Antara Benci, Sayang, atau Sangat Sayang ?

Tahun 2018 sudah memasuki bulan Agustus, bulan dimana masa-masa pendaftaran untuk PTN sudah mulai berakhir dan bagi para mahasiswa baru akan lekas meninggalkan masa terindah SMA mereka menuju belantara kehidupan perkuliahan. Perjalanan kehidupan memang baru saja dimulai, namun bagaimana dengan mereka yang masih belum diberi kesempatan mendapatkan apa yang dicita-citakan?

Di satu sisi sebagai kawan, hendak rasanya menghibur mereka yang bisa dibilang kurang beruntung, namun di sisi lain takut dikira sombong atau dumeh. Bahkan dari sisi orang yang gagal pun jelas sangat malas untuk mendengarkan ocehan teman yang tidak ikut merasakan pahit-getirnya kenyataan. Oleh karena itu, saya di sini tidak ingin ceramah ataupun menasehati. Saya hanya ingin berbagi cerita hiburan satu arah kepada para pembaca berdasarkan pemikiran sekaligus pengalaman saya.

Kata hebat tersemat bukan kepada mereka yang ada di kedokteran, pertambangan, peternakan, pertanian, maupun ilmu Alam. Justru ketertarikan dan kekaguman saya terletak pada mereka yang dikatakan oleh kebanyakan orang sebagai “pengangguran”.

Bahasa halus nya adalah gap year. Entah kenapa, istilah ini menjadi momok yang sangat menakutkan khususnya bagi mereka para kelas 12 yang akan menghadapi berbagai pintu untuk masuk ke tingkat perguruan tinggi. Momok tersebut seolah menjadi kenyataan yang membawa beban tersendiri pada bulan-bulan seperti ini.

Ketika membuka pengumuman dan warna merah yang didapatkan, seolah menjadi pemandangan mencekam akan kelas nya bayangan masa depan. Lantas terlintas pemikiran. Tuhan, aku sudah berusaha sekuat tenaga, aku sudah berdoa sepanjang masa, tapi kenapa tak kau kabulkan jua doa saya? Mereka yang semasa SMA tak pernah terlihat mengejar asa dapat masuk dengan begitu mudahnya, tapi kenapa terjadi sebaliknya kepada saya? Apakah ini hukuman, cobaan, atau ujian? Apakah Tuhan sudah tidak sayang kepadaku ?

Lihat, setan bisa masuk dengan mudahnya melalui sempitnya celah kegagalan, secara tidak langsung kita mengoreksi keputusan Tuhan, meragukan kredibilitas dan keadilan Tuhan. Bahkan tanpa angin dan tanpa ada hujan, rasa iri dan prasangka buruk kepada teman muncul seketika itu juga padahal bisa saja usaha orang tersebut lebih besar daripada usaha kita, hanya kita saja yang tidak mengetahuinya.

Emang gimana sih rasanya?

Sedih, iya. Susah, iya. Malu, ini apalagi luar biasa hebat rasanya. Ketika sebagian sibuk mengeluh dengan tugas maba dan twibbon mereka, sebagian yang lain sibuk merenungi nasib dan enggan bersosial media.

Tuhan tidak sayang ? Bagaimana mungkin Tuhan tidak sayang padahal Ia adalah Maha atas segalanya, teman mu saja merasa kasihan masa Tuhan tidak? Bahkan dari sekian banyak nama Tuhan yang disebut bahkan sampai 2x dalam ibunya Alquran adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, (untuk lebih jauhnya tidak akan saya bahas di sini, Insyaallah lain waktu dan lain tulisan)

Padahal jika mau berpikir ulang dan melihat lebih ke depan, tak hanya stagnan pada satu keadaan, menganggur merupakan hadiah istimewa yang tak di dapatkan oleh setiap manusia. Lho, kok bisa ? Oke, mudahnya gini ketika sedang chatingan, kita menulis pesan yang begitu panjang. Sejujurnya lebih seneng langsung di balas, Y, Ok, ya, atau justru lebih seneng ketika udah di read lantas meskipun menunggu sejenak untuk “typing” akan tetapi dijawab dengan panjang kali lebar juga?

