Budaya yang Harus Dihilangkan

Buat para pejuang “pemusnah budaya”,

Karena keindahan adalah bagaimana kita menemukan persamaan daripada berdebat karena perbedaan. Jadi, saya mau mencoba menyamakan kesepemahaman tentang budaya yang wajib dihilangkan.

Apa itu?

Pertama saya cukup gelisah dengan mudahnya manusia-manusia Indonesia Raya ini mengomentari sebuah tulisan. Asal berbeda persepsi, langsung dicaci (dikritik, bahasa halusnya). Kalau kita simak di kolom komentar sebuah akun media sosial, komentarnya bisa ratusan hingga ribuan akun. Suatu ketika saya sabarkan diri untuk membaca secara detail komentar satu persatu. Menganalisa psikis umat yang giat berkomentar. Mayoritas hanya komentar basa-basi dan berusaha melucu (meskipun tidak lucu). Padahal harapan saya membaca komentar dengan teknik membalas argumen secara ilmiah.

Berkomentar memang mudah. Berbeda dengan yang membuat ide yang akhirnya dikritisi. Penulis mencari ide, menuangkan tulisan, melihat minat konsumen literasi. Sedangkan pengkritik hanya membutuhkan waktu membaca 2-5 menit yang kemudian dalam beberapa detik meng-counter tulisan yang panjang lebar itu. Apakah mereka yang hobi berkomentar juga suka menulis?

Beberapa saya tanyai, dan herannya mereka belum pernah menulis artikel atau semacamnya. Oh, jika menulis dirasa bukan pekerjaan yang mulia, kenapa kalian habiskan waktu untuk hobi berkomentar dalam sebuah postingan yang menurut kalian tidak cocok dengan pemahaman kalian?!

Budaya media sosial kadang membuat saya tersenyum kecut. Segala eksistensi begitu megahnya untuk dipamerkan kepada semua orang. Dari yang merasa tampan atau cantik, merasa pintar, merasa alim, dan merasa-merasa lainnya. Mungkin kita memaklumi bahwa memang layak pribadi kita “dipamerkan” kepada dunia, bahwa kita yang “paling ter-”.

Baca Juga: Gaya Komunikasi

Belum lagi saya melihat begitu melimpahnya teman-teman yang begitu teliti mengonsep sebuah story entah di WhatsApp, Instagram, atau Facebook. Mereka sibuk menyusun desain, quote sendiri, dan sisi menarik lainnya untuk dilihat 24 jam ke depan. Mengabarkan kepada follower tentang kesehariannya, kesibukannya (meski banyak dimanipulasi), dan (seolah) kebahagiannya.

Indonesia yang katanya negeri paling ramah, paling toleran dan mudah berempati. Tapi kita doyan pamer kepada mereka yang sedang menderita tertimpa musibah atau masalah.

Kembali pada pembahasan awal tadi, bahwa banyak orang yang ingin besar dengan menulis dan mengekspresikan segala bentuk ide, tapi budaya kita yang suka mengkritik, bahkan mencaci sebuah karya. Membuat mereka yang semula bersemangat menjadi down. Bahkan di antaranya menghentikan hobi menulis (pensiun). Sedangkan mereka yang giat berkomentar (selain buzzer) masih akan tetap abadi sepanjang masa.

Apakah berkomentar budaya yang buruk?

Kalau menurut saya tergantung kadar komentar yang disajikan. Di antara yang banyak itu ada juga kok yang berkomentar secara berkualitas. Apalagi kalau ditambah dengan tulisan ilmiah menjawab argumen yang ditawarkan. Ini baru namanya kritik. Bahkan kebebasan menulis bisa untuk melawan sebuah argumen secara satire atau sarkas, tapi tetap tajam mengkritisi sebuah tulisan.

Kita bisa menghabiskan berjam untuk berkomentar, membuat caption, membuat story. Tapi kenapa merasa ada hukum “haram” ketika hanya menyediakan waktu menulis satu atau dua artikel sehari. Alangkah lebih bermartabatnya jika menghasilkan sebuah tulisan yang itu bisa dinikmati atau bermanfaat bagi banyak orang, daripada hanya menulis uneg-uneg kita yang banyak di antaranya “masa bodoh” soal itu.

Menulis memang pekerjaan yang abadi, kata Pramodya Ananta Toer. Tinggal bagaimana kita mengemas keabadian tersebut menjadi spesial dengan membawa banyak manfaat untuk sekitar. Nikmat seorang menulis adalah ketika karyanya dihargai/ diapresiasi, bukan untuk dicaci. Meskipun beberapa di antaranya juga senang dikritisi.

Ibarat bersedekah, ilmu hendaklah juga dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Sehingga manusia tidak tamak untuk konsumsi berlebihan pengetahuan yang didapatkan. Menulis memang tak lantas membuatmu kaya materiil, namun setidaknya banyak yang menilai bahwa dirimu seorang yang kaya hati.

Mari hilangkan budaya mencaci tapi mulai biasakan dicaci melalui sebuah tulisan yang tentu mempunyai banyak aspek dipelajari oleh pembaca. Mulai kurangi budaya banyak komentar tapi lemah pengetahuan, dan mulai dibiasakan budaya menulis untuk kemaslahatan. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, hanya kekurangan orang yang mau dan niat untuk melakukan sesuatu yang besar.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!