#BubarkanBanser

“Hal paling greget apa yang pernah kamu lakukan selama jadi banser”. “Saya bakar bendera bertuliskan lafadz tauhid”.
“Terus?”.
“Yang ngaku islam pada demo semua”.
Yeeeeeeeee

Hah, capek juga yah baca tagar #BubarkanBanser, capek hati ya capek pikiran. Sebenarnya entah apa sih yg di pikirkan !!

Mereka enggak capek apa ya teriak-teriak mulu, demo sana sini, gugat sana sini, tuntut sana sini. Enggak pengen tah Indonesia ini hanya satu visi misi dari kebhinekaan yang ada dari dulu sampai sekarang ini ?

Begini-begini, ini kan hampir masuk di tahun politik atau pesta empat tahunan bagi masyarakat indonesia siapakah yang akan terpilih nantinya untuk menjadi nahkoda empat tahun ke depan. Maka sedikit saja tindakan yang bagi kalangan islam anggap salah maka salah, tanpa toleransi, juga tanpa pikiran dingin. Mau diklarifikasi bagaimana pun kalangan islam yang menuntut gak akan menerimanya, tapi entah apa yang sebenarnya mereka inginkan dan mereka tuntut. Tapi arah dari cuitan-cuitan di medsos ini lebih ke pertumpahan darah. Haduh, jangan deh. Saya belum beristri. Hehehe..

Sudahlah, yang namanya perpecahan, pertumpahan darah, ujaran kebencian, memaki-maki, mencaci sana kemari bagi yang mengaku umat beragama pasti tahu lah itu hal yang tidak baik sama sekali.

Dulu, waktu saya kecil pernah didapati satu cerita dari keteladanan Rasulullah yang di setiap harinya ketika beliau berjalan menuju masjid guna melaksanakan salat zuhur (kalo nggak salah) beliau selalu dilempari dengan kotoran hewan di setiap harinya, seketika beberapa hari perlakuan demikian tak lagi menimpanya, beliau justru bertanya-tanya kemana sih orang yang melemparinya dengan kotoran. Setelah ditelusuri ternyata pelaku sedang sakit keras, lalu setelah beliau mendapatkan kabar demikan bergegaslah untuk menjenguknya sembari membawa makanan.

Setibanya di rumah pelaku, berlinang air mata yang tak kuasa dibendung dari pelaku karena Rasulullah adalah orang satu-satunya yang menengok dalam keadaan sakit, bila dilihat dari apa yang telah dia perbuat tidaklah pantas baginya menerima apa yang telah Rasulullah lakukan padanya. Tetapi Rasulullah dengan sabar memberikan nasihat kepadanya dan mendoakannya, yang kebetulan pada waktu itu juga si pelaku memeluk agama islam karena keramahan dan kebaikan yang diberlakukan Rosulullah padanya.

Nah, kalo dipikir-pikir nih. Baca deh tuh tagar #BubarkanBanser, ada korelasinya nggak dengan contoh keteladanan Rasulullah di atas tadi. Kalo nggak ada ya silahkan kamu renungi sendiri.

Bagi saya, tagar di atas hanya berbicara soal kepentingan saja.

Arahnya begini, islam (faham radikal) -> merubah indonesia menjadi negara islam -> dibubarkan pemerintah -> bergerak di bawah permukaan -> muncul kembali pada moment yang tepat.

Pertama, islam. Islam yang dimaksud adalah islam yang kebanyakan menjunjung tinggi Alquran dan hadits nabi, tanpa mau menerima apa itu ijma’, qiyas, bayan, dll. Yang notabene adalah pemahaman demikian hanya faham sak-kleg saja. Tidak pernah menelusuri asbabunnuzul ayat tersebut ketika diturunkan dan tidak memperhatikan asbabul wurudnya.

Dari situlah timbul dengan keinginan untuk merubah Indonesia negara pancasila menjadi Indonesia negara Islam. Apa yang dijadikan isu? Ya pancasila itu yang mereka anggap tidak sama sekali mencerminkan ke-islaman.

Karena ini dianggap gerakan makar, maka pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa ormas tersebut dilarang berada di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah ketika ormas itu dilarang terus masalah selesai sudah??”

Jelas masalah belum selesai, bahkan sampai detik ini sekali pun. Kita ambil satu cerita Nabi Ibrohim dengan Raja Namrudnya. Setalah raja namrud dimusnahkan dari bumi beserta pengikutnya hilangkah ajaran menyembah setan dari bumi ini, jelas tidak. Bisa jadi pengikut raja Namrud telah melarikan diri terlebih dahulu sebelum murka Allah diturunkan, nyatanya sampai sekarang masih ada saja penyembah setan.

Yang ketiga, bergerak di bawah permukaan. Dari kisah Nabi Ibrohim di atas jika memang pengikut raja namrud belum musnah kesemuanya maka jelas, dari apa yang menjadi faham mereka disebar luaskan di tempat baru mereka. Nah, begitu juga dengan faham islam di Indonesia ini yang agak keras. Organisasinya dilarang, tapi apakah memang orang-orang yang faham akan hal tersebut diusir dari indonesia, atau dipindah kewarganegaraan nya dengan yang sefaham mereka, kan tidak to, mereka masih berada di Indonesia.

Oke, sampai sini faham gak ??

Hehehe

Lanjut dengan yang terakhir , mereka akan keluar pada saat moment telah tiba kapan ?

Ketika teman seagama mereka (yang menolak untuk indonesia menjadi negara islam) membuat kesalahan entah sekecil apapun maka di situlah gerakan mereka akan serentak dan berbondong-bondong memperlihatkan wajahnya.

Dari gerakan di atas pasti kepentinganlah yang mereka usung tanpa disadari oleh banyak kalangan, terlebih kalangan islam. Toh untungnya juga ala sih ??

Penulis tidak condong ke ormas sana atau pun ormas yang di sini.

Dari apa yang telah dituliskan di atas bahwa umat islam indonesia sekarang ini sudah tidak lagi menjadi islam yang rahmah, tetapi menjadi agama yang menakutkan.

Kebhinekaan yang eksis dari dulu sampai sekarang seakan tidak lagi gagah dicengkram oleh garuda pancasila.

Maka dari itu, berdamailah hidup yang adem-adem saja. Tidak usah saling cibir sana sini, saling menyalahkan satu sama lain, tidak usah saling tuntut sana kemari. Rasanya penulis jadi was-was dengan ancaman-ancaman yang dilontarkan.

Sudahi saja perceraian antar saudara setanah air ini. Bila melulu masih seperti itu kapan agama islam ini adalah agama rahmatan lil ‘alamin


Nurfajri Silmi – Seni Tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!