Categories: opiniSimponi

Overdosis Agama

Share

Overdosis -yang dinilai buruk- itu bukan terletak pada sesuatu yang dikonsumsinya. Melainkan pada takarannya. Anti-biotik itu baik untuk ketahanan tubuh, tapi jika berlebihan dalam mengkonsumsinya juga akan berdampak buruk bagi kesehatan. Kopi, gula, mie, bahkan mungkin semua yang berlebihan itu akan berdampak negatif buat tubuh kita. Seolah menjadi anomali dalam melihat berbagai perspektif. Bahkan ganja juga bisa bermanfaat bagi kesehatan manusia jika digunakan dalam sarana medis menyembuhkan sebuah penyakit.

Dalam pesan agama, kita sering diajarkan untuk “sedang-sedang” saja dalam mengkonsumsi atau melakukan sesuatu. Jangan sampai itu malah memberatkan atau juga dikesan rakus karena sikap overdosis pada semua hal. Itulah maha kuasanya Allah, menciptakan sesuatu dengan segala kemanfaatanya, termasuk rokok untuk melencarkan otakku dalam menulis. Eh, tapi kalau konsumsi rokok berlebihan juga tidak baik, selain -yang katanya- bisa menyebabkan stroke, merokok berlebihan juga bisa membuat kanker (kantong kering). Jadi sekali lagi, yang sedang-sedang saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

Sesungguhnya agama ini mudah, tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam agama, melainkan ia akan terkalahkan.” (HR Bukhari)

Baca Juga: Iseng Bahas Khilafah

Era post-truth dewasa ini, manusia lebih mengedepankan sikap fanatik kepada sesuatu. Bahkan, mungkin saya sendiri. Dianggapnya terlalu basa-basi jika hanya harus belajar banyak sudut pandang. Sifat-sifat ego dan menang sendiri demi menuruti hawa nafsu sudah begitu samar. Sehingga sikap menyalahkan dianggapnya sebuah kebijaksanaan. Kalau kata Gus Candra Malik, “Bagaimana mungkin membenarkan sesuatu dengan cara menyalahkan?! Membenarkan itu ya dengan cara membenarkan! Sedangkan kebenaran tidak perlu bukti. Karena pembuktian yang berlaku bagi mereka yang salah. Makanya di pengadilan yang ada adalah dakwa terbukti bersalah, bukan terbukti terbenar.”

Misalpun mengadakan sebuah diskusi terbuka tentang konsep agama tekstual dan kontekstual paling juga akan ditolak sedemikian rupa. Intinya, setiap individu akan selalu merasa dirinya benar. Ruwetnya adalah bagi mereka yang merasa diri benar dengan melihat yang lain salah. Kalau ditarik garis besar, istilah benar bisa dicabangkan dalam bentuk; merasa lebih pintar, merasa lebih alim, merasa lebih kaya, dan merasa lebih bijaksana dibandingkan yang lain.

Sedangkan setiap manusia pasti mempunyai konsep dan nilai kebenaran masing-masing. Karena malas dan ke-enggan-an kita saja untuk lebih mendalami konsep kebenaran dari tiap-tiap individu. Misalkan kita benci dengan sikap radikalisme, kemudian dianggap sebagai ajaran yang salah. Sedangkan mereka yang terlibat dalam lingkaran itu merasa sedang meniti jalan kebenaran. Walhasil, perdebatan dan pertengkaran akan selamanya terjadi. Pun sebaliknya. Ketika dianggapnya ajaran NU menyimpang, NU sekarang beda dengan NU yang dulu, Islam liberal, dan istilah lainnya, jika kita tidak menyelami dan mendalami setiap kebenaran yang lain, maka prasangka akan keburukan terhadap yang lain akan selalu menyelimuti perjalanan kita mencari kebenaran.

Umat tidak bisa mengelak atas takdir menerima puluhan hingga ratusan pendapat alim ulama. Meyakininya karena mungkin hanya kagum kepada salah seorang ulama. Penyampaian yang dianggapnya mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik (baca: hijrah). Sedangkan ada pula yang santai-santai ngopi belajar sendiri dengan mencoba memahami segala bentuk perdebatan untuk mencari otoritas diri dalam menentukan kebenaran. Sehingga keyakinan agama tidak lagi berdasarkan keturunan, lingkungan sosial, atau mungkin seringnya follow akun-akun dakwah media sosial. Melainkan beragama didasarkan atas keyakinan akan kebenaran dan keberadaan Tuhan yang menjarkan cinta kepada siapapun sebagai wujud kehambaan (khalifah) di muka bumi.

Seperti bahasan pembuka, bahwa kita tidak bisa mengelak dari banyaknya umat yang terkesan sedang overdosis agama. Menjadi indah jika overdosis tersebut dinikmati sendiri bersama Allah dan Rasulullah. Seperti kisah para ulama sufi yang dalam kesehariannya dimabuk cinta bersama kasih sayang-Nya. Tapi menjadi serba semrawut kala pemabuk overdosis agama tersebut menyerang dan nyenggol setiap manusia yang dihadapinya. Bukan lagi overdosis karena kecintaan, tapi malah menimbulkan masalah baru karena sikap kebencian.

Overdosis agama bisa membius seseorang untuk melakukan hal-hal di luar logika normal. Asupan pemahaman dan pengetahuan akan resep seorang “dokter” yang dianggapnya begitu memahami segala hal yang berbau farmasi. Hingga tidak sadarnya pasien diberikan anti-biotik untuk tidak sudi memilih “dokter” lain selainnya. Anti-biotik itu yang membuat overdosis dan secara alami menyerang sistem saraf dan cara pandang melihat sebuah kebenaran.

Ketika manusia sudah kehilangan kontrol akan dirinya. Keyakinan akan sebuah kebenaran semakin membabi buta. Dikiranya sebuah jalan dakwah tapi bisa dihipnotis hanya karena nafsu mengalahkan segala niat suci mengharap rida Allah. Semoga kita senantiasa termasuk umat yang overdosis kepada Tuhan, mabuk dalam cinta, dan menerima perbedaan dalam memahami agama. Islam adalah agama yang damai, jika kita sendiri tak membuatnya ramai.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU