam al-Bukhari pun pergi meninggalkan Naisabur setelah mendapatkan cobaan ini, al-Hakim berkata, Ahmad bin Salmah datang ke al-Bukhari dan menanyakan keadaannya setelah mendapat fitnah dan cobaan dari penduduk Naisabur, al-Bukhari hanya menjawab dengan membaca ayat, “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya” (Ghafir: 44), kemudian berkata, “Ya Allah! sesungguhnya engkau mengetahui bahwa niatku tinggal di Naisabur ini bukanlah untuk mencari kesenangan atau kepemimpinan. Akan tetapi, kedatanganku ke sini adalah untuk kembali ke tanah airku dan menjauhi orang-orang yang menentangku.”.Sesungguhnya al-Dzuhli memusuhiku adalah karena iri dengan anugrah yang diberikan oleh Allah kepadaku. Ya Ahmad! Besok aku akan keluar sehingga kalian tidak akan mendapatkan fitnah karenaku. Ibn Salmah berkata: Kemudian esoknya aku sendirian yang mengantarkannya keluar dan ia tinggal sementara selama tiga hari di dekat pintu masuk kota untuk persiapan.

Manhaj imam Bukhari inilah yang diikuti oleh para ulama Asyari’ah bahwa definsi Alquran terbagi menjadi dua, yakni jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah sifat kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jika yang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan oleh lisan manusia dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.

Kaum muslimin cukup mengetahui akidah berkaitan kalam Allah bahwasanya kalam Allah adalah bersifat qadim, tidak membutuhkan alat, suara dan huruf, dan Alquran adalah kalam Allah bukan makhluk. Sampai di sini tidak perlu panjang dan luas lagi untuk menelusuri esensi dan hakikatnya lebih dalam lagi. Karena tak ada satu pun parasahabat dan ulama salaf yang membahas lebih dalam lagi tentang masalah ini dan tentang Dzat Allah, maka membahas lebih dalam tentang hal ini adalah bid’ah, bahkan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya, “Renungilah makhluk Allah dan jangan renungi Dzat Allah.”


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!