NU kok Emosian

Ada beberapa ketidakpahaman menggunakan istilah emosi. Dikiranya emosi hanya diekspresikan dengan perilaku marah dan memaki, padahal kesedihan, ketakutan, kebahagian, ataupun kekhawatiran, juga bagian dari emosi. Menurut Gorge Miller, emosi adalah pengalaman seseorang tentang perasaan yang kuat, dan biasanya diiringi dengan perubahan-perubahan fisik dalam peredaran darah dan pernapasan, biasanya juga dibarengi dengan tindakan-tindakan pemaksaan.

Naluri sebagai manusia selalu beriringan dengan sisi emosinya. Ada yang stabil, ada pula yang labil. Kalau dikaji lebih mendalam mengenai gejolak emosi pada diri manusia, kita akan bisa menemukan banyak hal mengenai emosi. Faktor yang menyebabkan hingga risiko yang akan terjadi ke depannya.

Menilai labilnya emosi seseorang cukup mudah sekarang. Pancingan status atau postingan yang terkesan provokatif di media sosial dengan menyimak tanggapan dan komentar di antara mereka. Kalau pikiran kita lebih terbuka dengan melepaskan semua identitas (baik suku maupun agama), tentu banyak hal yang rancu di sana. Masak iya agama mengajarkan umpatan, hujatan, dan sumpah serapah?

Menilai ucapan (yang ditranformasikan menjadi tulisan) dan perilaku manusia tidak dengan bagaimana ia berbusana. Ulama pada zaman dahulu sering mencontohkan perkara sepele hingga rumit yang diselesaikan tanpa emosi berlebihan. Rasulullah dilempar kotoran binatang oleh beberapa orang Arab Badui. Apakah Nabi kemudian marah?! Tidak! Malah ketika mereka sakit, Nabi Muhammad menjenguknya. Sosok Nabi Muhammad yang sangar hanyalah ada di pikiran mereka sendiri, sejatinya Nabi begitu welas asih terhadap sesama. Sedangkan kita?!

Prasangka terhadap yang lain adalah keniscayaan. Banyak yang kemudian mengolahnya menjadi tindakan-tindakan yang di luar kewajaran menjadi manusia. Jauh menilai orang lain tentang sifat, karakter, hingga “kaplingan” kelak di akherat. Mengekspresikan emosi yang beragam. Ketidakkuasaan menguasai dan mengenali diri menjadikan mereka kalut yang pada akhirnya dihibahkan kepada orang lain. Yang seharusnya marah pada diri sendiri kemudian diamarahkan kepada yang lain. Dalam ilmu psikologi tentu akan sering ditemukan bagaimana seseorang bisa mengontrol emosinya, minimal untuk tetap bisa nyaman bersosialisasi.

Baca Juga: NU Garis Bijak

Semua Sudah NU

Nah, yang kadang susah dipahami adalah bagaimana nahdliyin bisa ikutan emosi dalam diskusi atau pembahasan agama, syariat maupun muamalah. Ada yang jengkel hingga mengancam karena merasa diprovokasi. Sedangkan kalau kita tarik jauh ke belakang. Semua sudah NU kok!

Kalau perlu, silahkan kita kembali buka kitab ahlussunah waljamaah yang menjadi acuan dalam bermadzab. Kemudian kita sempatkan pula mengkaji dan mendiskusikan sosok Imam al-Asyari yang diidentikkan sebagai tokoh aswaja. Seharusnya NU itu menjadi penengah (moderat). Mengacu pada ajaran ahlussunah wal jamaah saat menetukan sikap peristiwa perang jamal dan shiffin yang menjadi sejarah kelam perjalanan kaum muslim di dunia.

Ketika ada sesuatu dibenturkan, NU yang emosian tadi segera bereaksi. Seolah malah membuat blok siap perang. Kita lupa perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang dinahkodai oleh Ir. Soekarno dengan menarik diri dari PBB dengan gerakan Non-Blok. Demikian yang menjadikan Indonesia menjadi negara berdikari dan susah dipecah belah. Prinsip dan sikap untuk menciptakan kedamaian dunia daripada menjadi bagian yang nantinya bisa merusak keberlangsungan kehidupan bernegara.

Lagi-lagi NU terjebak dan menikmati proses perdebatan dan pertikaian saat ini. Tidak mau kalah. Sedangkan saya sering memegang prinsip Jawa, Ojo Adigang, Adigung, Adiguna. (Jangan sok berkuasa, sok besar, dan sok pintar atau sakti). Kembali pada hakikat Jawa yang ngalah. Bukan berarti kalah, karena ngalah mempunyai strata lebih tinggi dari hanya menang.

Jika susah menguasai emosi pada diri, minimal kita bisa menambah pengetahuan untuk senantiasa berlaku toleran. NU dalam kajian fikih itu menganut empat madzab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). Perbedaan ikhtilafiyah yang sering diperdebatkan sebenarnya juga bukan menyimpulkan mereka anti-NU (bukan NU). Hanya kebetulan mayoritas masyarakat Indonesia mengacu pada madzab Syafi’i, bukan berarti kita menolak yang mengacu pada madzab selain Imam Syafi’i. Terlalu dangkal jika kita berpikiran demikian. Jadi untuk menumbuhkan jiwa toleran dan bisa menghargai sesama adalah menganggap bahwa semua muslim itu NU, hanya saja berbeda madzab.

Baca Juga: Abu Hasan Al-Asy’ari, Guru Aswaja

Sedangkan dalam kajian akidah menganut ulama besar seperti Imam Asyari dan Imam Maturidi, kajian tasawuf dari Junaid Al Baghdadi dan Imam Al Ghazali. Mereka mengajarkan bagaiamana berakidah tanpa melupakan sisi akhlak terhadap sesama. Tasawuf yang selalu mengajarkan cinta. Sehingga tidak ada jiwa emosi yang berlebih hanya untuk pembenaran diri. – Kebenaran Mutlak Milik Allah –

Mari kembali introspeksi diri. Menjadi manusia yang lillah dengan jiwa yang ngalah. Tidak emosian hanya karena perbedaan. Kita NU dan mereka juga NU. Semua adalah NU. Minimal beranggapan demikian, meskipun ada yang tak sudi dikatakan kalau mereka adalah NU. NU kok Emosian?!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Satu tanggapan untuk “NU kok Emosian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!