Oleh karena itu, bagi yang langsung dijawab doanya, jangan lantas merasa bangga, justru malah introspeksi diri, bisa jadi sedang “di lulu” oleh Tuhan. Memang tak ada yang tau sebuah kejadian itu adalah hukuman atau ujian, namun selalu berprasangka baik lah kepada Tuhan dan menganggap ini adalah ujian untuk menaikkan derajat kita. Yang jelas pesan ataupun doa yang kita panjatkan Insyaallah akan selalu di balas entah bagaimanapun caranya, tidak hanya akan diread saja hehe

Bukankah malah bisa untuk cerita kepada teman-teman ataupun istri dan anak kelak di hari tua tentang masa-masa ini? Wah, dulu ayah ndak bisa langsung kuliah tetapi blablabla. Apakah ada bukti konkretnya dari pernyataan ini ? Lihat saja mereka yang selama SMA pernah membuat atau ditimpa beberapa kejadian entah memalukan, menakutkan, maupun mengesankan. Pasti jelas berbeda dengan mereka yang hanya stagnan saja.

Memang saat menjalaninya ketika itu terasa sangat berat, akan tetapi ketika semua sudah berlalu, bukankah hal tersebut malah menjadi cerita yang tak pernah membesarkan untuk diulang-ulang? Oleh karenanya, ya harus di syukuri pemberian Tuhan yang satu ini.

Halah, masnya enak ngomongnya, emang situ pernah nglakuin?

Wew jangan salah ya, saya bisa bicara karena saya telah mengalaminya, yap saya adalah lulusan tahun 2017, meskipun tahun 2018 ini Alhamdulillah saya sudah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk meneruskan studi di salah satu PTN di Yogyakarta. Namun, hal tersebut tetap tidak lantas menghilangkan titel masa lalu saya sebagai seorang pengangguran. Jangan menyerah hanya karena sekali atau dua kali gagal, karena penulis sendiri sudah mengalami 6 kali kegagalan secara beruntun. Dan usaha yang ke tujuh ternyata baru di ijabah oleh Allah.

Seperti kata orang-orang, setiap orang punya jatah gagal. Maka habiskan jatah gagalmu selagi kau masih muda. Kalau Gus Dur pernah mengatakan kegagalan itu seperti batu-bata. Semakin banyak yang kau miliki, maka akan semakin megah istana yang bisa kau bangun.

Waduh, gimana ya, aku ketinggalan setahun dari temen-temen yang lain. Eits tunggu dulu, apakah menurutmu ilmu hanya bisa didapatkan di bangku sekolah/ kuliah? Tentu saja tidak, justru selama setahun tidak menempuh studi, saya malah mendapatkan banyak pelajaran berharga, beberapa sudah saya tuangkan dalam bentuk tulisan sedangkan yang lainnya masih tersimpan dalam memori dan sedang menunggu saat yang tepat untuk dicurahkan.

Silahkan pelajari apa yang bisa dipelajari, ilmu itu luas kok, saya beri sedikit contoh. Apakah kalian sudah tau apa perbedaan mencolok dari lingkungan di Jalan, Sekolah, dan Pasar?

Apakah hal semacam itu diajari di sekolah? Itu hanya sedikit dari sekian banyaknya ilmu yang telah Tuhan ciptakan. Memang kita semua tidak dapat mengubah masa lalu, namun bukan berarti tak bisa mengusahakan masa depan bukan? Bukankah ketika dilanda masalah Tuhan telah memberi solusi beruba sabar dan salat ? (makna secara panjang lebar akan saya bahas insyaallah dalam tulisan saya di masa mendatang)

Memang ada peribahasa nasi sudah menjadi bubur, tapi bukankah bubur juga enak? Hanya tinggal dari mana kau memandang masalah tersebut, toh orang sakit pun malah hanya boleh makan bubur saja, justru lebih terasa manfaatnya bukan ?

So, bisa ditarik kesimpulan, Tuhan bukannya membenci ataupun hanya sekedar menyayangi kita sebagai hamba-Nya, tetapi Ia justru Sangat sayang pada kita semua.

Jalan Tuhan memang bukan yang termudah, bukan yang tersingkat, tapi pasti yang terbaik


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!