Categories: kolase

Bhinneka Tinggal Luka

Share

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Sebelum membaca tulisan ini, alangkah lebih indahnya kalau ditemani lagu Ibu Pertiwi karya Ismail Marzuki di atas. Berteman secangkir kopi dan sebatang rokok menjelang senja.

****

Sore itu aku terbang menuju angkasa. Menuju sebuah singgasana yang tiada usai dipandang. Semerbak harum kasturi. Terbentang tiang-tiang berukir nama pengunjung masing-masing gerbang. Sinar benderang menyebar seisi istana. Seluruh hewan berkumpul saling bercakap. Tanaman berjejer membentuk sebuah koreografi. Lantainya begitu suci. Semua orang berpapasan melempar senyum yang teduh. Raut muka yang santun. Bibirnya tipis bergetar mengucap zikir.

“Namines”, salah seorang perempuan paruh baya memanggilku dari kerumunan jamaah. Dia duduk manis di pinggir singgasana mengayunkan kakinya ke bawah. Di bawah pohon kurma, ditemani segelas madu. Aku mendekatinya dengan rokok disela-sela jari. Topi hitam bertuliskan “djancuk” dan kaos abstrak di seluruh bagiannya.

“Anda, Ibu pertiwi kan?”
Wanita itu, eh perempuan itu senyum anggun membuang tatapan. Dengan pakaian adat nusantara, jari lentiknya tiba-tiba menari mengikuti alunan suara angin. Sesaat kemudian matanya nanar. Setetes air mata jatuh menerpa awan-awan. Diikuti beberapa air mata lainnya.

“Maaf bu,” Aku duduk di samping Ibu Pertiwi dan menundukkan kepala. “Kami merindukan kedamaian seperti yang dulu. Sedangkan setiap saat kami saling berdebat, bertengkar, dan berperang. Ibu, hukumlah keturunanmu ini yang tiada bisa menjaga kesatuan negerimu”

“Dulu sekali,” Ibu Pertiwi mulai menanggapi dengan nada miris dengan mata lebamnya. “Aku begitu bangga membangunkan anak-cucu sebuah negeri. Melahirkan suku, budaya, ras, agama, dan bahasa yang beragam. Ketika itu, aku begitu bahagia dan bangga bisa melihat perbedaan yang bisa disatukan. Sampai ada beberapa Ibu negara lain datang memujiku.”

“Aku hanyalah sebuah Ibu, yang mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk kebahagiaan anak-cucu. Sedangkan bapak berjuang dan berfikir untuk turut membahagiakan kita. Bertempur melawan penjajah, bersiaga siang-malam dari para sekutu, bertani untuk mencukupi kebutuhan seluruh keluarga. Kami (bapak dan ibu) mempunyai tugas masing-masing. Aku hanya ibu, tempat untuk kalian berkeluh kesah, bahagia, dan bebas untuk kalian hancurkan”

“Aku sudah tidak punya kuasa pada negeriku. Hanya mampu berdoa sepanjang waktu untuk kedamaian dan kebahagiaan kalian. Meski setiap hari aku selalu mendengar berita betapa mengenaskan keadaan sekarang. Bertikai demi nafsu dunia. Saling hujat atas nama agama, sedangkan Ibu berjuang untuk kalian bisa saling menghargai, bukan saling menghakimi. Bercerai.”

“Maaf bu, kami tidak tahu berterimakasih”, aku bersimpuh dan mencium tangan Ibu.

“Orang-orang di sini begitu bahagia menjaga istana. Karena mereka sadar tugasnya adalah menjadi penjaga dan pemelihara, bukan malah merusak. Itu yang ada dalam kitab seluruh umat. Agama digunakan untuk manusia bisa berlaku baik. Memang saatnya, sebentar lagi dunia hendak hancur lebur.”

“Jika mereka benar keturunanku, mereka pasti bisa menghargai dan menjaga negeriku. Jika mereka benar mencintaiku, mereka pasti bisa menurunkan ego untuk saling menebarkan kasih sayang dan cita-cita kami dahulu. Jika mereka benar manusia, mereka pasti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat ingin merusak keberagaman. Jika terlalu sulit untuk mencintaiku, paling mendasar cintailah perbedaan di sekitar kalian.”

“Garuda sudah begitu kelelahan mencengkram ayat ‘Bhinneka Tunggal Ika’, bulunya beberapa luntur karena kebohongan yang begitu menyengat di negeri surga itu. Sangsaka juga tidak begitu semangat lagi berkibar. Tiangnya begitu penuh benalu yang bertopeng-topeng. Tak sempat diganti, berani dan suci itu tampak pucat dan lusuh untuk minta diturunkan saja.”

“Maafkan kami bu,” akhirnya aku pun menangis dipangkuan Ibu Pertiwi.

Sambil mengusap rambutku dengan lembut, “Namines, takdir itu tidak bisa diubah, namun nasib ada di tangan kalian. Sekarang, lakukan kebaikan dan sebarkanlah minimal untukmu dan orang-orang di sekitarmu. Menjaga keberagaman itu susah, apalagi di zaman yang informasi bebas mendoktrin pikiran-pikiran cacat manusia.”

“Sekali lagi, aku minta maaf bu… kami telah dengan tidak sopan mengubah semboyanmu menjadi Bhinneka Tinggal Luka”

Jika tidak bisa menebarkan kasih sayang dan cinta, jangan meracuni manusia lain dengan kebencian. Kasian Ibu Pertiwi yang susah payah membangun tapi kita hancurkan dan tinggalkan luka untuk negeri yang amat istimewa, Indonesia Raya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU