Categories: biografiFolkor

Abu Hasan Al-Syadzili

Share

Nama lengkapnya Άli bin Abdullah bin Άbd. Al-Jabbâr Abu Hasan Al-Syadzili. Sebutan Abû Hasan merupakan nama kunyah (gelar kemuliaan) bagi beliau. Abu Hasan Al-Syadzilikemudian lebih terkenal dengan panggilan al- Syâdzilî. Silsilah keturunannya mempunyai hubungan dengan orang-orang garis keturunan Hasan bin Άlî bin Abi Thâlib, cucu Nabi Muhammad SAW. Silsilah al- Syâdzilî dari Hasan bin Άlî bin Abi Thâlib, kemudian diteruskan kepada Άlî bin Abi Thâlib yang menikah dengan Fatimah, anak perempuan Nabi Muhammad. Oleh karenanya tarekat ini mempunyai silsilah sampai kepada Nabi Muhammad.

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat antara Ibn Athâillâh dengan al- Jami’, mengenai nasab al-Syâdzilî. Ibn Athâillâh menasabkan kepada orang-orang terhormat dan menyatukan nasabnya kepada al-Hasan bin Άlî bin Abi Thâlib. Namun al-Jami’ menasabkan al-Syâdzilî kepada al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Al-Syâdzilî dilahirkan di desa Ghumara, dekat Ceuta, di utara Maroko pada tahun 573 H. Wafat pada 656H/ 1258M, di Humaithra, dekat pantai Laut Merah, dalam perjalanan pulang dari ibadah haji. Adapun mengenai tahun kelahiran al-Syâdzilî,  sebenarnya masih belum ada kesepakatan. Beberapa penulis berbeda pendapat antara lain sebagai berikut: Sirâdj al-Din Abû Hafsh menyebut tahun kelahirannya pada 591 H/1069 M, Ibn Sabbâgh menyebut tahun kelahirannya pada 583 H/1187 M, dan J. Spencer Trimingham mencatat tahun kelahiran al-Syâdzilî pada 593 H/1196 M.

Masa Kecil Abu Hasan Al-Syadzili

Di tanah kelahirannya itulah, semasa kecil beliau belajar dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan agama, sebelum akhirnya beliau mengembara ke berbagai daerah untuk menimba ilmu pengetahuan yang kelak menghantarkan maqam (derajat) beliau menjadi seorang waliyyun min auliyâ‟illâh (termasuk orang-orang yang dicintai Allah), bahkan mencapai derajat quthbil ghouts (pemimpin para wali yang dapat dimintai pertolongan).

Ilmu yang diperoleh bermula dari orang tuanya, kemudian al-Syâdzilî melanjutkan pendidikannya pada seorang ulama besar yaitu Άbd. Al-Salâm Ibn Masyîsy (w. 628 H/1228 M) dan Abû Abdillah M Ibn Kharazim (w. 633 H/1236 M) yang mengajarkan berbagai disiplin ilmu terutama dalam hal spiritual. Kedua murid besarnya adalah murid dari Abû Madyan Syu’aib Ibn al-Husein (1116- 1198)6, lahir di Seville. Beliau adalah ulama besar di Maghribi yang telah mempelajari dan menghafal kitab Ihyâ’ Ulûm al-Dîn karya al-Ghazâlî dan juga murid dari Syaikh Άbd. al-Qâdir al-Jîlânî (w. 561 H/1166 M), sehingga tidak mengherankan jika al-Syâdzilî pun terpengaruh oleh ajaran-ajaran Syaikh Άbd. al-Qâdir al-Jîlânî. Di antara guru-guru al-Syâdzilî, Ibn Masyisy-lah yang sangat mempengaruhi perjalanan spiritual dan kehidupannya.

Adapun kitab-kitab tasawuf yang pernah dikaji oleh al-Syâdzilî dan dikemudian hari ia ajarkan kepada muridnya, antara lain: Ihyâ Ulûm al-Dîn karya al-Ghazâlî, Qût al-Qulûb karya Abû Thâlib al-Makkî, Khatm al-Auliyâ’ karya al-Hâkim al-Tirmidzi, al-Mawâqif wa al-Mukhâthabah karya Muhammad Άbd al-Abbâr an-Nafri, al-Syifa’ karya Qadhli Iyâdh, al-Risâlah karya al- Qusyairî dan Muharrar al-Wajiz karya Ibn Athiah.

