Menjadi Saleh di Bulan Ramadhan: Menjadi Baik Selama Berbulan ke Depan

Kualitas manusia dinilai dari perbuatannya. Wajah yang elok, kekayaan yang berlimpah dan jabatan tinggi tidak sedikit pun menambah kemuliaan seseorang di mata Allah. Ketenangan hati seseorang juga bergantung pada amal perbuatannya. Karena itu, Allah memberi perhatian lebih pada perintah untuk berbuat baik. Bahkan, Allah mempunyai cara yang indah untuk memotivasi seseorang agar selalu berbuat baik. Sampai tak ada lagi alasan seseorang untuk tidak berbuat baik.

Sebenarnya perbuatan buruk itu dilakukan karena banyak waktu luang. Jika kita sibuk untuk berbuat baik, tidak ada waktu tersisa untuk melakukan hal-hal yang tercela. Munculnya fitnah, mencari kesalahan orang lain, saling menjatuhkan satu sama lainnya, serta berbagai konflik yang terjadi adalah karena tidak ada motivasi untuk berbuat baik. Mari kita lihat, bagaimana cara Alquran sebagai kitab motivasi terbaik mengajak kita untuk selalu berbuat baik.

Ingat kebaikan yang kita terima dari Allah

Allah menggugah hati kita untuk berbuat baik dengan mengingat, bahwa setiap hari Allah selalu mencurahkan kebaikan untuk kita. Sejak mata ini terbuka di pagi hari, Allah telah memberi kebaikan berupa udara yang segar, kekuatan untuk bangun, kemampuan untuk melihat dan semua pemberian yang mustahil dapat kita hitung. “Jika tidak ada perintah atau larangan dari Allah, kita tetap wajib untuk menyembahnya sebagai rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan, begitulah kata mutiara dari Imam Ali bin Abi tholib.”

Sayangnya, manusia sering melupakan kebaikan yang selalu Allah berikan padanya dan benar-benar mengingkari atas segala kenikmatan yang ia dapati secara gratis. Cara efektif untuk mencegah diri dari perbuatan buruk adalah dengan banyak bersyukur dan mengingat kebaikan Allah Swt. Kita renungkan berapa banyak kebaikan yang telah kita terima setiap hari. Kita ingat satu demi satu nikmat yang takkan mampu kita syukuri selamanya. Coba bayangkan, di saat membuka mata esok hari, tiba-tiba pemberian Allah telah dicabut. Mata kita tak bisa melihat lagi, ingatan seketika hilang dan tubuh pun tak dapat digerakkan. Jika kita sering merenungkan kenikmatan ini, masihkah kita bernafsu untuk menyakiti orang lain? Bukankah kita sering melihat seorang yang sehat di sore harinya tiba-tiba lumpuh pada keesokan harinya?

Baca Juga: Puasa, Saleh Ritual Saleh Sosial

Kebaikan itu berada dengan keburukan

Allah menekankan bahwa kebaikan itu jauh berbeda dengan keburukan. Sekecil apapun kebaikan itu, tetaplah jauh di atas keburukan. Walau terkadang keburukan itu tampak indah di mata, begitu menarik hati, tetaplah kebaikan jauh lebih baik. Bahkan kebaikan sekecil apapun tetaplah kebaikan dan keburukan sebanyak apapun tetaplah buruk. 

Allah menjanjikan balasan yang lebih besar.

Kita tidak hanya disuruh untuk mengingat kebaikan Allah dan meyakini: bahwa kebaikan tidak sama dengan keburukan tapi Allah juga menjanjikan sesuatu untuk memotivasi seseorang agar selalu berbuat baik. Kebaikan yang kita lakukan tidak akan menguap hilang sia-sia. Allah berjanji bagi siapa yang mau berbuat baik, dia akan membalasnya dengan yang lebih baik. Dan kalimat “lebih baik” apabila bersumber dari Allah, sungguh kita tak akan mampu membayangkannya.

Orang yang berbuat baik adalah kekasih Allah.

