Aku Cinta “Tauhid” Kok

Gregetan juga kalau tidak nulis yang sedang viral. Judul dalam kata tauhid sengaja dikasih tanda kutip, agar nanti bisa ditafsirkan secara bijaksana.

Perkenalkan nama saya Joko Yuliyanto, pernah mengajukan diri menjadi Banser tapi tidak diterima karena (mungkin) kasihan melihat bobot saya yang mengenaskan (baca: 45 Kg). Sangat amat tidak proporsional untuk menjadi tentara NKRI. Akhirnya saya dimutasi menjadi pelengkap Ansor di salah satu daerah samping lereng Gunung Lawu.

Klarifikasi. Bahwa saya bukan oknum yang membakar bendera “tauhid” yang saat ini begitu dibela. Mengatasnamakan harga diri Islam. Membakar sama dengan menginjak-injak agama islam. Ya, walaupun menjadi rancu, ketika melihat siapa oknum yang sebenarnya menginjak-injak kalimat “tauhid”. Akhirnya kita diperkeruhkan suasana kedamaian dan penuh cinta dengan isu-isu yang fenomenal. MEMBAKAR KALIMAT TAUHID! PERANG!!!

Edan! Kalau saya posisikan sebagai orang “Islam abu-abu”. Maka saya akan melihat dua pandangan super intelektual dari kedua kubu, yang “hitam” dan yang “putih”. Dalil dipasang dalam setiap broadcast. Perang argumen untuk mencapai kemenangan. Satunya memanfaat situasi dengan menyerang habis-habisan. Satunya melakukan taktik pertahanan dengan man to man marking dan zona defence. Lagi-lagi ditawarkan perang gagasan, pendapat, sudut pandang.

Terlepas dari kelompok mana yang menang. Saya ingin adanya prioritas kedamaian antar sesama, umat muslim. Nah, karena saya berlatar belakang Nahdliyin. Saya akan mencoba sedikit membuka pemahaman buat “simpatisan bendera tauhid”, bahwasanya kami tidaklah membenci atau anti islam. Kami juga menjalankan syariat islam. Kami juga melakukan kegiatan dakwah. Mengasihi sesama. Pembakaran bendera “tauhid” itu mungkin karena ada kausalitasnya. Jangan kemudian disimpulkan dengan informasi abu-abu. Bukankan islam kalian sudah jelas?

Di lain sisi, saya atas nama calon banser juga menyayangkan tindakan sahabat banser di Garut. Meski dialasi dengan simbolisasi tauhid, perlawanan terhadap ormas terlarang, dan sebagainya. Mungkin karena saya yang begitu amat menginginkan kedamaian dan saling merangkul sesama muslim. Jadi segala ekspresi yang akan menimbulkan dampak kecemasan, kegaduhan, dan perpecahan di masyarakat sangat saya tidak harapkan.

Tapi, apalah daya saya. Nahdliyin yang hanya bisa berharap di antara ribuan nahdliyin yang mempunyai perilaku, alasan, dan dasar masing-masing setiap melakukan aksi. Apalagi saya juga masih menanti klarifikasi oknum yang membakar bendera HTI. Sekali lagi saya begitu prihatin ketika islam kembali berbenturan.

Kita tidak akan menemukan titik temu ketika saling ngeyel mempertahankan “pembenaran” kita masing-masing. Termasuk tulisan saya yang berlandaskan opini. Mungkin dari sudut pandang A bisa mengatakan “penistaan agama”, sedangkan sudut pandang B bisa mengatakan “melindungi negara”. Kemudian saya harus kembali belajar lebih serius dalam membedakan agama dan negara!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!