Belajar tentang Hikmah: Sahabat Sejati dan Palsu

Sahabat sejati bisa kita temukan dalam penjara, sebab saat berada di meja makan, semua musuh akan menjelma menjadi seorang kawan.” (Mushliuddin Sa’di Syirazi).

Duhai sahabatku, jika saya bertanya “Sulitkah mencari seorang teman?”. Jawabannya negatif: tidak, tidak sulit. Jawaban itu akan terlontar saat kalian dalam keadaan yang bergelimpang harta. Dengan bekal kemewahan itu, mudah sekali untuk memperoleh sejuta kawan. Dalam bahasa Sa’di, dengan senang hati manusia akan mengelilingi meja makanmu.

Dalam buku Dr.Zaprulkhan, M.Si (2016:2) dikemukakan bahwasannya tidak berlebihan bila sosiolog sekaligus filsuf Prancis ternama, Pierre Bourdieu dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, menyatakan bahwa kapital (modal) ekonomi yang dimiliki seseorang merupakan kapital yang paling mudah dan sangat potensial dikonversikan ke kapital lain, seperti kekuasaan, budaya, politik, dan sosial. Artinya kalau kalian punya uang, kekayaan, dan fasilitas kemewahan dunia lainnya, maka dengan sangat mudah kalian bisa menguasai orang lain (Kapital Kekuasaan), bisa memerintah orang pandai untuk menyelesaikan masalah keilmuan yang tidak mampu kalian selesaikan (kapital budaya), bisa menangani kebijakan-kebijakan politis (kapital politik), dan bisa menciptakan hubungan sosial yang hangat, indah, dan mesra dengan kebanyakan orang (kapital sosial).

Baca Juga : Memanusiakan Manusia

Kemudian, ayo kita kembali pada pertanyaan di atas, bila pertanyaannya diubah, ”Sulitkah mencari seorang teman sejati?” Jawabannya menjadi afirmatif-positif: sulit. Kekayaan duniawi hanya menjadi persahabatan semu. Ibarat gula, kesenangan memang cukup mudah mengundang orang lain, seperti menariknya instingtual alami seekor semut. Jika kalian dalam keadaan bergelimpang harta, seribu musuh pun dapat kalian taklukkan menjadi para sahabat. Akan sangat mudah sekali mengajak orang lain bersenang-senang dalam pesta. Coba kalian mengundang teman-teman kalian pada saat kalian punyak banyak masalah, atau sedang ditimpa musibah. Besar kemungkinan, amat sedikit sekali orang-orang yang mau benar-benar mendengar serta menemani kalian. Karena sangat langka mencari orang yang sudi berbelasungkawa dan menitikkan air mata nestapa.

Coba kita ingat cerita Napoleon Bonaparte, penguasa besar dari Prancis yang memiliki semangat pencerahan. Dikisahkan ketika Napoleon berada di puncak kejayaannya sebagai seorang penguasa, ia pernah berdiri menyampaikan orasi dengan berapi-api di hadapan rakyatnya. Rakyat yang hadir sangat terkesima dan takjub dengan kehebatan Napoleon sehingga nyaris semua yang hadir menyanjung, memuja, dan mengelu-elukan sang penguasa tersebut dengan sangat histeris. Saat itu, si penasehat yang berdiri di samping Napoleon berkata, “Lihatlah Paduka Yang Mulia, seluruh rakyat merasa kagum, bangga, dan begitu mengagungkan kebesaran diri Anda sebagai penguasa mereka.”

Dengan tenang, Napoleon menjawab datar, “Di tampuk kejayaan kekuasaanku ini, aku memang selalu dipuja-puja. Namun kelak saat kemenangan ini terlepas dari genggaman tanganku, saat kerapuhan mulai menyapaku, dan tatkala penguasa baru menggulingkan tahta kebesaranku, mereka semua akan mencibir, mencaci-maki, dan memuntahkan sumpah serapah sebagaimana yang telah terjadi pada para penguasa sebelumku.

Faktanya ternyata bergelimpang harta, punya jabatan tinggi bukanlah jaminan untuk mendapatkan sahabat sejati. Alquran menggarisbawahi prinsip tersebut pada level idealismenya, “Walaupun engkau belanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya engkau tidak akan bisa mempersatukan hati mereka.”(QS. 8:63).

Sahabat sejati adalah atas kepedulian, kesantunan, kebaikan, dan pertolongan yang dia berikan kepadamu berdasar keikhlasan hati. Jadi bukan atas uang atau kemewahan. Janganlah bersenang hati dulu apabila kalian punya banyak kawan. Kalian harus kritis, apakah mereka sahabat sejati atau disebabkan materi semata. Kiranya cukup jelas, jangan kalian berikan materi tapi tawarkanlah hati, bukan kemewahan tapi kebajikan, dan bukan kebanggaan tetapi kearifan.

Dalam buku Dr.Zaprulkhan, M.Si (2016:4) dijelaskan bahwa statemen tersebut, Sa’di bukannya ingin menggeneralisir bahwa hanya dalam kepedihan hidup jiwa-jiwa insan bisa menyatu dalam persahabatan yang sesungguhnya. Sebab ada juga teman-teman hakiki yang terjalin kokoh bersama harta benda, kemewahan duniawi, dan pangkat jabatan. Saat menderitalah kita akan tahu karib sejati kita.

Sungguh tepat, “A friend in need is a friend indeed; Seorang sahabat di waktu kesusahan adalah benar-benar sahabat sejati.” Wallahu a’lam bishowab.
Referensi:
Zaprukhan. 2016. Belajar Kearifan Hidup Bersama Jalaluddin Rumi dan sa’di Syirazi. Jakarta: Gramedia.


Novita I.P (Arina Mayanfa’una) – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!