Jika balasan yang berlipat itu belum cukup, Allah punya janji lain yang lebih agung dari balasan kebaikan yang berlipat ganda. Seorang yang mau berbuat baik, Allah akan jadikan dia kekasih-Nya. Budak mana yang tidak ingin dicintai oleh Tuhannya? Hamba mana yang tidak ingin menjadi kekasih Tuhan-Nya? Layaknya seorang kekasih, pasti dia akan menyayangi, melindungi dan membahagiakan kekasihnya. Maha Suci Allah dari segala contoh. Namun kali ini kita tidak lagi membicarakan tentang bilangan ganjaran Allah atas perbuatan baik menusia. Lebih dari itu, perbuatan baik kita lakukan bisa mengantarkan kita menuju maqam kekasih-Nya.

Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.

Kekasih mungkin tak selalu bersama. Bagi seorang yang mau berbuat baik, Allah menjanjikan posisi yang lebih tinggi dari seorang kekasih. Allah berjanji kepada seorang yang selalu berbuat baik bahwa Allah selalu menyertainya. Allah selalu bersamanya. Selalu bersama Allah adalah posisi yang amat agung di atas orang yang dicintai Allah. Lihatlah ketika Musa diperintahkan untuk pergi menghadapi Fir’aun. Nabi Musa merasa khawatir saat akan menghadapi Fir’aun karena dia adalah raja yang terkenal dengan kebengisannya. Musa sangat mengetahui kejahatan dan kebengisan Fir’aun karena dia tinggal bersamanya sejak kecil. Namun kekhawatiran itu segera sirna karena Allah berjanji akan selalu bersama Musa. Fir’aun yang kejam itu tampak lebih kecil  jika Allah menyertai hamba-Nya.

Allah menjanjikan kabar gembira.

Pada puncaknya Allah swt memberikan kebar gembira kepada mereka yang selalu berbuat baik. Jika kita telah menerima kabar baik dari Allah, Tidak ada lagi yang perlu ditakuti dan dikhawatirkan. Orang semacam ini sudah berada di surga sebelum mereka memasuki surga.

Karena hati mereka selalu gembira, tak pernah gelisah dan takut. Karena hati itu selalu dipenuhi dengan kabar gembira dari Allah Swt. Islam tidak datang hanya untuk menjanjikan balasan di akhirat. Islam datang untuk menata kehidupan dunia dan akhirat manusia. Orang yang berbuat baik akan dibalas oleh Allah di dunia sebelum nanti di akhirat.

Baca Juga: Hormati Orang yang Tidak Puasa

Kebaikan itu untuk diri kita sendiri.

Ini adalah cara terakhir yang membuat seseorang tidak bisa mencari alasan lagi untuk tidak berbuat baik. Seorang yang berakal pasti mencintai dirinya. Seorang yang mencintai dirinya pasti ingin selalu berbuat baik untuk dirinya sendiri. Sedangkan Allah telah menjelaskan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan untuk orang lain juga akan bermanfaat untuk diri kita sendiri. Kebaikan yang kita berikan akan kembali pada diri kita sendiri.Karena kebaikan yang kita lakukan bisa saja habis sebelum kita bertemu dengan Allah swt. Berapa banyak kebaikan yang kita lakukan terbakar sia-sia oleh dosa-dosa?

Siapa yang datang membawa kebaikan adalah siapa yang bisa menjaga kebaikannya agar tidak hangus terbakar oleh dosa-dosa selama di dunia, maka dia layak mendapat ganjarannya di dunia maupun di akhirat kelak. Sering kita membangun surga dengan zikir, beramal, berpuasa ataupun bersedekah. Namun semua itu kita hancurkan dalam sekejap dengan mengungkit-ngungkit atau menyakiti hati orang yang menerima.

Oleh karenanya, jagalah kebaikan itu agar tetap hidup hingga kita datang kepada Allah Swt., dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kebaikan-kebaikan benih yang kita tanam. Kita tidak cukup hanya menabur benih dan menunggu hasilnya. Benih itu perlu disiram, dijaga dan diberi pupuk agar tumbuh dan berubah. Begitu pula perbuatan baik. Tak cukup hanya beramal, kita harus menjaga perbuatan itu dimulai dari niat cara melakukannya (sesuai dengan ketentuan Allah) Menjaganya dari riya’, ujub, mengungkit-ungkit atau menyakiti orang lain.

Ditulis dan disarikan ulang oleh Ustaz Luthfi Ahmad Awaluddin, salah satu tim redaksi Buletin Al Moubharok yang juga merupakan praktisi dakwah Islam bidang fiqih dan syariah.


Fadhel Moubharok – IPNU Kabupaten Sukoharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!