Membedah Seniman NU : Apa itu benar? #1

Seandainya bisa berjumpa, pasti begitu indahnya kami bisa diskusi panjang lebar tentang Seniman NU. Apalah daya, hanya segelintir dari ribuan member yang dapat bertatap muka sambil menyeduh kopi di kafe tua. Kiranya tulisan ini sedikit mewakili dari megahnya gagasan komunitas Seniman NU.

Tulisan ini tidak akan membedah seputar tujuan (arah gerak), status, dan deskripsi ringan lainnya. Karena semua sudah sering kali dijelaskan dan jika mau sedikit meluangkan waktu untuk kepo, pasti akan secara gamblang ditemukan. Kali ini saya akan mencoba menerangkan konsep detail Seniman NU yang menginjak usia setahun menebarkan cinta.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Kebenaran Agama

Tagline
Kalau lihat di medsos atau website atau bahkan desain kaos, selalu terpampang tulisan, “kebenaran adalah bekal yang kamu ekspresikan menjadi kebaikan dengan tujuan keindahan” – Muhammad Ainun Najib alias Cak Nun. Apa hubungannya dengan seni? Seniman? NU?

Logika – Etika -Estetika. Logika yang selalu penasaran untuk mencari kebenaran sesuatu. Benar-salah atau hitam-putih. Kemudian etika sebagai sebuah perkataan atau perilaku untuk mencerminkan sebuah kebaikan dari persepsi individu masing-masing. Baik dan buruk. Terakhir adalah estetika, puncak penghambaan diri manusia kepada Tuhannya. Keindahan, menciptakan kedamaian dan kebijaksanaan pengambilan sikap, perilaku, dan keputusan.

Proses pencapaian indah dalam diri manusia adalah puncak tujuan Seniman NU. Menjadikan dan dijadikan indah. Seni berkutat pada keindahan (estetika), sisi lain dari perpesktif biasa. Konservatif terhadap pakem karya dan progresif terhadap ide. Cipta – Rasa – Karsa – Karya.

Semua manusia mempunyai jiwa berkesenian. Mulai dari cara bertutur, sopan-santun, berpakaian, hingga kebiasaan makan atau mandi juga memuat unsur estetis. Mustahil manusia dilepaskan dari sifat seni dalam hidupnya. Perspektif yang muncul adalah bahwa seni itu yang berkaitan dengan musik, tari, teater, wayang, dan lain-lain. Potensi itu timbul jika seseorang mau mengasah jiwa untuk peka terhadap sekitar dan liar dalam mengeluarkan ide atau gagasan. Sejatinya karya seni adalah pengalaman manusia itu sendiri.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Hakikat Baik

Apa itu benar?

Pernahkah kita sudi untuk berfikir tentang makna benar?
Saya kira semua sudah mengerti apa itu benar, sayangnya yang mengerti belum tentu paham. Benar adalah proses mendasar atau awal dalam pencapaian tujuan Seniman NU: Konsep logika.

Benar atau salah. Seperti yang sedang menjadi kegelisan kita bersama. Bahwa yang dicari saat ini adalah jawaban yang instan dari ribuan pertanyaan dan kepenasaran seseorang. Generasi Z, adalah golongan yang melewati fase kebenaran (paska-kebenaran). Sehingga mereka tidak begitu lagi mempertimbangkan, menimbang, dan menganalisis suatu perkara. Jiwa-jiwa ingin berkuasa, menguasai sebuah entitas. Memenangkan sebuah perdebatan dan idealis pada kesamaran.

Hal ini mesti dimaklumi kalau belajar perkembangan zaman yang sudah beralih ke teknologi-informasi. Memanjakan manusia, mulai dari berkirim surat, bertani, ikut pengajian, dan mencari informasi. Bahkan manusia yang hanya berdiam diri di kamar bisa menghasilkan uang, menjadi ustaz dengan kajian-kajian di sosmed, dan lain sebagainya. Teknologi diciptakan untuk membantu manusia semaksimal mungkin.

Kembali pada pertanyaan di atas, apa itu benar? Bagi orang yang serius menggunakan akalnya, tentu tidak akan sehitam-putih itu melihat pernyataan. Misalkan benar itu artinya tidak salah! Syarat mendefinikan sesuatu tidak diperkenankan untuk menegasikan sesuatu yang dipertanyakan.

Seseorang mengatakan kepada saya, “islam itu benar”. Kemudian saya tanya, “benar itu apa?” Dia bingung dan menjawab, “benar itu ya benar”. Maka dari itu seseorang hendaknya tidak hanya ikut-ikutan tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya atau mendekatinya.

Lalu apa itu benar atau kebenaran? Benar adalah kesesuaian pernyataan yang sesuai dengan kenyataan. Pengertian ini pun masih memiliki kemungkinan kesalahan jika belajar filsafat yang lebih radikal. Padahal dalam makna kebenaran itu ada jenis kebenaran korespondensi dan kebenaran koherensi. Jika dibahas akan lebih rumit lagi.

Fase awal tentang logika – kebanaran itu saja begitu luas dan kompleks. Sehingga sangat menggelikan kalau kita masih memperdebatkan tentang kebenaran. Sedangkan di atas itu masih ada unsur baik dan indah. Maka dari itu, kebenaran hendaklah hanya menjadi bekal manusia yang tidak semua harus diekspresikan yang bisa menimbulkan kesan atau dampak yang buruk atau jelek kepada orang lain, bahkan dirinya sendiri.

Logika berkaitan dengan akal pikiran manusia yang selalu aktif dan peka mencari sesuatu yang dianggap baru dan bermanfaat. Sedangkan baik adalah perasaan manusia yang lebih mengandalkan kepekaan rasa dan jiwa empati, tenggang rasa, rendah hati, dan lain sebagainya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!