Sanad Keilmuan

Menurut Abdul Halim Mahmud (w. 1978 M), al-Syâdzilî mendapatkan berbagai ilmu yang dia peroleh dari gurunya maupun belajar secara autodidak. Al- Syâdzilî terkenal sebagai ahli dalam al-Hadis, penghafal al-Quran, ahli fikih, teologi dan tidak kalah penting adalah ahli dalam ilmu tasawuf. Hal inilah yang memberi pengaruh pada perkembangan pemikirannya dan menjadi seorang guru dan sufi yang mempunyai karomah. Pendapat Abdul Halim, menurut Ardani, agaknya masuk akal dan bisa diterima. Tidak mungkin tanpa pengetahuannya tentang syariat, al-Syâdzilî berpendapat bahwa tidak ada kontradiksi antara syariat dan tasawuf, antara fiqh dengan haqiqah atau antara eksoterik dengan esoteris. Al- Syâdzilî menegaskan, “jika engkau ingin belajar tasawuf maka pelajarilah syariat terlebih dahulu”, sehingga mereka yang ingin masuk Tarekat Syâdziliyah diharuskan mempelajari dan memahami ajaran-ajaran syariat dasar.

Namun demikian, bisa jadi pendapatnya yang moderat dalam masalah hubungan syariat dengan tasawuf ini, diperoleh juga dari guru sufinya, karena menurut data yang diberikan oleh Trimingham bahwa Abû Madyan dan muridnya Άbd. Al-Salâm Ibn Masyîsy adalah sufi yang kokoh mengenai syariat.

Ketika masih berusia muda, al-Syâdzilî meninggalkan kota kelahirannya menuju Tunisia. Beberapa waktu kemudian, dia menjadi seorang teolog beraliran Sunni yang sangat menentang Mu’tazilah. Dia sangat menentang sistem pemikiran Mu‟tazilah yang sangat menghargai akal. Sedangkan dalam fikih, para anggota Syâdziliyah awal mengikuti mazhab Maliki. Hal ini bukan hanya karena al-Syâdzilî sendiri bermazhab Maliki, tetapi Mazhab ini sangat dominan di daerah Maghribi (Spanyol, Maroko, Tunisia). Ketika penyebaran Tarekat Syâdziliyah, berpindah ke Alexandria, Mesir, di daerah ini juga mayoritas penduduknya berpaham Maliki.

Baca Juga: Abu Yazid Al-Bustami

Karya-karya Abu Hasan Al-Syadzili

Dalam kehidupannya al-Syâdzilî tidak menulis ajaran-ajarannya dalam sebuah karya berupa buku maupun risalah tasawuf, begitu juga muridnya, Abû Άbbâs al-Mursî; di antara sebab-sebabnya adalah karena kesibukannya melakukan pengajaran-pengajaran terhadap murid-muridnya yang sangat banyak. Al-Syâdzilî berkata: “Kitabku adalah murid-muridku, merekalah yang menyebarkan ilmu dan tarekatku”. Ajaran-ajaran al-Syâdzilî dapat diketahui melalui risalah tulisan Ibn Athâillâh al-Iskandari, sehingga khazanah Tarekat Syâdziliyah tetap terpelihara.

Meskipun begitu, al-Syâdzilî menyusun rangkaian doa yang berasal dari pengalaman mistis (hizb) yang memuat formula ayat al-Qur’an dan juga inspirasi khas tasawuf. Kumpulan doa ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Dunia Islam. Sejak saat itu, karya beliau menjadi rangkaian doa yang sangat luas pemakaiannya dalam Dunia Islam dan dianggap memiliki keberkatan khusus.

Rangkaian doa ini memiliki nama yang diberikan olehnya sendiri (Abû Hasan Al- Syâdzilî) ataupun oleh orang lain, seperti hizb al-bahr, hizb al-nashr, hizb al-barr atau al-kabir dan lain-lain. Saat ini dapat dijumpai bahwa di banyak pesantren di Indonesia diajarkan hizb al-Syâdzilî itu. Dikatakan bahwa doa-doa tersebut sangat makbul dan Syaikh Abû Hasan Al-Syâdzilî mengakui bahwa dirinya menerima langsung dari lisan Nabi dalam penglihatan spiritual.

Kepribadian Abu Hasan Al-Syadzili

Di antara para tokoh sufi, Abû Hasan al-Syâdzilî adalah seorang yang mempunyai perawakan ideal, warna kulitnya sawo matang, tinggi badannya, jari- jarinya panjang sebagaimana orang Hijaz. Fasih lisannya dan manis tutur katanya. Ia selalu berpakaian mewah saat ia berpergian kemana-mana, lebih-lebih ketika ia pergi ke masjid. Tempat-tempat yang lain (selain tempat kotor) baginya sama seperti masjid.

