Categories: biografiFolkor

KH. Bisri Musthofa: Karya dan Pemikirannya

Share

Bisri Musthofa merupakan satu di antara sedikit ulama Islam Indonesia yang memiliki karya besar. Beliau lah sang pengarang kitab tafsir al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-Aziz. Kitab tafsir ini selesai beliau tulis pada tahun 1960 dengan jumlah halaman setebal 2270 yang terbagi ke dalam tiga jilid besar. Masih banyak karya-karya lain yang dihasilkan oleh KH. Bisri Musthofa, dan tidak hanya mencakup bidang tafsir saja tetapi juga bidang-bidang yang lain seperti tauhid, fikih, tasawuf, hadis, tata bahasa Arab, sastra Arab, dan lain-lain.

KH. Bisri Musthofa dilahirkan di desa Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1915 dengan nama asli Masyhadi. Nama Bisri ia pilih sendiri sepulang dari menunaikan ibadah haji di kota suci Mekah. Beliau adalah putera pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan isteri kedunya yang bernama Hj. Khatijah. Tidak diketahui jelas silsilah kedua orang tua beliau ini, kecuali catatan yang menyatakan bahwa kedua orang tuanya tersebut sama-sama cucu dari Mbah Syuro, seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai tokoh karismatik di Kecamatan Sarang.

Baca Juga: Muhammad Husein Muthohar – Sang Penyelamat Merah Putih

Pendidikan

KH. Bisri Musthofa juga pernah menuntut ilmu di tanah suci Mekah seperti para pendahulunya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bishri Syansuri. Di Mekah, pendidikan yang dijalani KH. Bisri Musthofa bersifat non-formal. Beliau belajar dari guru satu ke guru lain secara langsung dan privat di antara guru-guru beliau terdapat ulama-ulama asal Indonesia yang telah lama mukim di Mekah. Secara keseluruhan guru-guru beliau di Mekah adalah :

  1. Syekh Baqir, asal Yogyakarta. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar Lubbil Ushul, Umdatul Abrar, Tafsir al-Kasysyaf;
  2. Syeikh Umar Hamdan al-Maghriby. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim;
  3. Syeikh Ali Maliki. Kepada Beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab al-Asybah wa al-Nadha’ir dan al-Aqwaal al-Sunnan al-Sittah;
  4. Sayid Amin. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Ibnu ‘Aqil;
  5. Syeikh Hasan Massath. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Minhaj Dzawin Nadhar;
  6. Sayid Alwi. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar tafsir al-Qur’an al-Jalalain;
  7. KH. Abdullah Muhaimin, kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Jam’ul Jawami’(Mastuki HS dan M. Ishom El-Saha: 2013, 73).

Dua tahun lebih KH. Bisri Musthofa menuntut ilmu di Mekah. Beliau pulang ke Kasingan tepatnya pada tahun 1938 atas permintaan mertuanya. Setahun kemudian, mertuanya (Kiai Cholil) meninggal dunia. Sejak itulah Beliau menggantikan posisi guru dan mertuanya itu sebagai pemimpin pesantren.

Sistem Belajar

Dalam mengajar para santrinya, beliau melanjutkan sistem yang dipergunakan kiai-kiai sebelumnya yaitu mempergunakan sistem balah (bagian) menurut bidanganya masing-masing. Beberapa kitab yang diajarkan langsung kepada para santrinya adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Mu’in, Jam’ul jawami’, Tafsir al-Qur’an, Jurumiyah, Matan Imrithi, Nadham Maqshud, Uqudil Juman, dan lain-lain.

Di samping kegiatan mengajar di pesantren, beliau juga aktif pula mengisi ceramah-ceramah keagamaan. Penampilannya di atas mimbar amat memesona para hadirin yang ikut mendengarkan ceramahnya sehingga beliau sering diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan di luar daerah Rembang seperti Kudus, Demak, Lasem, Kendal, Pati, Pekalongan, Blora dan daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai seorang orator atau ahli pidato. Beliau, menurut KH. Saifuddin Zuhri, mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit sehingga menjadi begitu gamblang, mudah diterima semua kalangan baik orang kota maupun desa. Hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, sesuatu yang membosankan menjadi mengasyikkan, sesuatu yang kelihatannya sepele menjadi amat penting, berbagai kritiknya sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan, serta pihak yang terkena kritik tidak marah karena dikesampingkan secara sopan dan menyenangkan.

KH. Bisri Musthofa memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang menonjol adalah KH. Saefullah (pengasuh sebuah pesantren di Cilacap Jawa Tengah), KH. Muhammad Anshari (Surabaya), KH. Wildan Abdul Hamid (pengasuh sebuah pesantren di Kendal), KH. Basrul Khafi, KH. Jauhar, Drs. Umar Faruq SH, Drs. Ali Anwar (Dosen IAIN Jakarta yang sekarang menjadi UIN), Drs. Fathul Qorib (Dosen IAIN Medan), H. Rayani (Pengasuh Pesantren al-Falah Bogor), dan lain-lain.

