Diskusi Interaktif Santri Milenial

KLATEN – Minggu, 27 Januari 2019 saya mendapat undangan menghadiri diskusi Interaktif Santri Milenial dengan tema Peran Aktif Santri Milenial sebagai Pemilih Cerdas dalam Pesta Demokrasi di Pondok Pesantren Al-Barokah Wonosari Klaten. Acara dimulai jam 9 pagi dan berakhir jam 12 siang. Acara ini diprakasai oleh Yayasan Aji Pelajar dan Mahasiswa Yalal Wathon yang diketuai oleh Gus Marzuki yang juga menjadi ketua KNPI serta ketua PC Ansor Kabupaten Klaten. Sedangkan acara sendiri diketuai oleh Muhammad Ilhamuddin (Gusdurian Klaten).

Sebelum acara ada hadrah dari ponpes yang mengiringi jalannya acara. Kemudian dibuka dengan pembacaan Alquran dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Yalal Wathon. Setelah itu juga ada sambutan dari ketua panitia, ketua Yayasan Aji Pelajar dan Mahasiswa Yalal Wathon, serta kapolsek, AKP Widji yang mewakili kapolres karena berhalangan hadir.

Diskusi dimulai dengan arahan moderator. Diskusi interaktif diisi oleh Kiai Haji Kholilurrahman (Dosen IAIN Surakarta) dan juga komisioner KPU divisi perencanaan, Syamsul Ma’arif. Peserta yang hadir dalam acara itu hampir 150 santri dari berbagai daerah di Solo raya. Ada yang berasal dari komunitas KMNU, PMII, Ansor, Gusdurian, Banser, dan santri dari beberapa pondok pesantren.

Materi Diskusi Interaktif

Pembahasan diskusi di awali oleh Kiai Kholilurrahman yang menjelaskan peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI. Kiai yang juga mengasuh ponpes di Klaten ini memberikan beberapa poin dalam menyikapi problematika perpolitikan di Indonesia. Apalagi bagi santri melenial yang gamang menentukan pilihan. “Nek bingung yo istikarah”, tegasnya. Beliau juga menjelaskan tentang wujud syukur kepada para santri melineial. Bersyukur menjadi manusia, bersyukur menjadi orang islam umat nabi Muhammad, dan bersyukur menjadi orang Indonesia. Kemudian beliau menjelaskan tentang cinta tanah air yang lebih mulia daripada cinta agama, jika keduanya di hadapkan pada sebuah pilihan.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Beberapa dalil beliau terangkan, mulai dari dalil aqli dan naqli. Salah satunya adalah di surat Albaqarah ayat 126. Dalam tafsirnya, nabi Ibrahim yang merupakan bapak agama samawi (Islam, Nasrani, dan Yahudi) meminta untuk keamanan negaranya sebelum keimanan penduduknya. Kemudian dari itulah muncul fatwa dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari Resolusi Jihad yang kemudian menggema slogan Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman).

Bapak Syamsul Ma’arif menambahi tentang himbauan sebagai pemilih yang cerdas. Generasi milenial atau yang biasa disebut generasi Y merupakan golongan yang lahir di tahun 80-an sampai 90-an pertengahan. Beberapa cirinya adalah mempunyai karakter pemalas, narsis/ selfish, individualistik, dan kurang peka terhadap sekitar. Namun ada sisi positif dari generasi milenial, yakni lebih percaya diri, keterbukaan, dan tingkat keingintahuan akan sesuatu yang tinggi. Selebihnya komisioner KPU kabupaten Klaten ini menjelaskan teknik pemilihan umum sebagai upaya pengenalan dan sosialisasi untuk pemilih pemula, santri milenial khususnya.

Acara ditutup dengan deklarasi pemilu damai. Berikut teks yang dibacakan oleh seluruh jajaran santri milenial:

  1. Siap berperan aktif menjaga Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  2. Siap untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilu serentak tahun 2019 yang bermartabat. 
  3. Siap mendukung demokrasi berkualitas, tanpa hoax, tanpa fitnah, tanpa ujaran kebencian, serta mengedepankan kejujuran, kebenaran, juga menolak upaya-upaya yang dapat mengakibatkan perpecahan masyarakat serta dapat mencederai Pancasila dan UUD 1945.
  4. Menolak politik uang, politisasi agama, dan politisasi rumah ibadah.
  5. Menghimbau segenap komponen bangsa Indonesia untuk saling bekerja sama dan bertanggung jawab dalam menjaga dan menjamin rasa aman, tenteram dan damai dalam kehidupan bermasyarakat.

(Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!