Berkelanalah, Namines!

Sudah beberapa tahun aku berdiam merenung di istanaku. Ibuku yang selalu berharap aku tinggal, sedangkan bapakku tak henti menyuruhku berkelana. Mengejar ilmu tidak hanya di lingkungan sekitar, apalagi hanya membaca buku dan beberapa literasi. Bapakku bilang, “Kalau kamu tidak keluar, maka kamu tidak akan menjadi seorang ksatria. Kemudian kamu akan merasa menjadi prajurit”

Sedari kecil, lingkunganku membuat perwatakan untuk selalu menunjukan eksistensi diri. Jiwa-jiwa merasa. Entah merasa pandai, merasa hebat, merasa alim, dan merasa lainnya. Sehingga sifat individualisme ini mencengkram diri setiap manusia di sini. Bahkan aku yang masih selalu ingin menang dan diakui. Sedangkan petuah bapak selalu mengajarkan bahwa kita adalah pusat kebodohan, kehinaan, kekalahan, dan kekurangan lainnya.

Itulah yang mendorong bapak agar aku berkelana dan mencari pengalaman serta pengetahuan. Di sini aku merasa terlalu mudah didoktrin untuk tidak menjadi diriku. Aku yang masih suka ikut-ikutan jika melihat sesuatu yang baik. Apalagi berkaitan dengan agama. Itu adalah yang sedang ingin aku kuasai. Apalagi dengan cerita penuh keindahan dan megahnya surga serta hina dan panasnya siksa neraka.

Demikianlah yang membuatku menjadi buta. Sampai pada akhirnya aku dimarahi bapak karena tidak mampu membedakan mana yang sebenarnya beragama dan mana yang tidak. Demi surga versi orang lain, aku berani memusuhi temanku, menghina orang lain, hingga menuduh orang lain sesat dan sebagainya. Aku sejatinya tidak seperti itu. Pribadi dan lingkunganku menciptakan karakter yang penuh toleran dan berbaik sangka kepada orang lain. Agama seharusnya tidak mencetak pribadi yang seperti itu.

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing“. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]”, Demikian ujar salah seorang agamawan di kampusku. Karena golongannya merasa minoritas, maka petuah itu gencar dijadikan motivasi untuk tetap istiqomah dalam berakidah.

Ketika aku bercerita sama bapak. Sekali lagi saran beliau, “Berkelanalah, Namines!”. Banyak kisah dari beliau, hingga pada akhinya aku akan mencoba memahamkan diri. Ya, mungkin hidupku kurang berkelana. Ketika nanti aku dan akidahku tiba di suatu daerah yang dimana kanjeng nabi dilahirkan, maka aku juga akan membuat petuah demikian. Karena pasti aku akan merasa minoritas. Dan ketika itu, aku akan memperjuangkan akidahku yang saat ini dikatakan sesat dan sebagainya

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan” )


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!