Baca Juga : Imam Malik bin Annas

Karya-Karya

KH. Bisri Musthofa berhasil menyusun dan mengarang banyak buku. Tetapi, selain karya-karya KH. Bisri Musthofa ditujukan untuk kalangan santri sebagai bahan pelajaran di pesantren yang dipimpinnya, karya-karya beliau juga ditujukan untuk kalangan luas di pedesaan yang aktif mengaji di surau-surau atau masjid di mana beliau sering memberikan ceramah. Karena itu Bahasa yang digunakan beliau dalam karya-karyanya tersebut disesuaikan dengan bahasa yang digunakan para santri dan masyarakat pedesaan, tepatnya menggunakan bahasa daerah (Jawa), dengan tulisan huruf Arab pegon (Arab Jawa), di samping ada beberapa karya yang menggunakan bahasa Indonesia.

Adapun jumlah tulisan-tulisan beliau yang ditinggalkan mencapai lebih kurang 54 buah judul, meliputi: tafsir, hadits, aqidah, fiqh, sejarah nabi, balaghah, nahwu, sharaf, kisah-kisah syi’iran, do’a, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah dan lain-lain. Karyanya yang paling monumental adalah Tafsir al-Ibriz (3 jilid), disamping kitab Sulamul Afham (4 jilid). Adapun bentuk karya tulisan KH. Bisri Musthofa dapat digolongkan kedalam beberapa macam, yaitu bentuk terjemahan, bentuk nadham dan karangan asli dalam bentuk esai.

Karya-karya KH. Bisri Musthofa awalnya dipakai di pesantren Kasingan Rembang untuk kalangan pesantren sendiri. Tetapi, dalam perkembangan berikutnya, karya-karya beliau tersebut digunakan juga di berbagai pesantren di Jawa Tengah, seperti pesantren Lasem, Rembang, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Pekalongan, Ngawi, Tuban dan sekitarnya. Tidak hanya di pesantren pesisir utara Jawa saja, tetapi juga meluas ke pesantren daerah pedalaman seperti Banyumas, Purworejo, Magelang, Yogyakarta bahkan sampai ke Jawa Timur. Dengan demikian tulisan-tulisan beliau mempunyai peran cukup penting dalam proses belajar mengajar di beberapa pesantren tersebut.

Pemikiran

Tidak dapat dipungkiri, di dalam lingkungan kaum muslimin ada dua kecenderungan, yaitu kelompok tekstualis-skripturalistik dan kelompok rasional. Kelompok tekstualis selalu menjadikan ayat Alquran dan hadis apa adanya sebagai dasar argumen berpikir, dan bersikap. Sementara kelompok rasionalis selalu memberikan interpretasi rasional terhadap teks-teks keagamaan berdasarrkan kemampuan akalnya.

KH. Bisri Musthofa tidak termasuk di antara kedua kelompok di atas. Beliau lebih cenderung berada di tengah-tengah antara tekstual-skripturalis dan rasionalis. Sebagaiman terlihat jelas dalam kitab tafsirnya, al-Ibriz, beliau selalu memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat dengan mengambil beberapa pendapat para mufassir disertai dengan argumen-argumen yang beliau berikan sendiri. Dalam kitab tafsirnya itu tidak sedikit ditemukan uraian-uraian yang menyangkut ilmu sosial, logika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.

Di bidang akhlak, KH. Bisri Musthofa termasuk orang yang sangat memprihatinkan kondisi kemerosotan moral generasi muda. Lewat karya-karyanya di bidang akhlak itulah beliau menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada generasi muda. Dalam kitab berbahasa Jawa Washoya Abaa li al-Abna, misalnya, beliau memberikan tuntunan-tuntunan seperti sikap taat kepada oran tua, kerapihan, kebersihan, kesehatan, hidup hemat, larangan menyiksa binatang, bercita-cita luhur dan nasihat-nasihat baik lainnya. Sementara dalam kitab Ngudi Susila dan Mitra Sejati, KH. Bisri Musthofa menekankan sikap humanism, kemandirian, rajin menuntut ilmu dan lain-lain.

KH. Bisri Musthofa memaknai iman dalam pengertian yang sangat luas. Menurutnya iman menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Karena itu dalam berbagai uraiannya mengenai iman, KH. Bisri Musthofa acapkali mengaitkannya dengan persoalan-persoalan ekonomi, sosial, budaya dan hokum Islam. Tetapi, secara umum, karya-karya KH. Bisri Musthofa di bidang ilmu kalam atau tauhid ini menganut aliran Asy’ariyah yang berkembang di lingkungan kaum muslimin Indonesia yang kemudian dikenal dengan aliran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagaimana aliran Asy’ariyah, KH. Bisri Musthofa menempatkan akal dan wahyu secara seimbang.

Sumber: Intelektualisme Pesantren: “Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Keemasan Pesantren”.


Kang Galih – Seni tablig Seniman Nu