Angel bin Ngeyel

Judul hanya dipahami oleh orang “Jawa”. Silahkan bertanya kepada sanak saudara atau teman yang berasal dari “Jawa” jika susah memahami istilah tersebut. Kata “Jawa” sengaja tak kasih tanda petik, agar pemaknaan tidak ganjil, “Lha Jakarta kan juga termasuk pulau Jawa, Sunda kan juga demikan”. Silahkan diperdebatkan dalam diri sendiri, karena bukan itu yang ingin saya bahas.

Kuy, naik level dikit. Soal keyakinan. Pernah mendengar ilmu ‘nglipet dunyo’ (melipat dunia)? Biasanya terjadi kisah jauh di luar logika, bahwa ada ulama yang setiap minggu bisa jumatan di masjidil haram. Ada juga kiai yang “weruh sakdurunge winarah” – tahu sebelum kejadian. Serta ilmu mistis lainnya. Santri aja juga banyak yang memiliki keahlian demikian, “Tinggal kedip, wanita klepek-klepek”. Katanya untuk bisa mendapatkan sesuatu tersebut harus ada tirakat, istikamah wirid, puasa daud, dan lainnya.

Kalau hal ini saya diskusikan dengan para pemuda yang lagi semangat-semangat belajar agama pasti akan dituduh macam-macam. Dasar dukun! Paranormal! Ilmu hitam! Sesat! Kafir! Musyrik! Semua umpatan muncul. Pun jika ada yang menahan emosinya, pasti dia hanya diam dan membatin, “Omongan sampah! Mana ada orang bisa demikian?!”

Lhawong saya kalau dengar kiai cerita demikian saja juga ngangguk aja, percaya. Meskipun saya tidak memiliki “ilmu” apapun. Jangankan ilmu, nyium bau singkong bakar malam jumat aja udah keringat dingin. Tapi gak tahu kenapa saya meyakini mereka yang bercerita banyak tentang sesuatu yang gaib dan “kanuragan” tersebut. Kalau ini didiskusikan sama mas Khalid Basalamah, pasti langsung dibantah. Dalam kitab beliau kan tidak ada istilah indigo.

Kemudian saya menganalisa dalam diri, kenapa kok saya yakin ulama itu mempunyai “kelebihan” tertentu. Ya, karena maqam kita beda. Kalau saya syariat, maka beliau itu sudah hakekat atau makrifat. Saya anak SD mana percaya kalau kotak hitam pesawat itu berwarna orange. Anak SD akan tetap maido semaido-maidonya jika dijelaskan dengan sesabar-sabarnya. Naluri sih ya kalau orang bodoh dan belum tahu itu ngeyelan.

Kalau kita percaya adanya wali, tentu tidak akan membantah apapun dari cerita sang kiai. Meskipun sang kiai tersebut tidak disebut sang pencerah. Tuhan itu memberikan karomah kepada siapapun hambanya. Tidak melulu kepada mereka yang setiap menit sujud sampai membekas aspal di ujung dahinya. Kalau muslim ingusan seperti kita masih susah menjelaskan karomah dari para ulama yang kadang di luar logika, coba kita pejamkan mata sejenak. Kemudian meyakini diri, “Kok bisa, kanjeng nabi dalam peristiwa isra’ mi’raj dilakukan dalam semalam? Masak kanjeng nabi berbohong?”

“Udah dibilangi berulang kali kok masih ngeyel saja….”

Siapa yang bisa menasehati kita?

Mari kita analisa. Pejamkan mata, tarik nafas yang dalam, renungkan! Sudahkah kita menjadi manusia yang siap dinasehati? Bagi fans berat mas Khalid dan Syafiq Basalamah, mungkin semua ucapannya adalah kebenaran. Pun begitu bagi pengagum Ustaz Abdul Somad, panutan idola dalam beragama. Oiya jangan pula lupakan kakakku tersayang, mas Felix Siau. Bagi jamaah yang sudah menggilainya, maka apapun yang diucapkan adalah fatwa dalam hidupnya.

Sesekalinya mendengar ceramah ulama lain misal Cak Nun, Gus Mus, Gus Muwafiq, KH. Marzuqi Mustamar, Quraish Shihab, Habib Lutfi, bahkan mbah Tedjo, mereka selalu mengkoreksi. Dicari-cari kelemahan untuk menjatuhkan kredibilitasnya sebagai ulama. Perlakuan yang jauh berbeda dengan “ulama-ulama” yang mereka idolai.

Kenapa demikian?

Harusnya ini bisa menjadi penelitian bagi mahasiswa psikologi. Kok manusia kalau sudah fanatik susah banget menerima perbedaan? Misal ada perbedaan suka mencari kelemahan dari lawannya. Semua rujukkan diskusi selalu dari ustaz “anu”. Padahal ada ribuan ustaz yang seharusnya juga bisa dijadikan rekomendasi. “Ah, manusia jaman milenial mana mau cari-cari referensi agar mereka berlaku toleran? Paling cuma follow IG akun “anu” setelahnya dijadikan pedoman dalam hidup dan beragama”

Manusia selalu berusaha menunjukkan eksistensinya. Biar terlihat alim, biar terlihat saleh, biar terlihat sebagai calon penghuni surga. Mereka yang seolah memperjuangkan islam belum sebegitunya memahami islam yang ilmunya seluas cakrawala. Seolah yang paling memahami ilmu agama. Sehingga hak Tuhan diambil alih. “Ini salah, itu salah, kamu salah, mereka salah, aku benar”. Niatnya dikasih tahu, malah balik mengasih tahu. Padahal tahu belum setipis kartu ATM.

Jangan terlalu jauh membahas agama yang beberapa mengakuinya sebagai delusi belaka. Kita belajar sains saja sudah “manut” sama ilmuan yang bahkan kita belum pernah bersalaman sekali pun. “Jarak matahari – bumi adalah 149,6 juta km”. Kita mempercayai saja, tanpa ada jiwa kritis seperti kita mengkoreksi ulama yang berbeda faham dengan kalian. Padahal bisa saja kalian tidak mempercayai penelitian itu, kemudian mengatakan bahwa jarak matahari dan bumi adalah 148,9 juta km. Ah, kalian manusia angel bin ngeyel kok hanya tidak mempercayai sama ulama yang berbeda pandangan sama ulama idola antum?


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

2 tanggapan untuk “Angel bin Ngeyel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!