Categories: AransemenKajian

Ngaji Pasan #2

Share

Kitab Maulid Al Barzanjiy (Madarijus Su’ud)
KH Abdul Karim (Gus Karim) – Solo
#Bagian 2
————————————————–
“BIOGRAFI SYAIKH JA’FAR AL BARZANJIY”

Kenapa dinamakan barzanjiy? karena dinisbatkan kepada nama kampung di sebuah negara, yang mana negara itu di Madinah. Syaikh Ja’far lahir di Kota Madinah Munawwaroh pada tahun 1128 Hijiriah, kurang lebih sekarang 300 tahun. Jadi kitab barzanjiy itu sudah 300 tahun. Coba bayangkan kitab yang sudah 300 tahun sampai sekarang masih dibaca. Kalau bukan kitab yang bermanfaat tidak mungkin, pasti bermanfaat. Betapa besarnya pengarang itu, betapa ikhlasnya orang yang mengarang itu. Beliau hafal Alquran, beliau menghafalkan Alquran ini di bawah asuhan Syaikh Ismail Al Yamani, tetapi setelah selesai beliau memperbaiki bacaan dan melanyahkan bacaanya kepada Syaikh Yusuf As Sha’idi.

Ini menjadi tradisi kita, tradisi di pesantren kalau sudah katam jangan merasa puas. Istilahnya tabarukan, kalau sudah khatam mencari guru lagi di mana-mana, dalam rangka tahsin dan tajwid (memperbaiki dan memperindah bacaan), bukan berarti kita menomorduakan guru yang pertama, tetapi dalam rangka tahsin dan tajwid tersebut. Agar guru yang pertama ini merasa yang tidak–tidak, maka matur (ijin) kepada guru/ kiai bila ingin melanjutkan ngaji di kiai yang lain. Syaikh Al Barzanjiy juga begitu, khatam selesai, beberapa waktu kemudian beliau bukannya merasa puas, diperbaiki bacaannya. Seperti saya (Gus Karim), saya khatamnya di bapak (KH Ahmad Musthofa) terus dibawa ke Pondok Krapyak, diperbaiki oleh guru – guru di sana.

Termasuk hal yang semacam itu sudah dilakukan oleh ulama–ulama dulu. Nah tradisi yang semacam itu perlu kita ikuti, termasuk tuntunan yang baik pula. Tidak kok setelah khatam selesai kawin, jangan terburu-buru dahulu. Sudah selesai Alqurannya pengen kerja, jangan dulu. Perbaiki Alqurannya dulu, barangkali ada tajwidnya yang salah diulangi dulu.

Syaikh Ja’far tidak hanya mengkaji AlQuran saja, beliau juga mempelajari beberapa ilmu, baik ilmu yang aqliyah atau naqliyah, kutubul fiqh, qiroatul kutub, dia pelajari. Dengan catatan menghafalkan dulu, menghafalkan Alquran dulu baru kitab. Kita harus nyantol loh ini, harus urut. Kita menghafalkan Alquran dulu setelah khatam baru kitab-kitab. Beliau haus dengan ilmu, setelah Alquran selesai lalu mempelajari ilmu–ilmu.

Di Masjid Nabawi itu ada berapa ulama, beliau menyerap ilmu dari ulama tersebut, ilmu nahwu, sharaf, ma’ani, bayani, badi’, khot kaligrafi, bahkan kaligrafi beliau membidangi saking hausnya ilmu, dan juga hisab, fiqh, ushul fiqh, falsafah, hikmah, haibah, lughah, mustholah hadits, tafsir dan ahkam. Semua kitab dipelajari, perlu kita catat dan mudah-mudahan kita diberi semacam ini. Ketika kita menghafal Alquran sudah selesai, lalu mempelajari kitab diberi kemudahan. Amit–amit bila terbalik, orang mempelajari banyak kitab baru menghafalkan, susah rekoso. Bukannya mempromosikan, terserah Anda memilih. Tapi Syaikh Al Barzanjiy semacam itu, menghafal dulu, memperindah bacaan, memperbaiki bacaan, baru kitab–kitab.

Setelah belajar Alquran selesai, mempelajari bermacam–macam kitab. Dalam umur 31 tahun tepatnya pada tahun 1159 H beliau sudah duduk di Masjid Nabawi mengajar ribuan santri. Termasuk mengajar Alquran, kitab. Seakan–akan santri ditantang kamu pengen ngaji apa. Seakan-akan sebuah toko yang tidak akan mengembalikan pembeli, dari yang kecil seperti peniti sampai yang besar ada semuanya, seperti toserba, waserba, kalau dul Karim ini Muserba (Mubaligh Serba Ada). Kalau beliau mendirikan pondok pesantren, santri model apapun, yang membutuhkan ilmu apapun, beliau siap mengajar. Mulai dari gali–gali (preman), ingin belajar ilmu hikmah dilayani, kepengin belajar ilmu thariqah dilayani dengan penuh hikmah. Beliau mengajar penuh nasehat, penuh hikmah, seakan–akan beliau tidak pernah menggurui orang, santrinya dianggap teman. Semua santrinya dianggap teman, itu nasiihan wajihan, beliau tidak merasa menjadi guru dan muridnya tidak dianggap sebagai murid, ya sudah teman. Kalau kita bisa semacam itu, luar biasa.

Al Fatihah
————————————————–
Mauidhotul Hasanah :
KH Abdul Karim Ahmad Musthofa (Gus Karim) – Solo
Sumber :
Dokumentasi Rekaman Ponpes Al Qur’aniy Az Zayadiyy Solo


Fadhel Moubharok – IPNU Sukoharjo