Belajar Mencintai Ustaz Medsos

“Bukankah membenci lebih mudah daripada mencintai?”

Terkadang kita perlu mengkalkulasi perasaan membenci dengan mencintai. Kemudian kita merenungkan. Beberapa di antaranya ada pertanyaan lucu, “Kenapa saya lebih semangat diajak berghibah?”. Tentunya bertujuan untuk membenci seseorang.

Sifat kebencian akan mewujudkan beberapa hal, seperti; cacian, makian, hujatan, marah, ataupun sindiran. Sedangkan agama selalu melarang sifat membenci dan kemudian diajak untuk saling mencintai. Tapi sudahkah kita mencintai seseorang atau sesuatu yang sebenarnya kita benci? Saya pernah membuat sebuah pernyataan ketika diskusi dengan teman-teman baik saya. Salah satu level tertinggi dari manusia adalah mendoakan secara tulus ikhlas orang yang kita benci saat itu, kemudian dalam analogi kekinian adalah bagaimana kita bisa mendoakan kebahagiaan mantan yang sudah bersama orang lain padahal baru putus beberapa minggu yang lalu.

Itulah cinta. Tidak ada kebencian, makian, cacian, amarah, dan sifat iri dengki lainnya. Mencintai itu ketulusan dan keikhlasan, bukan bentuk karena ingin mendapatkan sesuatu dari yang kita cintai. Kalau masih susah mencintai orang lain, minimal paksalah diri untuk lebih bisa mencintai diri sendiri. Mencintai diri dari tidak merusak perasaan dengan sifat-sifat yang dilarang dalam agama.

Mencintai Ustaz Medsos?

Tidak dapat dipungkiri bahwa ustaz medsos begitu dahsyat bersliweran di lini massa. Mereka juga mempunyai kepribadian dan cara dakwah masing-masing. Ada dengan tipe orator/ menggebu, ada yang halus dan toleran, ada yang melawak atau melucu, ada juga yang menyeramkan. Semua mempunyai tipe masing-masing untuk eksistensi keustazannya.

Kalau dalam koridor dakwah. Seharusnya dakwah itu mengajak, bukan memaksa. Ulama itu ibarat kondektur transportasi umum. Mereka menawarkan kendaraan yang nyaman, cepat, dan sampai tujuan. Walaupun melalui jalan yang berbeda-beda sesuai jalur yang ditentukan. Penumpang pun bisa bebas memilih kondektur dan kendaraan mana yang ingin diikuti atau ditumpanginya. Dalam tatanan seperti ini, seharusnya penumpang bisa lebih gampang menentukan, siapa yang benar-benar kondektur, dan siapa yang menjadi kondektur yang abal-abal.

Kalau saya pernah mendengar tausiah Habib Quraish Shihab, beliau memberikan tips memilih ulama. Analoginya adalah ketika kita akan operasi wajah, siapa dokter yang akan kita pilih? Mungkin ada yang menyarankan dokter A, karena track record sebelumnya. Semakin lama dia bergelut dalam operasi wajah, maka dia akan semakin dipercaya. Menjadi lucu kalau kia melakukan operasi wajah kepada dokter yang baru saja lulus kuliah kedokteran. Atau lebih satire lagi, masak iya kita mau melakukan operasi wajah kepada dokter yang wajahnya “amburadul”.

Bukannya bermaksud mendiskreditkan ustaz jaman sekarang yang sudah viral dikalangan pemuda hijrah. Namun kadang miris melihat metode dakwah dengan pertanyaan selembar kertas yang kemudian dijawab sejadinya. Saya menggunakan kata sejadinya, karena pertanyaan yang diajukan tidak sesuai kapasistas beliau sebagai ustaz, sebut saja pertanyaan seputar kesehatan. Akhirnya jawaban yang terlintas “asal” tanpa referensi atau rujukan yang jelas.

Beda dengan ulama terdahulu yang begitu tawadhu dalam memberikan jawaban atas pertanyaan. Kalau kita bandingkan dengan sesama ulama medsos, kita bisa contoh Gus Mus. Ketika beliau ditanyakan sesuatu hal yang berkaitan agama, beliau tidak asal nyeplos menjawab pertanyaan, meskipun beliau mengetahui jawabannya. Namun karena merasa ada yang lebih kompeten menjawab pertanyaan tersebut, beliau hanya bilang, “Coba kamu bertanya sama kiai A”.

Ini bukan tentang penjelasan benar dan salah. Tapi lebih kepada metode dakwah. Bukankah ada beberapa tingkatan ketika kanjeng nabi menyebarkan islam ketika itu?

Pertama, bersosialisasi atau bermasyarakat. Bisa diterima oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Tingkatan pertama dalam metode dakwah.

Kedua, memberikan tauladan dengan perilaku yang baik. Sifat melekat kanjeng nabi; sidiq, tablig, fatonah, dan amanah.

Ketiga, tahapan selanjutnya adalah mengajak. Mulailah menyampaikan ajaran islam yang rahmatan lil’alamin. Sekali lagi mengajak, bukan memaksa.

Keempat, tahapan terakhir adalah dengan ancaman atau hukuman. Ayat Alquran yang berupa azab, siksa, dan sebagainya.

Fenomena hijrah saat ini yang terjadi adalah metode dakwah langsung by pass ketingkatan ke empat. Ancaman. Jika ini dan itu dilakukan akan menimbulkan sirik, sesat, bidah, neraka dan lain sebagainya. Sehingga orang akan menjauhi hal tersebut. Lebih simple lagi, ancaman bagi yang mengumbar aurat dengan berbagai dalil bertebaran. Akhirnya banyak tren bercadar, menghapus foto di medsos, dan lain sebagainya. Sekali lagi ini bukan metode dakwah yang benar atau salah. Tapi ini pilihan yang terpaksa dihadapi di era digital saat ini.

Kalau saya masih tetap berpendapat seperti ajakan Gus Dur, “Semakin banyak ilmu, kamu akan semakin toleran”. Jadi silahkan belajar sebanyak-banyaknya. Jangan hanya karena berbeda dengan faham kita, terus kita membenci ustaz lainnya. Belajarlah mencintai, karena Tuhan mengajarkan kecintaan, bukan kebenciaan. Jika pada fase tertentu ada yang mengganjal dalam penyampaian ustaz medos, silahkan bertanya kepada “dokter berpengalaman”.

Penutup,

Al Faatihah ilaa hadhratii ustaz medsosi, ustaz sunahi, ustaz bid’ahi… Syaiullahilanaa walahumul faatihah…


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

3 tanggapan untuk “Belajar Mencintai Ustaz Medsos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!