Al-Syâdzilî agaknya seorang tokoh sufi yang bercorak modern, artinya tidak terlalu meninggalkan dunia. Ia hidup sebagaimana layaknya manusia modern. Bagi al-Syâdzilî, bila seorang memanfaatkan kebahagiaan dunianya, ia adalah orang yang bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Hal ini juga sesuai dengan ajaran Islam yang mengatakan berpikirlah dengan ciptaan-Nya dan jangan memikirkan zat-Nya.

Menurutnya, orang yang memanfaatkan kebahagiaan di dunia akan selalu mencintai Allah SWT. Sebab dengan memikirkan ciptaan-Nya ia akan merasakan betapa agungnya Allah SWT. Al-Ustadz Syekh Άli Salim Άmmar mengatakan: “al-Syâdzilî suka mengenakan pakaian yang paling bagus dan paling mewah, makan makanan yang lezat dan minum minuman yang enak, serta memiliki kuda yang bagus dan cepat.

Beliau juga penunggang kuda yang hebat, seorang ilmuwan yang handal, seorang pejuang di medan peperangan, seorang petani yang membajak sawah, menanam dan memanennya sendiri.” Demikian pula al-Syâdzilî juga terkenal sebagai hamba Allah yang selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus sebagai sosok seorang Muslim yang dicintai oleh Allah SWT.

Ibn Athâillâh al-Iskandari pernah mengatakan dan ini menjadi penjabaran salah satu ajaran Tarekat Syâdziliyah, bahwa barangsiapa mengenakan pakaian, makan makanan yang enak dan minum minuman yang lezat selagi disertai syukur kepada Allah, maka itu tidak sesuatu yang dilarang.

Baca Juga: Imam Malik bin Annas

Pemikiran Abu Hasan Al-Syadzili

Al-Syâdzilî, seorang tokoh sufi yang berasal dari Maghribi dan kemudian hijrah ke Mesir, ia sangat menekankan ajaran tasawuf yang moderat. Ajaran- ajaran tasawufnya sifatnya seimbang, diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus kepada realitas masyarakat. Bahwa seorang salik tidak cukup mendekat kepada Allah saja, tapi juga harus berbakti kepada masyarakat. Menurutnya, sufi bukanlah seorang yang menghindar dari masyarakat, karena sebenarnya beraktivitas sosial untuk kemaslahatan ummat adalah bagian terpenting dari hasil kontemplasi seorang sufi.

Begitu pula, ajaran-ajarannya juga selalu berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah, sebagai sumber tertinggi. Dengan demikian, ajaran tasawufnya dapat dikatakan tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. Karena bertasawuf adalah upaya melatih dan memperbaiki diri agar sesuai dengan aturan-aturan Allah SWT. Tasawuf merupakan latihan-latihan jiwa dalam rangka beribadah dan menempatkannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan Ilahi.

Al-Syâdzilî termasuk juga sufi yang berpandangan bahwa dunia itu hina. Tetapi dengan catatan, dunia yang bisa melalaikan manusia pada tuhannya. Menurutnya, tidak ada larangan bagi seseorang menjadi kaya, milliuner, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimilikinya. Sesungguhnya yang menjadikan seorang hina adalah karena ketergantungannya pada dunia. Seseorang yang memiliki banyak harta dan hatinya tidak tergantung padanya maka dia bisa disebut zahid. Sebaliknya, meskipun tidak mempunyai harta, tetapi jika perhatian terfokus pada harta, orang tersebut tidak bisa disebut zahid.

Konsep Zuhud

Zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan. Karena sifatnya pekerjaan hati maka tidak mesti sifat zuhud itu diukur dari kepemilikan harta. Seorang zahid bisa jadi mempunyai banyak harta. Atas pertimbangan itu dan demi memakmurkan dunia, al-Syâdzilî mendorong para salik agar tetap mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan Tuhan. Pemahaman al-Syâdzilî ini kemudian terimplementasikan, seperti dalam tarekat yang dipimpinnya, al- Syâdzilî yang sebagaimana ungkap Annemari Schimmel, mempunyai pendekatan pragmatis untuk kenyamanan duniawi.

Memang menurut al-Syâdzilî, bertasawuf itu tidak menjadikan sang salik terasing dari dirinya sendiri maupun masyarakat. Dengan demikian, konsep tasawuf yang diajukannya bisa menolak sikap apatis sebagian kalangan modernisme terhadap tasawuf. Menurutnya, tasawuf bukan anti kemajuan, tapi sebaliknya, mendukung perubahan kearah tatanan masyarakat yang lebih baik.

Referensi : Jannah, sa’adatul. 2011. “Tarekat Syadziliyah dan Hizbnya”. Fakultas Ushuluddin. UIN Syarif Hidatullah. Jakarta.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU