Categories: SimponiWarganet

Cinta yang Sesungguhnya

Share

Seringkali seseorang salah dalam menguraikan apa itu cinta dan salah memberikan wujud bukti cinta itu seperti apa. Sehingga kata cinta ini marak disalahgunakan oleh pemuda-pemudi yang “belum menikah”. Hari ini bertepatan tanggal 14 februari dimana hari ini dikenal sebagai hari kasih sayang atau istilah kerennya valentine day. Hari Valentine, ada sebagian orang mengartikan sebagai hari pembuktian cinta yang sesungguhnya. Hmm, Katanya. Namun pandangan penulis bahwa bukti cinta yang tepat adalah ketika dua insan yang duduk bersama dikursi pelaminan.

Mengenai hari valentine ternyata ada sebuah sejarah kelam di dalamnya. Valentine atau Valentinus sebenarnya adalah nama seorang Martyr, yakni seorang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya. Di lain sisi ada juga yang mengatakan J. Valentine adalah seorang pastur yang dibunuh karena tidak bisa terpisah dengan kekasihnya setelah melakukan hubungan terlarang. Adapula yang mengatakan Valentine adalah nama seorang uskup pada abad ke-3 Masehi di masa Romawi (The Standart International Dictionary, 18, p. 5090).

Kata “Valentine” itu sendiri berasal dari bahasa Latin Valentinus yang artinya gagah perkasa. Ketika itu, saat orang memberi pujian Valentinus atau gagah perkasa sebenarnya memberi pujian kepada dewa Baal. Sedang Raja Baal yang pertama namanya adalah Nimrod.

Ada beberapa versi yang menceritakan tentang sejarah Valentine. Salah satunya bahwa konon pada awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 14/15 februari yang diberi nama Lupercalia. Perayaan ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) dan Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Wujud acaranya tersebut yaitu dengan Laki dan perempuan berkumpul dan berbaur di suatu tempat, lalu saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda.

Demikian sedikit menyinggung masalah valentine, sekiranya tak perlu membahas lebih panjang mengenai hal tersebut. Sebab pada akhirnya praktik perayaan valentine di atas adalah hal yang jauh dari nilai-nilai ajaran agama islam. Agama mayoritas di Indonesia.

Kembali pada pembahasan awal. Bila diperhatikan dengan seksama tidak sedikit orang dengan mudah mendefinisikan apa itu cinta, Ada yang mengatakan cinta itu buta, cinta itu perasaan bahkan ada pula yang mengatakan cinta itu bagaikan cindolo dan tafets yang tidak bisa terpisahkan, terdengar nyeleneh tapi ada benarnya.

Namun di sini penulis lebih suka menyebut cinta adalah inti dari hati. Jadi Orang yang mencintai lawan jenisnya adalah orang yang telah menemukan inti hatinya. Apapun yang diperintahkan oleh yang dicintainya tersebut maka dengan siap orang yang cinta padanya akan melakukan perintah tersebut.

Cinta bukan hanya disematkan pada lawan jenis namun lebih daripada itu cinta juga bisa disematkan pada benda, seperti cinta harta benda atau barang yang dicintai, Cinta sesama makhluk seperti menyukai hewan atau pencinta hewan. Namun, menurut penulis ada sebuah cinta yang lebih dari apapun atau penulis menyebutnya “cinta yang sesungguhnya”. Menurut penulis cinta yang sesungguhnya itu itu bukan terletak pada cinta barang, cinta binatang atau bahkan cinta sesama manusia. Namun di sini yang dimaksud penulis adalah cinta pada sang pencipta. Itulah cinta yang sesungguhnya dan bisa dikatakan puncaknya cinta ada pada cinta pada pencipta atau cinta ilahi.

Baca Juga: Menyelami Makna Makrifat

Teringat sebuah kisah seorang ahli tasawuf atau sufi wanita yang bernama Rabi’ah Al-Adawiyah. Beliau adalah seorang sufi wanita pencetus ajaran cinta ilahi. Cinta ilahi dalam literatur islam disebut mahabbah. katanya beliau rela habiskan masa hidupnya dalam keadaan perawan demi untuk mengabdi dan beribadah sepenuhnya kepada sang pencipta. Saking cintanya Rabi’ah kepada Allah SWT sehingga ia tak sisakan ruang dimensi hatinya pada seseorang. Hatinya penuh dengan perasaan cinta pada ilahi. Rabi’ah Al-Adawiyah dalam satu buku tercatat sebagai salah satu wanita muslim yang terkemuka. Dalam buku yang sama tercatat ada seratus orang islam terkemuka dan empat di antaranya adalah seorang muslimah. Selain daripada Rabi’ah, ada sayyidatina Khadijah, sayyidatina fatimah azzahra dan sayyidatina aisyah binti abu bakar.

Dalam ajaran tasawuf cinta pada sang pencipta(mahabbah) adalah puncak dari perjalanan hidup manusia dipermukaan bumi ini. Orang yang cinta pada Allah sebagai bentuknya yaitu dengan mematuhi segala apa yang diperintahkannya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Cinta kepadanya bukan berarti menyibukkan sepenuhnya pada urusan akhirat lalu meninggalkan perkara dunia tapi lebih tepatnya yaitu menyeimbangkan antara keperluan dunia dan kepentingan akhirat. Artinya mematuhi perintahnya secara sederhana atau sedang-sedang saja. Tidak berlebihan seperti puasa setiap hari dan tidak pula berkekurangan seperti meninggalkan sholat lima waktu. Itulah bentuk cinta pada sang pencipta menurut penulis.

Tidak berlebihan dalam hal menjalankan ketaatan dan ibadah, dan tidak pula berlebihan dalam mengerjakan perkara dunia sehingga lupa kampung akhirat. ada sebuah kisah bahwa ketika Rasulullah menjenguk sahabatnya Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang sakit keras, ketika itu Sa’ad berkata: “Ya Rasulullah, saya memiliki banyak harta, dan ahli warisku hanya seorang anak perempuan, bolehkan saya berwasiat untuk mensedekahkan dua pertiga dari hartaku? Rasulullah menjawab: “Jangan”. Lalu Sa’ad bertanya lagi, “Bagaimana kalau saya sedekahkan setengah harta saya” Rasulullah menjawab, “Jangan”.

Lalu beliau bersabda: “sepertiga saja, sungguh jika engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (berkecukupan), hal itu lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain”.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Saw, sesungguhnya beliau bersabda: “Makanlah, minumlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sombong.” (HR. Baihaqi)

Nah kemudian dari Kisah dan hadits diatas sekiranya tampak jelas memberikan pemahaman kepada kita agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadah dan tidak pula berlebih-lebihan dalam urusan dunia alias sedang-sedang saja. Kembali penulis tegaskan bahwa cinta yang sesungguhnya adalah mahabbah(cinta ilahi). Dan wujud bukti cinta pada lawan jenis adalah dengan ijab kabul. Satu hal lagi penulis ingin sampaikan kepada pembaca bahwa hari ini juga hari lahirnya pendiri Nahdlatul Ulama(organisasi keagamaan terbesar didunia) Hadratusysyeikh K.H M. Hasyim Asy’ari. Ilaa ruhi K.H Hasyim Asy’ari al-fatihah.


Abdullah – PMII UIN Alauddin Makassar