Categories: biografiFolkor

Imam Al Ghazali: Ihya Ulumudin #1

Share

Bersandar pada ajaran Ahlussunah waljamaah – muslim moderat. Ada beberapa ulama yang dijadikan sandaran oleh umat muslim, terutama di kalangan Nahdliyin. Salah satunya yakni, Imam Al Ghazali – Ilmu tasawuf.

Bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghazali. Lahir tahun 450 H di Thusia (salah satu daerah di Khurasan) kemudian meninggal tahun 505 H di tempat yang sama. Beliau berasal dari kalangan keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya penjual pakaian bulu atau wol kemudian menjualnya ke pasar.

Beliau mendapat gelar Al-Ghazali Ath-Thusi sebab ayahnya dulu bekerja sebagai pemintal bulu kambing. Kemudian juga tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Selain itu beliau juga bergelar Asy-Syafi’i karena dia bermazhab Syafi’i.
Ibnu ‘Imad berkata:

شذرات الذهب في أخبار من ذهب (6/ 19)

والغزّالي: هو الغزّال، وكذا العطّاري والخبّازي ، على لغة أهل خراسان. قاله في «العبر» .وقال الإسنوي في «طبقاته» : الغزّالي إمام باسمه تنشرح الصدور، وتحيا النفوس، وبرسمه تفتخر المحابر وتهتزّ الطّروس، وبسماعه تخشع الأصوات وتخضع الرؤوس.

ولد بطوس، سنة خمسين وأربعمائة، وكان والده يغزل الصّوف ويبيعه في حانوته

“Al Ghozzali bermakna Al Ghozzal yakni tukang tenun. Demikian pula Al-‘Atthori yang bermakna tukang parfum dan Al Khobbazi yang bermakna tukang roti menurut istilah penduduk Khurosan. Demikianlah yang beliau katakan dalam kitab Al ‘Ibar. Al Isnawi berkata dalam Thobaqotnya, Al Ghozzali adalah seorang imam yang dengan namanya dada menjadi lapang, jiwa menjadi hidup, tinta-tinta menjadi berbangga ketika menulis namanya, kertas-kertas terguncang mendengar namanya, suara-suara akan jadi khusyuk dan kepala-kepala akan tertunduk. Beliau dilahirkan di Thus tahun 450 H. Ayahnya menenun bulu dan menjualnya di tokonya”

Baca Juga : KH. Bisri Musthofa, Karya dan Pemikirannya

Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Untuk itu Imam Ghazali dititipkan kepada teman ayahnya seorang ahli tasawuf. Harta yang ditanggalkannya cukup sedikit, karena keadaan ayah Imam Ghazali yang hanya bekerja sebagai penenun dan mengunjungi rumah-rumah para alim ulama sekitar untuk menawarkan jasa.

Perjalanan Hidup Imam Ghazali

Sejak kecil Imam Ghazali belajar fikih dengan Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani. Kemudian mengembara mencari ilmu dengan guru Imam Abi Nasar Al-Ismaili di Negeri Jurjan. Juga belajar ke Negeri Nisapur kepada Imam Al-Haramain. Di sana beliau belajar ilmu mantik (logika), falsafah, dan fikih madzab Imam Syafi’i.

“Al-Ghazali itu lautan tak bertepi….”, puji Imam Al-Haramain melihat tanda-tanda ketajaman otaknya. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, dan ahli filsafat Islam yang terkemuka dan banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia.

Baca Juga : Fitnah Imam Bukhari

Setelah Imam Haramain meninggal, Imam Ghazali pergi ke Al-Askar untuk bertemu dengan Menteri Nizamul Muluk dari pemerintahan dinasti Saljuk. Pada tahun 484 M, Imam Ghazali dilantik menjadi guru besar perguruan Nazamiyah. Dalam sekejap beliau begitu dikagumi oleh muridnya berkat pemikirannya yang berilian. Ia pernah memegang jabatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad.

Tahun 488 H, Imam Ghazali pergi ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Setelah itu beliau ke Syam mengunjungi Baitul Maqdis. Kemudian menetap di Damakus – Masjid Umawi -. Sudut kota tersebut kini dikenal sebagai Al-Ghazaliyah.

Saat menempuh jalan sufi itulah, beliau menciptakan karya besarnya, yakni Ihya Ulumudin. Dengan kehidupan yang amat sederhana, beliau melatih diri dengan memperbanyak ibadah dan menempuh jalan yang membawanya kepada kerelaan Allah Swt.

Ihya ulumudin adalah salah satu dari hampir seratus kitab yang dikarang oleh Imam Ghazali. Ihya Ulumudin sendiri bertujuan untuk menghidupkan kembali pengetahuan tentang agama. Kitab yang menjadi intisari dari pemikiran besar Imam Ghazali. Pemilihan judul ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali karena Imam Ghazali merasa pemikiran dan pemahaman ilmu Islam banyak yang teledeor oleh filsafat Yunani. Termasuk pemikiran Aristoteles yang begitu digemari oleh Al Farabi, Ibnu Sina dan lain-lain. Filsafat Yunani pada waktu itu dinamai ‘Ulumul ‘Awail yang artinya pengetahuan orang zaman purbakala.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments