Categories: opiniSimponi

Diskriminasi Cadar

Share

Lagi marak para wanita melakukan aksi pancadaran diri. Bahkan dua bulan yang lalu saya melihat ada komunitas cadar di jantung kota Solo. Cadar mulai berani menunjukan eksistensinya. Bukan lagi menjadi sebuah momok yang menakutkan, meski masih banyak pula yang mengidentikan bahwa cadar adalah simbol radikalisme dan terorisme.

Sebagai lelaki, saya tidak akan menulis tentang bagaimana perasaan mengenakan cadar. Namun beberapa kecemasan timbul dalam benak saya, “Benarkah mereka nyaman bercadar?”. Nyaman dalam artian mereka harus siap agak sedikit dikucilkan dari kelompok pertemanan. Selain itu juga ada pandangan sinis dari orang di sekitar tentang terorisme yang selalu disematkan oleh kawanan wanita bercadar. Kalau pendapat saya sendiri tentang wanita bercadar sih biasa saja. Maksudnya kalau mau bercadar ya silahkan, mau berjilbab biasa ya silahkan, mau tidak pakai jilbab ya silahkan, mau telanjang bulat ya silahkan.

Saya sih tidak begitu paham tentang dalil yang mungkin mewajibkan untuk bercadar. Sehingga para wanita tersebut harus melakukan perubahan diri sedemikian islami. Apalagi kalau saya sangkutkan itu hanya tentang sebuah budaya, pasti akan terjadi ikhtilaf yang sangat keras. Cuma dari lubuk hati yang paling dalam sih, saya lebih nyaman melihat wanita berjilbab biasa saja (tidak bercadar). Silahkan ini dianggap sebagai pandangan yang subjektif karena saya lelaki atau apa. Tapi yang jelas saya selalu senang melihat cantik dan anggunnya wajah calon istri saya. Kalau ditutupi cadar kan, kami (bangsa buaya darat) mempunyai persepsi yang neko-neko. “Ah, barangkali wanita itu malu karena berkumis dan berjenggot”. “Mungkin juga wanita itu malu karena wajahnya belang”, dan sebagainya.

Nah, soal cadar ini sempat saya bahas di lingkungan formal kampus. Bahkan saya tanya ke salah satu dosen kampus ternama, tanggapan mengenai fenomena cadar di dunia belajar mengajar. Saya tarik garis besar bahwa, saya sih setuju kalau cadar itu diberlakukan di kalangan pesantren atau lembaga keagamaan lain. Namun kurang setuju jika dipromosikan di lingkungan formal. Kejahatan moral bisa dilakukan dengan tindakan bercadar. Misalkan ketika si A malas masuk kuliah, kemudian menyuruh digantikan si B. Dengan berpakaian cadar, maka akan sulit dikenali. Karena wajah adalah identitas seseorang.

Maaf, saya terlalu suudhon. Mungkin karena saya merasa nyaman dengan lingkungan yang terbiasa tidak memakai cadar untuk para wanita. Sedangkan kami juga tidak mendadak menjadi bejat, berlaku maksiat, mesum, dan lain-lain ketika wanita tidak memakai cadar. Jika ini adalah alasan wanita bercadar (menghindari kemaksiatan).

Kemudian saya juga harus berperilaku bijaksana untuk membiasakan diri jika ada pergerakan masif mahasiswi bercadar di lingkungan kampus. Kadang berislam juga harus siap dengan segala kondisi dan perubahan zaman. Intinya, yang mempunyai pandangan seperti saya, janganlah kita mendiskriminasi wanita bercadar. Barangkali cadar malah bisa menjadikan simbol kalau islam itu ramah, santun, dan toleran!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU